Rektor Tepis Imej Kuliah di UI Mahal, Ungkap Dilema Mahasiswa Pas-pasan

ADVERTISEMENT

Rektor Tepis Imej Kuliah di UI Mahal, Ungkap Dilema Mahasiswa Pas-pasan

Cicin Yulianti - detikEdu
Jumat, 21 Agu 2026 16:31 WIB
Rektor UI, Prof Heri Hermansyah
Rektor UI, Prof Heri Hermansyah. Foto: Cicin Yulianti
Jakarta -

Rektor Universitas Indonesia (UI) Prof Heri Hermansyah buka-bukaan perihal biaya kuliah di UI. Ia menepis citra yang tersebar selama ini bahwa kuliah di UI itu mahal. Menurutnya, persepsi tersebut membuat sebagian calon mahasiswa, terutama dari luar daerah, ragu untuk mendaftar ke UI.

"UI misalnya selalu diimejkan mahal karena ada di Jakarta, gaya hidup metropolitan, sehingga mahasiswa yang dari daerah kadang takut untuk kemudian mendaftar di UI karena imej mahal tadi. Padahal tadi UI ini bisa diakses oleh siapa pun dari mana pun," kata Heri kepada wartawan usai acara Wisuda Tahun Akademik 2025/2026 di Gedung Balairung UI Depok, Jawa Barat pada Jumat (21.8.2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Heri menyebut biaya kuliah di UI dimulai dari Rp 500 ribu dan paling mahal Rp 20 juta. Biaya tersebut juga masih bisa disesuaikan dengan kondisi ekonomi terbaru mahasiswa.

ADVERTISEMENT

Fenomena Mahasiswa Ekonomi Pas-pasan

Heri juga mengungkap sebuah fenomena perihal kondisi ekonomi mahasiswanya. Ia menyorot kelompok mahasiswa yang berasal kelas ekonomi menengah atau 'pas-pasan'.

Menurutnya, kelompok ini justru dapat menghadapi dilema dalam membiayai pendidikan. Mereka tidak masuk kategori keluarga miskin yang umumnya memiliki akses terhadap berbagai skema bantuan, tetapi juga tidak cukup kuat secara finansial untuk membayar seluruh kebutuhan pendidikan secara mudah.

Heri mengatakan mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu biasanya lebih mudah memperoleh dukungan karena banyak pihak yang bersedia membantu.

"Dan ini ada satu kata kunci ya, kalau ada mahasiswa pinter, berprestasi, kemudian miskin, itu saya jamin dia pasti nggak bakal kekurangan. Yang mau men-support banyak sekali," kata Heri.

Sebaliknya, kondisi menjadi lebih rumit bagi mahasiswa dari keluarga dengan penghasilan terbatas tetapi tidak masuk kategori miskin.

"Yang agak repot itu yang tadi, biasa-biasa saja biasanya ke bawah gitu misalnya keluarganya banyak sekolah di mana-mana sehingga biaya nggak cukup untuk dibagikan di seluruh keluarganya, misal anaknya ada 5 sekolah semua, penghasilannya pas-pasan," ungkap Heri.

UI Sediakan Dana Abadi

Heri mengatakan bahwa selama ini dukungan dari donatur maupun korporasi sangat melimpah. Hingga kini UI memiliki Dana Abadi yang akan membantu mahasiswa dengan ekonomi pas-pasan tersebut.

"Jadi kita ada beasiswa-beasiswa, baik yang berasal dari Dana Abadi, misalnya ada beasiswa Dana Abadi kita berikan beasiswa Dana Abadi dari yang berasal dari Dato' Sri Tahir misalnya, kita ada beasiswa kepemimpinan untuk misalnya aktivis BEM S1, BEM S2," katanya.

Solusi UKT Berkeadilan

Selain menyediakan berbagai beasiswa, UI juga menerapkan kebijakan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang berkeadilan. Skema ini dirancang untuk mahasiswa yang tengah mengalami krisis ekonomi.

"Inilah yang kemudian kita ada UKT yang berkeadilan, yang kemudian bisa banding (penyesuaian) di tiap semester tergantung dengan kondisi ekonomi mereka," jelas Heri.

UI juga terus menggandeng mitra untuk menarik beasiswa bagi mahasiswa. Mulai dari pemerintah, perusahaan pemerintah, perusahaan swasta, dan lainnya.

"Nah kemudian juga setelah mereka memiliki indeks prestasi (IP atau IPK) tadi, kita bisa bantu mereka untuk mendapatkan beasiswa dari korporasi, dari dunia usaha ataupun dunia industri. Ada banyak perusahaan yang menjadi mitra UI yang menawarkan beasiswa untuk mahasiswa kita dengan persyaratan misalnya beasiswa yang berupa prestasi. Jadi kita dorong mahasiswa-mahasiswa kita," katanya.



(cyu/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads