Sebanyak 1.800 wisudawan Universitas Terbuka (UT) dari 12 UT Daerah akan berkumpul dalam Wisuda Wilayah 1 di Universitas Terbuka Convention Center (UTCC), Tangerang Selatan (Tangsel).
Wisuda ini digelar di tengah tanggung jawab yang padat, ruang kerja yang menuntut keputusan cepat, lapangan pertandingan yang menguji disiplin, hingga perjalanan hidup yang panjang.
Wisuda ini bukan hanya perayaan kelulusan. Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi potret bagaimana pendidikan tinggi terbuka dan jarak jauh memberi ruang bagi masyarakat produktif untuk terus meningkatkan kapasitas diri tanpa harus meninggalkan peran pentingnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari direktur BUMN, pejabat Badan Pemeriksa Keuangan RI (BPK), wakil rektor, atlet profesional futsal Indonesia, penerima beasiswa KIP-K, lulusan ber-IPK sempurna, hingga wisudawan senior, semuanya hadir dengan cerita yang berbeda, tetapi membawa pesan yang sama: belajar tetap relevan di setiap fase kehidupan.
"Di Wisuda Wilayah 1 ini, UT memperlihatkan wajah pendidikan tinggi yang semakin dekat dengan kebutuhan zaman. Fleksibilitas yang ditawarkan bukan sekadar kemudahan teknis, melainkan jembatan bagi para pekerja, pemimpin, pendidik, atlet, dan masyarakat luas untuk tetap menempuh pendidikan berkualitas di tengah ritme hidup yang terus bergerak," ujar Manajer Hubungan Masyarakat dan Layanan Terpadu UT Roman Hadi Saputro, dalam keterangan tertulis, Rabu (1/7/2026).
Dari sektor strategis nasional, hadir sejumlah lulusan yang menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tetap menjadi kebutuhan penting, bahkan bagi mereka yang telah berada di posisi pengambil keputusan. Wakil Rektor 2 (Bidang Keuangan, Sumber Daya, dan Umum) UT Adrian Sutawijaya menyelesaikan studi pada Program Doktor Ilmu Manajemen UT Jakarta.
Direktur Pemeriksaan I.C BPK Ida Irawati, menuntaskan Program Doktor Administrasi Publik UT Jakarta. Masih dari lingkungan BPK, Kepala Pusat Analisis Kebijakan Pemeriksaan Keuangan Negara (PKN) Selvia Vivi Devianti turut menyelesaikan studi Ilmu Hukum di UT Jakarta.
Pada bidang korporasi nasional, Direktur Penunjang Bisnis PT Pertamina (Persero) Muh Erry Sugiharto juga menjadi bagian dari lulusan Ilmu Hukum UT Jakarta.
Kehadiran para profesional ini menegaskan UT semakin dipercaya sebagai ruang belajar strategis bagi mereka yang membutuhkan pendidikan tinggi yang kredibel, fleksibel, dan aplikatif.
"Namun, cerita wisuda ini tidak berhenti di ruang kebijakan dan korporasi. Dari dunia olahraga, Marvin Alexa Wossiry, atlet profesional futsal Indonesia, menjadi wisudawan Program Studi (Prodi) Manajemen UT Jakarta," kata Roman.
Di tengah tuntutan latihan, pertandingan, dan performa sebagai atlet, Marvin menunjukkan prestasi lapangan dan pendidikan tinggi dapat berjalan beriringan ketika sistem belajar dirancang adaptif terhadap kebutuhan mahasiswa.
Kisah lain datang dari lulusan Magister Pendidikan Dasar UT Medan, Elly Agustina yang meraih kategori wisudawan berdedikasi dan berprestasi.
Sementara itu, penerima Beasiswa KIP-K dari Prodi Ilmu Hukum UT Jambi Ratna menjadi gambaran bahwa akses pendidikan tinggi bukan hanya tentang kesempatan masuk kuliah, tetapi juga tentang membuka jalan mobilitas sosial dan masa depan yang lebih luas.
Wisuda ini juga menjadi perayaan bagi pembelajar lintas usia. Wanita kelahiran Bojonegoro, 11 April 1959, Sri Hartati menjadi wisudawan tertua dari UT Jakarta pada Prodi Ilmu Administrasi Bisnis S1.
Pada usia 67 tahun, Sri membawa pesan kuat bahwa pendidikan tidak mengenal batas umur, selama ada kemauan untuk terus melangkah.
Di sisi akademik, capaian terbaik hadir melalui Yurni Prawita dari UT Bengkulu. Lulusan Program Magister Pendidikan Bahasa Inggris ini meraih IPK 4,00 dengan predikat Dengan Pujian (Cum Laude).
Prestasi tersebut menunjukkan fleksibilitas pendidikan jarak jauh di UT tetap berjalan bersama standar akademik yang tinggi. Melalui Wisuda Wilayah 1, UT tidak hanya mengukuhkan lulusan, tetapi juga memperlihatkan dampak nyata pendidikan terbuka bagi Indonesia.
UT hadir sebagai ekosistem belajar yang memungkinkan seseorang tetap bekerja, memimpin, mengabdi, berprestasi, dan pada saat yang sama menyelesaikan pendidikan tinggi.
Dari UTCC, para wisudawan ini akan kembali ke ruang hidupnya masing-masing dengan kapasitas baru.
Ada yang kembali ke ruang kebijakan, korporasi, sekolah, keluarga, lapangan olahraga, dan masyarakat. Di titik itulah kontribusi UT terasa: bukan hanya mencetak lulusan, tetapi ikut memperkuat manusia-manusia pembelajar yang terus bergerak membawa dampak bagi bangsa.
(akd/ega)










































