Pengukuhan Profesor UT 2026, 6 Akademisi Bahas AI hingga Akses Kuliah

ADVERTISEMENT

Pengukuhan Profesor UT 2026, 6 Akademisi Bahas AI hingga Akses Kuliah

Rahmat Khairurizqi - detikEdu
Kamis, 06 Agu 2026 13:26 WIB
Universitas Terbuka
Foto: Universitas Terbuka
Jakarta -

Enam profesor Universitas Terbuka (UT) memaparkan gagasan tentang masa depan pendidikan dalam Pengukuhan Profesor UT Tahun 2026. Mulai dari pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), pembelajaran matematika, pendidikan anak usia dini, hingga pemerataan akses pendidikan tinggi menjadi isu yang diangkat dalam enam orasi ilmiah tersebut.

Berbagai isu tersebut menjadi benang merah yang menyatukan enam orasi ilmiah dalam Pengukuhan Profesor UT Tahun 2026. Bukan sekadar menandai pencapaian akademik, pengukuhan profesor menjadi ruang bagi lahirnya gagasan yang berangkat dari persoalan nyata dan menawarkan perspektif baru bagi pengembangan pendidikan serta kehidupan bermasyarakat. Sebanyak enam profesor dikukuhkan pada hari pertama Pengukuhan Profesor UT Tahun 2026 yang berlangsung di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Rabu (5/8).

"Pengukuhan ini merupakan bagian dari rangkaian pengukuhan 12 profesor selama dua hari sekaligus menjadi momentum penting dalam peringatan Dies Natalis ke-42 UT yang mengusung tema 'Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri.' Tema tersebut mencerminkan komitmen UT untuk terus menghadirkan inovasi dalam pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh, memperkuat kiprah di tingkat global, serta memberikan dampak nyata bagi kemajuan pendidikan dan pembangunan Indonesia," tulis keterangan resmi UT, dikutip Kamis (6/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berbagai orasi ilmiah tersebut mengangkat persoalan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini, mulai dari pemanfaatan AI dalam pembelajaran, penguatan literasi dan numerasi, pendidikan anak usia dini yang berpusat pada anak, pendidikan politik di era digital, hingga perluasan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat di berbagai daerah.

Perubahan lanskap pendidikan menjadi perhatian Prof. Rahmat Budiman melalui orasi Rethinking Writing Instruction: Scientific Foundations and Future Directions at Distance Teaching Universities. Di tengah meningkatnya kebutuhan akan kemampuan berbahasa Inggris dalam lingkungan global, ia menekankan bahwa keterampilan menulis tidak cukup dibangun melalui penguasaan tata bahasa semata.

ADVERTISEMENT

Menurutnya, menulis merupakan proses berpikir yang membutuhkan latihan, kolaborasi, revisi, dan umpan balik yang berkelanjutan. Dalam konteks pendidikan jarak jauh, Prof. Rahmat menawarkan penguatan desain pembelajaran melalui diagnostik awal, program induksi, pemantauan perkembangan mahasiswa, serta pengelolaan tutorial yang lebih efektif. Ia juga menekankan pemanfaatan AI sebagai pendukung proses belajar tanpa menggantikan peran tutor.

Perspektif tersebut berpadu dengan gagasan Prof. Juhana yang mengangkat tema Humanizing English Language Instruction in The Age of Intelligent Technology: From Adaptive Pedagogy to Transformative Learning. Menurutnya, kemajuan teknologi semestinya memperkaya proses pembelajaran, bukan menggeser nilai-nilai kemanusiaan.

Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris perlu dirancang secara adaptif dengan memanfaatkan teknologi cerdas sebagai alat bantu, sembari tetap memberi ruang bagi pendidik untuk membangun empati, refleksi, kepercayaan diri, dan kemampuan komunikasi lintas budaya.

