Sarjana Makin Banyak tapi Dapat Kerja Tak Mudah, Ada Apa?

ADVERTISEMENT

Sarjana Makin Banyak tapi Dapat Kerja Tak Mudah, Ada Apa?

Tim detikedu - detikEdu
Jumat, 28 Agu 2026 10:01 WIB
Pencari kerja memindai kode batang di sebuah stan yang menyediakan lapangan kerja pada pameran bursa kerja di GOR KONI Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (18/6/2026). Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketenagakerjaan menggelar pameran bursa kerja yang menyediakan sebanyak 2.361 lowongan pekerjaan dari 20 perusahaan yang digelar sebagai wadah bagi pencari kerja untuk mendapatkan informasi lowongan pekerjaan sekaligus pemenuhan lapangan kerja profesional di Kota Bandung. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/foc.
Pameran bursa kerja Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Jakarta -

Gelar sarjana selama ini dianggap sebagai salah satu jalan untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Semakin tinggi pendidikan, semakin besar pula peluang seseorang memperbaiki kualitas hidupnya.

Namun, kenyataan di Indonesia menunjukkan persoalan yang berbeda. Jumlah lulusan perguruan tinggi terus bertambah, tetapi mendapatkan pekerjaan yang sesuai pendidikan dan kompetensi tidak selalu mudah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 1 juta lulusan perguruan tinggi di Indonesia masih mencari pekerjaan.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan jika semakin banyak orang mengenyam pendidikan tinggi, mengapa pekerjaan justru tidak semakin mudah didapat?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (Unair) sekaligus Sosiolog Pendidikan, Prof Dr Bagong Suyanto Drs MSi, melihat persoalan ini berkaitan dengan hubungan antara tingkat pendidikan, kompetensi, kualitas pekerjaan, hingga penghasilan.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, secara ideal peningkatan pendidikan seharusnya diikuti dengan meningkatnya kompetensi, kualitas pekerjaan, dan kesejahteraan. Namun, pola tersebut belum sepenuhnya terjadi di Indonesia.

"Lulusan perguruan tinggi masih dapat menemukan pekerjaan yang tidak sejalan dengan pendidikan maupun kompetensi yang mereka miliki," ujarnya dikutip dari laman Unair, Jumat (28/8/2026).

Gelar Sarjana Tak Lagi Jadi Jaminan

Salah satu persoalan yang disoroti Prof Bagong adalah ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia kerja.

Perkembangan industri berlangsung semakin cepat. Teknologi mengubah jenis pekerjaan sekaligus keterampilan yang dibutuhkan perusahaan. Di sisi lain, tidak semua lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang sesuai dengan perubahan tersebut.

Akibatnya, seorang sarjana bisa saja memiliki ijazah pendidikan tinggi, tetapi tetap kesulitan mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan bidang studinya. Bahkan ketika berhasil memperoleh pekerjaan, tidak sedikit lulusan yang akhirnya bekerja di bidang yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan mereka.

"Gelar sarjana tidak lagi dapat menjadi jaminan seseorang untuk memperoleh pekerjaan dan meningkatkan taraf hidupnya," kata Prof Bagong.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan lulusan.

Arah pembangunan ekonomi juga menentukan seberapa luas kesempatan kerja yang tersedia. Karena itu, ia mendorong perubahan orientasi pembangunan dengan lebih mengembangkan industri padat karya.

Dengan begitu, pertumbuhan ekonomi juga bisa menciptakan lebih banyak kesempatan kerja.


Jangan Hanya Kejar Jumlah Sarjana

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah kualitas pendidikan tinggi. Menurut Prof Bagong, Indonesia tidak cukup hanya meningkatkan jumlah masyarakat yang berhasil memperoleh gelar sarjana.

Perguruan tinggi juga harus memastikan lulusan memiliki kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja. Penambahan jumlah sarjana tidak akan banyak berarti apabila lulusan tidak memiliki kemampuan yang relevan.

"Percuma lulusan sarjana banyak apabila kualitas perguruan tingginya tidak bisa dipertanggungjawabkan," tegasnya.

Karena itu, perguruan tinggi perlu terus menyesuaikan proses pembelajaran dengan perkembangan dunia kerja. Kompetensi mahasiswa tidak cukup hanya dibangun melalui penguasaan teori, tetapi juga harus mampu menjawab kebutuhan industri dan perubahan pasar kerja.

"Jangan hanya mengejar jumlah sarjana, tetapi pastikan mereka memiliki kualitas dan kompetensi yang benar-benar dibutuhkan dunia kerja," ujar Prof Bagong.



(pal/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads