Memasuki perguruan tinggi merupakan salah satu transisi penting dalam kehidupan. Setelah berhasil diterima di kampus impian, para mahasiswa baru memulai perjalanan dengan penuh harapan sekaligus tantangan. Berbeda dengan saat di sekolah menengah; mahasiswa menghadapi tuntutan yang lebih tinggi, baik dalam kegiatan akademik atau belajar maupun menjalani kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu keberhasilan di perguruan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan intelektual, tetapi juga oleh kemampuan beradaptasi, mengelola diri, dan terus berkembang.
Sebagai ilustrasi, ada dua mahasiswa baru yang lulus dengan nilai tinggi dan diterima di fakultas yang sama. Pada semester pertama, keduanya menghadapi jadwal kuliah yang padat serta tugas yang cukup banyak, sekaligus harus menghadapi lingkungan sosial yang baru. Mahasiswa A mampu menyusun jadwal belajar, aktif dalam kegiatan akademik dan non-akademik, membangun persahabatan dengan teman baru, dan mencari bantuan ketika mengalami kesulitan.
Sebaliknya, mahasiswa B, merasa kewalahan dengan jadwal kuliah dan tugas yang padat, sulit mengatur waktu sehingga sering menunda tugas, enggan bertanya, dan kehilangan motivasi. Meskipun memiliki kemampuan akademik yang setara, hasil yang mereka capai pada akhir semester bisa sangat berbeda. Ilustrasi ini menunjukkan bahwa keberhasilan di perguruan tinggi tidak hanya bergantung pada kecerdasan, tetapi juga pada kemampuan beradaptasi, mengelola diri, dan memanfaatkan berbagai peluang untuk berkembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam psikologi, kemampuan menyesuaikan diri dengan tuntutan akademik, sosial, dan pribadi disebut adaptasi. Namun, tujuan mengikuti pendidikan di perguruan tinggi tidak hanya untuk bertahan menghadapi perubahan. Mahasiswa juga diharapkan mencapai thriving, yaitu kondisi ketika mereka mampu berkembang secara optimal, memanfaatkan berbagai peluang yang tersedia di perguruan tinggi, serta membangun kesejahteraan psikologis selama menjadi mahasiswa. Kita perlu memahami bahwa perjalanan sebagai mahasiswa merupakan proses yang bergerak dari adapting menuju thriving.
Proses tersebut tidak terjadi secara otomatis. Mahasiswa perlu melewati beberapa tahapan yang dimulai dari penyesuaian terhadap lingkungan, tuntutan, dan peran baru sebagai mahasiswa. Tahapan ini perlu dipahami karena menjadi dasar keberhasilan selama menempuh pendidikan tinggi. Sebelum membahas bagaimana mahasiswa dapat berkembang (thriving), penting untuk memahami terlebih dahulu proses adaptasi yang mereka alami pada masa awal perkuliahan.
Adaptasi Dari Masa Remaja ke Emerging Adulthood
Sebagian besar mahasiswa berada pada fase emerging adulthood, yaitu masa transisi dari remaja menuju masa dewasa. Pada tahap ini, mereka mulai lebih mandiri dalam kehidupan sosial dan emosional, meskipun sering kali masih bergantung secara ekonomi kepada orang tua. Masa kuliah menjadi periode penting karena mahasiswa mulai membangun identitas diri, mengeksplorasi minat dan tujuan karier, serta mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Bersamaan dengan proses tersebut, mahasiswa juga menghadapi berbagai tugas perkembangan, seperti belajar mengambil keputusan secara mandiri, mengelola waktu dan emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta bertanggung jawab atas pilihan yang diambil.