Jika pembelajaran bahasa menjadi bekal menghadapi dunia yang semakin terkoneksi, maka penguatan numerasi merupakan fondasi penting dalam membangun kemampuan berpikir. Melalui orasi Mengembangkan Pemahaman Aljabar yang Bermakna: Integrasi Teknologi, Pedagogi Konstruktif, dan Etnomatematika dalam Pembelajaran Matematika, Prof. Yumiati memperkenalkan Model Integrasi Pembelajaran Aljabar (MIPAl).

Model tersebut menghubungkan konsep aljabar dengan budaya lokal, permainan tradisional, motif batik, anyaman, serta kehidupan sehari-hari, didukung pemanfaatan teknologi pembelajaran sebagai sarana membangun pemahaman konseptual yang lebih bermakna.

Fondasi pendidikan juga menjadi perhatian Prof. Siti Aisyah melalui model BERLIAN dalam orasinya tentang pendidikan anak usia dini. Di tengah penguatan kebijakan wajib belajar 13 tahun, ia mengingatkan bahwa kesiapan anak memasuki sekolah tidak sepatutnya dipersempit pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung.

Ia menjelaskan pendidikan anak usia dini perlu menjadi ruang yang memerdekakan dan berpusat pada anak. Lingkungan belajar juga perlu mengakar pada budaya lokal, bersifat inklusif, serta bebas dari kekerasan. Melalui pendekatan tersebut, anak didorong untuk mengembangkan rasa ingin tahu, kreativitas, empati, kemampuan berinteraksi, serta tumbuh bersama dukungan keluarga dan lingkungan.

Di luar ruang kelas, tantangan lain hadir dalam kehidupan demokrasi dan ruang digital. Prof. Made Yudhi Setiani mengangkat pentingnya pendidikan politik berbasis pedagogi feminis dalam sistem pendidikan jarak jauh. Berangkat dari isu representasi perempuan dan kekerasan berbasis gender, ia menawarkan pendekatan pembelajaran yang mendorong mahasiswa memahami demokrasi secara lebih reflektif.

Menurutnya, pendekatan tersebut juga mengajak mahasiswa menghargai keberagaman, mengenali ketimpangan relasi kuasa, serta membangun partisipasi sebagai warga digital yang kritis, etis, dan berkeadilan.

Sementara itu, Prof. Milwan memusatkan perhatian pada pemerataan akses pendidikan tinggi melalui model implementasi kebijakan layanan pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh yang adaptif berbasis kewilayahan. Menurutnya, perluasan akses tidak cukup ditopang oleh transformasi digital, tetapi juga membutuhkan layanan yang dekat dengan masyarakat.

Dalam kerangka tersebut, UT Daerah dan Sentra Layanan Universitas Terbuka (SALUT) berperan sebagai simpul layanan yang menghubungkan kebijakan nasional dengan kebutuhan mahasiswa melalui informasi, pendampingan akademik, dukungan teknis, fasilitas belajar, serta kolaborasi dengan pemerintah daerah dan komunitas setempat.

Meski berangkat dari bidang keilmuan yang berbeda, keenam profesor menghadirkan satu pesan yang sama, yakni ilmu pengetahuan akan menemukan maknanya ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan terus berkembang mengikuti perubahan zaman. Berbagai gagasan yang disampaikan menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang proses belajar di ruang kelas, tetapi juga tentang membangun karakter, memperluas kesempatan, memperkuat partisipasi warga, serta menghadirkan layanan yang lebih inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.

Semangat itulah yang menjadi cerminan tema Dies Natalis ke-42 UT, 'Mendunia dengan Inovasi, Berdampak untuk Negeri.' Bagi UT, menjadi perguruan tinggi yang mendunia bukan hanya diukur dari pengakuan dan jejaring internasional, tetapi juga dari kemampuan menghadirkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Melalui pengukuhan profesor tahun ini, UT kembali menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan pemikiran yang relevan dengan tantangan masa kini, memperkaya pengembangan ilmu pengetahuan, sekaligus memperkuat kontribusi pendidikan tinggi Indonesia bagi kemajuan bangsa.



(prf/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads