Penutupan tempat pembuangan akhir Piyungan di Yogyakarta pada 2024 lalu mendorong transformasi besar-besaran terhadap sistem pengelolaan sampah di Universitas Gadjah Mada (UGM). Bagaimana cara salah satu kampus paling top di Indonesia ini mengelola sampahnya?
Menurut Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Aset, dan Sistem Informasi UGM, Arief Setiawan Budi Nugroho, ST, MEng, PhD, proses adaptasi tersebut memang tidak mudah. Kampus akhirnya membuat kebijakan internal yang mengharuskan setiap unit UGM memilah sampah.
"Maka kemudian UGM memulai dengan membuat suatu ketentuan, setiap unit harus memilah sampah menjadi tiga kategori. Yang pertama adalah sampah yang bisa di-recycle," ungkap Arief dalam rangkaian pengumuman UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2016 di Universitas Gadjah Mada (UGM), pada Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kemudian yang kedua adalah sampah yang jenisnya adalah organik. Jenis organik ini ada dua sebenarnya, sampah organik yang itu banyak dari kafeteria dan sampah organik yang itu nonsampah-sampah eks makanan, yaitu adalah sampah-sampah sapuan, yang biasanya sampah-sampah sapuannya jumlahnya lebih banyak karena kalau Bapak Ibu tadi lewat di UGM jumlah pohonnya mungkin sudah tidak terhitung ya," jelasnya.
Audiens menanyakan cara UGM mengelola sampah dalam rangkaian pengumuman UI GreenMetric Sustainable University Rankings Indonesia 2016 di kampus UGM, Yogyakarta, Selasa (15/9/2026). Foto: Novia Aisyah/detikcom |
Ia mengatakan sampah-sampah dedaunan kemudian dibawa ke tempat pengelolaan sampah di wilayah UGM dan diolah menjadi kompos. Kemudian, untuk sampah residu, UGM melakukan pemilahan dan pengecekan kembali, apakah tercampur dengan sampah organik.
Arief menyampaikan, UGM juga melakukan pendataan dengan menggunakan sistem digital. Sampah dari setiap unit akan diambil secara terjadwal. Selain itu, ukuran timbunan sampah juga dicatat.
"Kita punya target kinerjanya adalah setiap seiring dengan waktu diharapkan, kecuali sampah guguran daun ya," ucapnya.
Ia menambahkan, setiap unit juga didorong untuk bisa menekan jumlah sampah organik.
"Sampah-sampah organik yang dari kafetaria, aturan kita adalah harus dibawa kembali oleh kafetaria. Akhirnya dikerjasamakan oleh para peternak-peternak yang mungkin punya bebek di rumah, punya, apa namanya, ayam, dibawa pulang dan bisa menjadi pangan tetangga tambahan di rumah mereka," lanjutnya.