Sebagai emerging adult, mahasiswa juga mulai menjalani berbagai peran sosial yang semakin beragam. Selain berperan sebagai mahasiswa, mereka juga tetap menjalankan peran sebagai anak dalam keluarga, teman sebaya, bahkan bagi sebagian individu sebagai pasangan atau anggota masyarakat. Setiap peran tersebut membawa tanggung jawab, tuntutan, dan harapan yang berbeda-beda sehingga kemampuan untuk menyeimbangkan berbagai peran menjadi salah satu tantangan perkembangan yang khas pada masa transisi menuju dewasa. Oleh karena itu, mahasiswa tidak hanya dituntut untuk berhasil secara akademik, tetapi juga perlu mengembangkan keterampilan dalam mengelola waktu, menetapkan prioritas, mengatur emosi, serta menjaga hubungan interpersonal agar dapat menjalankan berbagai peran tersebut secara efektif.
Adaptasi dari Pembelajaran Teacher-Centered ke Student-Centered
Perubahan besar lainnya yang dihadapi mahasiswa terjadi pada sistem pembelajaran. Jika pada jenjang sekolah menengah proses pembelajaran umumnya masih berpusat pada guru (teacher-centered learning), maka di perguruan tinggi pembelajaran berpusat pada mahasiswa (student-centered learning atau SCL). Dalam SCL, dosen berperan sebagai fasilitator yang membimbing proses pembelajaran, sedangkan mahasiswa menjadi aktor utama yang bertanggung jawab atas pencapaian tujuan belajarnya. Pergeseran paradigma ini menempatkan mahasiswa sebagai pembelajar yang aktif, mandiri, dan mampu mengonstruksi pengetahuan baik melalui membaca, diskusi, refleksi, serta kegiatan belajar yang beragam lainnya.
Perubahan tersebut menuntut mahasiswa untuk mandiri dan bertanggung jawab terhadap proses pembelajarannya. Mahasiswa hanya menerima informasi dari dosen, tetapi perlu untuk merencanakan strategi belajar, mencari dan mengevaluasi berbagai sumber informasi secara kritis, berdiskusi secara aktif, menyelesaikan tugas maupun proyek, serta merefleksikan hasil belajar. Sistem evaluasi di perguruan tinggi tidak hanya berdasarkan pada nilai ujian, tetapi juga termasuk keterlibatan dalam kegiatan presentasi, diskusi kelas, penyelesaian tugas/proyek, penelitian, praktikum, dan portofolio. Kondisi ini mengharuskan mahasiswa mempertahankan keterlibatan dalam akademik secara konsisten sepanjang semester.
Selain berorientasi pada pencapaian akademik, penerapan SCL juga menuntut mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi hard skill dan soft skill yang saling melengkapi. Hard skill adalah penguasaan konsep dan teori sesuai bidang keilmuan, kemampuan analitis, keterampilan teknis, serta kemampuan menyelesaikan masalah secara ilmiah. Sementara itu, soft skill mencakup kemampuan komunikasi, kolaborasi, kepemimpinan, berpikir kritis, kreativitas, literasi digital, serta kemampuan belajar sepanjang hayat (lifelong learning).
Pengembangan kedua kompetensi tersebut menjadi bagian integral dari pembelajaran di perguruan tinggi karena bukan hanya untuk keberhasilan akademik, tetapi juga meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi persaingan didunia kerja. Dengan demikian, mahasiswa dituntut tidak hanya memiliki prestasi akademik yang baik, tetapi juga mampu mengintegrasikan kompetensi teknis dan nonteknis agar dapat beradaptasi, berkolaborasi, dan memberikan kontribusi secara optimal dalam konteks profesional maupun sosial.
Dari Adaptasi Menuju Self-Management
Masa adaptasi umumnya berlangsung pada enam bulan pertama perkuliahan. Pada periode ini, mahasiswa belajar mengenali budaya kampus, memahami sistem pembelajaran, membangun hubungan dengan dosen dan teman, serta menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan akademik maupun sosial.
Berbeda dengan masa sekolah yang lebih terstruktur, kehidupan perkuliahan memberikan kebebasan yang lebih besar sekaligus tanggung jawab yang lebih tinggi. Tidak ada lagi guru yang terus-menerus mengingatkan tugas atau mengatur jadwal belajar. Mahasiswa sendirilah yang bertanggung jawab atas proses belajarnya.
Self-management berperan penting bagi keberhasilan di perguruan tinggi. Kemampuan ini mencakup beberapa aspek, yakni:
Pertama, mengelola proses belajar dengan menetapkan tujuan, membuat rencana, memantau kemajuan, dan mengevaluasi strategi belajar.
Kedua, mengatur waktu dan menentukan prioritas.
Ketiga, menjaga kesehatan fisik dan mental melalui pola hidup yang sehat serta strategi mengatasi stres yang adaptif.
Keempat, mengenali kekuatan, kelemahan, dan gaya belajar diri sendiri sehingga dapat memilih strategi belajar yang paling efektif.
Terakhir, belajar dari kegagalan dengan menjadikannya sebagai umpan balik untuk memperbaiki diri, bukan sebagai alasan untuk menyerah.
Dari Self-Management Menuju Thriving
Beradaptasi dan mampu mengelola diri merupakan langkah awal menuju thriving, yaitu ketika mahasiswa tidak hanya mampu menghadapi tantangan, tetapi juga juga berkembang secara akademik, personal, dan sosial. Mahasiswa yang thriving memandang kuliah bukan sekadar proses memperoleh nilai atau gelar, tetapi sebagai kesempatan untuk belajar, membangun karakter, dan mempersiapkan masa depan.
Mahasiswa yang thriving memiliki rasa ingin tahu, tujuan yang jelas, dan motivasi untuk terus berkembang. Mereka mampu mengelola waktu, emosi, dan proses belajar secara mandiri. Ketika menghadapi kegagalan, mereka tidak mudah menyerah, melainkan melakukan evaluasi dan mencoba strategi yang lebih baik. Mereka juga aktif membangun hubungan yang positif dengan teman dan dosen, menjaga kesehatan fisik dan mental, serta memanfaatkan berbagai kesempatan yang tersedia di kampus, seperti organisasi, kepanitiaan, magang, kompetisi, maupun kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Thriving tidak terjadi secara otomatis, tetapi dibangun melalui proses adaptasi serta kemampuan self-management yang baik. Mahasiswa juga perlu terbuka terhadap pengalaman baru, membangun jejaring yang positif, serta melakukan refleksi secara berkala agar terus belajar dari setiap pengalaman yang diperoleh.
Masa kuliah merupakan periode transisi yang tidak hanya mengubah cara belajar, tetapi juga menjadi tahap penting dalam perkembangan menuju kedewasaan. Dari sisi akademik, mahasiswa perlu beradaptasi dengan perubahan sistem pembelajaran dari teacher-centered learning menjadi student-centered learning yang menuntut kemandirian, tanggung jawab, dan keaktifan.
Dari sisi psikologi perkembangan, mahasiswa menjalani fase emerging adulthood, yaitu masa membangun identitas diri, mengembangkan relasi, dan mempersiapkan masa depan. Keberhasilan menjalani transisi tersebut dipengaruhi oleh kemampuan self-management, yaitu kemampuan mengelola proses belajar, waktu, kesehatan, dan diri sendiri secara efektif. Self-management menjadi dasar yang memungkinkan mahasiswa menghadapi berbagai tantangan serta memanfaatkan peluang selama kuliah.
Pada akhirnya, tujuan pendidikan tinggi bukan sekadar membantu mahasiswa bertahan menghadapi tuntutan perkuliahan, tetapi mendorong mereka untuk thriving. Mahasiswa yang thriving mampu memanfaatkan pengalaman kuliah sebagai sarana mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan kepribadian. Singkatnya, adaptasi merupakan titik awal, self-management menjadi fondasi, dan thriving menjadi tujuan akhir. Ketiga proses tersebut saling berkaitan dan membentuk mahasiswa yang tidak hanya pandai secara akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang mandiri, tangguh, dan siap untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat.
*) Dra Ike Anggraika, MSi, Psikolog
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia
Catatan: tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman sebagai dosen pembimbing akademik serta wawancara terhadap beberapa mahasiswa Universitas Indonesia.
Simak Video "Video APK Dikti Masih Rendah, PTN Didorong Tingkatkan Kapasitas Tampung"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)










































