Guru Besar Unair: Gelar Sarjana Tidak Lagi Cukup untuk Dapat Kerja

ADVERTISEMENT

Guru Besar Unair: Gelar Sarjana Tidak Lagi Cukup untuk Dapat Kerja

Nikita Rosa - detikEdu
Senin, 31 Agu 2026 14:30 WIB
Ilustrasi sarjana pengangguran. (Gemini AI)
Foto: Ilustrasi sarjana pengangguran. (Gemini AI)
Jakarta -

Gelar sarjana dianggap sebagai kunci untuk membuka jalan pada pekerjaan yang lebih baik. Namun,anggapan ini mulai terbantahkan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kurang lebih ada satu juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia yang masih mencari pekerjaan. Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (FISIP Unair) Prof Dr Bagong Suyanto melihat fenomena ini sebagai persoalan antara tingkat pendidikan, kualitas pekerjaan, dan besaran penghasilan.

Idealnya peningkatan pendidikan sejalan dengan peningkatan kompetensi, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan. Namun, realitas di Indonesia belum menunjukkan pola tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Lulusan perguruan tinggi masih dapat menemukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan maupun kompetensi yang mereka miliki," ujar sosiolog pendidikan itu dalam laman Unair dikutip Minggu (30/8/2026).

Prof Bagong menilai salah satu persoalan terletak pada ketidaksesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan keterampilan di dunia kerja. Akhirnya, tidak semua lulusan mampu memenuhi tuntutan pekerjaan yang tersedia.

ADVERTISEMENT

"Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya," jelas Prof Bagong.

Tidak Selalu Berkaitan dengan Kemampuan Sarjana

Menurutnya, kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan lulusan. Arah pembangunan ekonomi juga menentukan seberapa luas lapangan kerja yang tersedia. Oleh karena itu, Prof Bagong mendorong perubahan orientasi pembangunan dengan lebih mengembangkan industri padat karya.

Selain itu, Prof Bagong mengingatkan pentingnya memperhatikan kualitas pendidikan. Ia menekankan agar penambahan jumlah sarjana tidak akan berarti jika perguruan tinggi tidak mampu mempertanggungjawabkan kualitas lulusannya.

Pendidikan tinggi perlu memastikan proses pendidikan menghasilkan kompetensi yang sesuai. Perkuliahan perlu membekali mahasiswa dengan kemampuan yang relavan dan mampu beradaptasi dengan perubahan pasar kerja.

"Percuma lulusan sarjana banyak apabila kualitas perguruan tingginya tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya.



(nir/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads