Fokus Pemerintah STEM di Era AI, Guru Besar Humaniora se-RI 'Rapatkan Barisan'

ADVERTISEMENT

Fokus Pemerintah STEM di Era AI, Guru Besar Humaniora se-RI 'Rapatkan Barisan'

Nograhany Widhi Koesumawardani - detikEdu
Sabtu, 08 Agu 2026 15:01 WIB
Para guru besar bidang ilmu humaniora dalam konferensi pers Simpososium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora di kampus UI Depok, Jumat (7/8/2026)
Para guru besar bidang ilmu humaniora dalam konferensi pers Simpososium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora di kampus UI Depok, Jumat (7/8/2026) Foto: Nograhany WK/detikedu
Jakarta -

Di era kecerdasan buatan (artificial intelligence), pemerintahan Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian besar terhadap pengembangan bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics).

Prioritas tersebut terlihat dalam sejumlah kebijakan pendidikan. Beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau LPDP kini diarahkan lebih besar kepada program studi bidang STEM.

Sementara itu, rencana pembangunan 10 kampus Universitas Republik Indonesia (URI) juga akan menitikberatkan pengembangan bidang sains dan teknologi. Fokus terhadap STEM juga mulai menyasar pendidikan dasar dan menengah. Pemerintah mewajibkan pembelajaran coding dan AI mulai tingkat sekolah dasar pada 2027.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, bagaimana nasib ilmu humaniora di tengah semakin kuatnya orientasi pendidikan pada STEM?

Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Prof Muhammad Luthfi Zuhdi, Lc, MA, PhD, mengungkapkan karakter ilmu humaniora yang lebih banyak berada pada ranah konseptual menjadi salah satu faktor.

ADVERTISEMENT

"Melihat ada sedikit ketertinggalan pengembangan ilmu humaniora dibanding ilmu lainnya, dugaan kami, kalau ilmu humaniora tidak berupa praktik dan pragmatis, lebih ke konsep. Konsep itu dasar," ujarnya.

Hal itu disampaikan Luthfi dalam jumpa media tentang Simposium Nasional Guru Besar (SNBG) Humaniora 2026 di FIB UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (7/8/2026), ditulis Sabtu (8/8/2026).

Ketua Dewan Guru Besar FIB UI Prof Agus Aris Munandar, menilai kondisi tersebut perlu menjadi bahan refleksi dan diskusi bersama kalangan akademisi ilmu humaniora. Ia menegaskan humaniora memiliki posisi fundamental dalam perkembangan berbagai disiplin ilmu.

"Ilmu kami mendasari semua keilmuan dari semua disiplin ilmu di dunia. Ilmu humaniora itu induk keilmuan," ujar Agus yang juga guru besar arkeologi FIB UI ini.

Modal Besar Indonesia dalam Pengembangan Ilmu Humaniora

Adapun guru besar ilmu susastra FIB UI, Prof Manneke Budiman, PhD menyoroti posisi humaniora di tengah dua tren besar yang saat ini berkembang, yakni hilirisasi dan kecerdasan buatan.

Menurut Manneke, dominasi kebijakan yang berorientasi pada STEM menjadi tantangan yang harus dijawab oleh kalangan akademisi humaniora. Karena itu, diperlukan arah kebijakan yang jelas untuk memastikan pengembangan ilmu humaniora .

"Ada ancaman nyata, pemerintah memfokuskan STEM, semua bidang ilmu eksakta. Humaniora harus melakukan apa? Harus ada kertas kebijakan pengembangan ilmu ke depan," tutur Manneke.

Ia mengatakan Indonesia sebenarnya memiliki modal besar dalam pengembangan humaniora, yakni kekayaan budaya. Kekayaan tersebut bahkan menjadi daya tarik bagi masyarakat dari berbagai negara yang ingin mempelajari Indonesia.

Menurutnya, kekayaan budaya nasional semestinya tidak berhenti sebagai materi pertunjukan dalam festival atau karnaval. Nilai-nilai tersebut justru dapat diinternalisasikan dalam setiap kebijakan. "Jangan ini hanya dipamerkan buat festival dan karnaval saja," tegas Manneke.

Ia juga mencontohkan perbedaan pendekatan STEM dan humaniora ketika menghadapi persoalan pembangunan. Misalnya, ketika dua wilayah dipisahkan oleh sungai, pendekatan STEM dapat menawarkan solusi teknis berupa pembangunan jembatan.

Namun, pembangunan tersebut tidak cukup hanya dilihat dari aspek teknis. Humaniora membutuhkan kajian lebih mendalam mengenai dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

"Kalau ilmu humaniora, dikaji dulu, apakah jembatan itu akan berdampak dari segi sosial, ekonomi masyarakat, jangka pendeknya, jangka panjangnya, apalagi sekarang sustainability jadi kata kunci," tutur Manneke.

Manneke menilai perkembangan teknologi dan AI telah mendorong munculnya budaya serba cepat dan instan. Dalam kondisi tersebut, humaniora justru menawarkan pendekatan yang "melawan arus".

Misi humaniora, kata dia, bersifat slowing down. Seperti misalnya mengajak manusia untuk berpikir lebih mendalam. "Perlu slowing down, atau diperlambat supaya akal bisa dipakai lagi," imbuhnya.

Apakah ini berarti ilmuwan humaniora krisis identitas dan eksistensi di tengah pemerintah yang fokuskan STEM di era AI? Apakah akan ada mata pelajaran baru lintas ilmu dari humaniora dan STEM?

Manneke tidak melihat perkembangan AI sebagai alasan bagi ilmuwan humaniora untuk mengalami krisis identitas maupun eksistensi. Sebaliknya, humaniora harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

"FIB bahkan sekarang punya mata pelajaran baru, Humaniora Digital. AI itu hanya tools, tidak boleh menggantikan akal budi manusia. Saat pemerintah menyatakan fokusnya STEM, wah ini lagi krisis ini. Kalau kita sih PD-PD aja," kata Manneke menjawab pertanyaan detikedu.

Para guru besar FIB UI menyadari bahwa perkembangan teknologi merupakan arus yang tidak mungkin dihentikan. Mereka juga memahami alasan pemerintah memperkuat STEM dalam upaya mengejar target Indonesia Emas 2045.

Luthfi mencontohkan keberadaan tenaga ahli teknik Indonesia yang masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara Asia. Prof Luthfi mencontohkan salah satu negara yang sedang moncer di ASEAN, Vietnam memiliki ahli teknik 6 ribu dari 1 juta orang warganya.

Sementara Korea Selatan mencapai sekitar 25.000 ahli teknik per satu juta penduduk. "Korsel apalagi, ada 25 ribu ahli teknik per 1 juta warganya. Sementara Indonesia masih 3 ribu ahli teknik per 1 juta warganya," tuturnya.

Namun, menurutnya, humaniora tidak harus bersaing dengan STEM dari sisi jumlah. Peran humaniora justru dapat diperkuat dari aspek kualitas, terutama dalam membangun dan menjaga harmoni.

Ia mencontohkan sejumlah tokoh nasional yang menurutnya mengedepankan prinsip harmoni dalam mengambil keputusan politik. "Pak Karno, Gus Dur, Habibie semua mundur demi menjaga harmoni daripada lihat Indonesia jatuh dalam perang saudara," tutur Luthfi.

Melihat fenomena ini, guru besar humaniora se-Indonesia merapatkan barisan. Mereka akan melaksanakan Simpososium Nasional Guru Besar (SNGB) Humaniora pertama di Indonesia. SNGB ini akan digelar di FIB UI pada 11-13 Agustus 2026.

"Akan ada 54 peserta dari 33 universitas dan BRIN," tutur Prof Dr Tuty Nur Mutia, guru besar Ilmu Sejarah FIB UI.

SNGB Humaniora ini akan menghadirkan 6 sesi diskusi yakni:

  1. Humaniora Digital dan Humaniora Ekologi
  2. Mitigasi Budaya dan Konservasi Budaya
  3. Kolaborasi Multihelix dalam Humaniora dan Literasi Multikultural
  4. Humaniora untuk Kajian Kebijakan dan Politik dalam Humaniora
  5. Kohesi Sosial dan Relasi Antaretnik
  6. Strategi Pengembangan Humaniora dan Hilirisasi dalam Humaniora

Bidang keilmuwan yang terlibat mencakup sejarah, filsafat, linguistik, susastra, arkeologi, kajian kewilayahan, ilmu perpustakaan dan informasi, cultural studies, antropologi budaya serta ilmu humaniora lain. Hasil utama SNGB Humaniora adalah 2 policy brief yang akan diserahkan pada Kemendiktiristek dan Kemenkebud.

Halaman 3 dari 3
(nwk/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads