Gubes Humaniora Rapatkan Barisan Gegara STEM, Fadli Zon Buka Suara

ADVERTISEMENT

Gubes Humaniora Rapatkan Barisan Gegara STEM, Fadli Zon Buka Suara

Nikita Rosa - detikEdu
Selasa, 11 Agu 2026 13:00 WIB
Guru besar humaniora se-RI merapatkan barisan karena fokus pemerintah yang dinilai berpihak ke STEM. Ini tanggapan Menteri Kebudayaan Fadli Zon.
Guru besar humaniora se-RI merapatkan barisan karena fokus pemerintah yang dinilai berpihak ke STEM. Ini tanggapan Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Foto: Nikita Rosa/detikcom
Jakarta -

Guru besar bidang humaniora di Indonesia 'merapatkan barisan' karena fokus pemerintah yang dinilai lebih condong pada sains, teknologi, engineering (teknik/rekayasa), dan matematika (STEM). Pembahasan tersebut muncul saat Konferensi Pers Simposium Nasional Guru Besar Humaniora di Kampus FIB UI, Depok, Jawa Barat, Senin (10/8).

Seperti diketahui, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar terhadap pengembangan bidang STEM.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Prioritas tersebut terlihat dalam sejumlah kebijakan pendidikan, termasuk Beasiswa LPDP yang diarahkan pada prodi STEM, rencana pembangunan Universitas Republik Indonesia (URI), hingga kewajiban pembelajaran koding dan kecerdasan artifisial (AI) di tingkat sekolah dasar.

Guru Besar Ilmu Susastra FIB UI, Prof Manneke Budiman, PhD menyoroti posisi humaniora di tengah hilirisasi dan kecerdasan buatan. Menurut Manneke, dominasi kebijakan yang berorientasi pada STEM menjadi tantangan yang harus dijawab oleh akademisi humaniora.

ADVERTISEMENT

"Ada ancaman nyata, pemerintah memfokuskan STEM, semua bidang ilmu eksakta. Humaniora harus melakukan apa? Harus ada kertas kebijakan pengembangan ilmu ke depan," tutur Manneke.

Menanggapi diskusi ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan bidang STEM di Indonesia masih memerlukan afirmasi. Beda halnya dengan bidang bidang oshum yang telah mencetak para ahli.

"STEM yang perlu afirmasi. Matematika, sains, engineering, dan teknologi. Karena kita dibanding negara-negara lain mungkin dia perlu dorongan. Untuk ahli-ahli roket, ahli rudal, ahli matematika di bidang apa, fisika kuantum. Karena kita harus mengejar itu," ungkapnya ditemui usai Simposium Nasional Guru Besar Humaniora di Kampus FIB UI, Depok, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Menurutnya, bidang sosial, humaniora, seni, agama, dan ekonomi di Indonesia sudah cukup kuat.

"Jadi saya tidak melihat itu ada pertentangan, yang jelas sih justru STEM yang perlu afirmasi," ujarnya.

Ia melihat afirmasi yang diberikan kepada bidang STEM sudah tepat. Dalam pelaksanaannya, STEM juga bisa beririsan dengan bidang soshum. Menteri Budaya itu mencontohkan irisan antara arkeologi dengan carbon dating.

"Saya kira hampir semuanya pasti akan beririsan. Jadi tidak bisa hanya di satu sisi harus pendekatan interdisipliner," jelasnya.

Budayawan itu juga melihat anggaran pemerintah berkomitmen untuk memajukan hal tersebut. Ia menyinggung Presiden yang juga baru memberikan tambahan anggaran riset.

"Presiden memberikan anggaran tambahan, terutama untuk riset yang cukup besar, itu sangat penting saya kira. Tapi bagaimana riset ini juga bisa, menjadi hasilnya itu, bisa dimanfaatkan, bisa diterapkan," jelasnya.



(nir/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads