Makin banyak saja kasus-kasus kekerasan terhadap anak akhir-akhir ini. Orang-orang terdekat yang seharusnya menjadi pelindung, sandaran dan pengayom anak, pada beberapa kasus, justru membahayakan anak-anak.
Isu-isu sosial ini membuat Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad) kembali menggelar Epicentrum 2026 bertema tema "Voice Action: Combating Child Maltreatment Through Communication and Community Engagement". Kegiatan ini mengangkat kesadaran dengan menyoroti pentingnya perlindungan anak melalui kekuatan komunikasi dan keterlibatan masyarakat.
Digelar dua hari pada Rabu-Kamis (20-21/5/2026) lalu, Epicentrum 2026 jadi ajang seru buat mahasiswa unjuk kreativitas sekaligus speak up soal isu penting. Pembukaan digelar di Auditorium Pascasarjana Fikom Unpad, Rabu (20/5), makin pecah dengan penampilan Dava Habil, Harisbaya, dan The Prizm yang sukses bikin suasana makin hype. Momen ini jadi kick-off berbagai kegiatan yang penuh semangat kolaborasi dan keberanian generasi muda buat angkat isu perlindungan anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Epicentrum 2026 Fikom Unpad Foto: Dokumentasi Fikom Unpad |
Usai seremoni pembukaan, peserta mengikuti berbagai kompetisi dan presentasi finalis dari enam cabang lomba, yaitu Padjadjaran Public Relations Fair (PPRF), Liblicious, Commoviecator, Ideation, Parade Jurnalistik, dan Research Mindedness. Melalui kompetisi tersebut, mahasiswa didorong untuk menghadirkan ide-ide inovatif sekaligus solusi komunikasi yang relevan terhadap persoalan sosial, khususnya perlindungan anak.
Puncak acara digelar pada Kamis (21/5) lewat Grand Awarding Epicentrum 2026 di Graha Sanusi Hardjadinata, Dipatiukur, Bandung. Momen ini menjadi ajang apresiasi bagi para peserta dan pemenang setelah melewati rangkaian kompetisi, diskusi, dan proses kreatif selama festival berlangsung. Selain pengumuman para juara, acara juga dimeriahkan oleh penampilan MD KMF, Jen, dan Andrea n Friends, serta dipandu oleh Pijay dan Yesya.
Melalui Epicentrum 2026, mahasiswa tidak hanya diajak untuk berkompetisi, tetapi juga didorong menjadi agen perubahan yang aktif meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perlindungan anak, terutama di era digital. Festival ini diharapkan mampu memperkuat peran komunikasi sebagai alat untuk mendorong perubahan sosial sekaligus melahirkan generasi muda yang lebih peduli, kritis, dan berdaya dalam menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi anak.
(nwk/nwk)












































