Universitas Indonesia (UI) menggelar Employer Forum 2026. Forum dengan tema "Beyond Borders: The Next-Gen Talent Ecosystem for a World-Class Indonesia" ini bertujuan menyelaraskan kualitas lulusan kampus dengan kebutuhan industri global.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Sumber Daya UI, Ahmad Gamal, menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari apa yang diajarkan di dalam kelas, tapi juga dari dampak yang diberikan lulusan di dunia kerja.
"Tema yang kami pilih tahun ini adalah 'Beyond Borders: The Next Generation Talent Ecosystem for a World-Class Indonesia'. Dan itu bukan sekadar bahasa aspirasional. Karena Universitas Indonesia kini berada di jajaran 200 universitas terbaik di dunia, kami tidak lagi berkompetisi dengan rekan-rekan kami di Indonesia-mereka adalah mitra kami, rekan-rekan kami," katanya saat membuka acara di Sutasoma Hotel, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/6/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reputasi Pemberi Kerja Kunci Pemeringkatan Dunia
Ahmad menyebut kolaborasi antara kampus dan industri merupakan instrumen krusial dalam pemeringkatan internasional seperti QS World University Rankings.
"Reputasi pemberi kerja (employer reputation) menyumbang setidaknya 30% dari penilaian internasional. Ditambah lagi dengan alumni outcomes sebesar 5%. Jadi, seperlima dari penilaian performa kami secara global bergantung pada apa yang Bapak/Ibu sampaikan tentang lulusan kami," ujarnya.
Data Tracer Study: Lulusan UI Mudah Dapat Kerja
Ahmad kemudian memaparkan data Tracer Study UI. Data ini merujuk pada jejak lulusan tahun 2023, di mana ditunjukkan bahwa 71,3% lulusan terserap dunia kerja dalam waktu kurang dari tiga bulan.
"Dari lebih dari 4.600 lulusan sarjana yang disurvei, 71,3% sudah bekerja dalam waktu tiga bulan setelah kelulusan. Dan dari mereka yang sudah bekerja, 28,3% bekerja di perusahaan multinasional atau internasional," tuturnya.
Kemudian, sebesar 67% lulusan sudah bisa mendapatkan pekerjaan pertama hanya dalam waktu 1-3 bulan. Selain itu, 28,3% lulusan sudah bekerja di perusahaan multinasional atau internasional.
"Namun, inilah yang data juga tunjukkan kepada kami, dan ini adalah bagian yang layak mendapatkan perhatian penuh dari setiap pemberi kerja. Ketika kami meminta lulusan untuk menilai kompetensi yang telah mereka kuasai dibandingkan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh pemberi kerja, terdapat kesenjangan," kata Ahmad.
Adanya Kesenjangan Kompetensi Lulusan
Ahmad juga memaparkan, tantangan terbesar dalam mencetak kompetensi lulusan yang handal adalah adanya 'design problem'. Ternyata, ada kesenjangan kompetensi pada lulusan.
Beberapa kesenjangan ini terdapat pada aspek soft skills seperti kemampuan adaptasi, rasa tanggung jawab, kemampuan bekerja dalam latar belakang budaya berbeda, serta integritas.
"Ini adalah masalah desain. Kami mengundang industri untuk duduk bersama, berdiskusi jujur, dan merancang ulang bagaimana pola pengajaran di UI agar sesuai dengan ekspektasi dunia profesional yang dinamis," ujar Ahmad.
