Terancam Jadi 'Pabrik' Tenaga Kerja, Pakar Unair: Marwah Kampus Rentan Bergeser

ADVERTISEMENT

Terancam Jadi 'Pabrik' Tenaga Kerja, Pakar Unair: Marwah Kampus Rentan Bergeser

pal - detikEdu
Selasa, 05 Mei 2026 08:30 WIB
The back of the graduates are walking to attend the graduation ceremony at the university,Concept of Successful Education in Hight School,Congratulated Degree
Ilustrasi kampus Foto: Getty Images/iStockphoto/nirat
Jakarta -

Di tengah dinamika yang menuntut kampus agar lulusannya cepat diserap oleh Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI), marwah perguruan tinggi rupanya kian rentan bergeser. Hal ini mendapat sorotan khusus dari Pakar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga (Unair), Prof Dr Tuti Budirahayu Dra MSi.

Tuti menilai orientasi yang hanya berfokus pada pemenuhan tenaga kerja DUDI berisiko mengubah kehormatan atau marwah kampus dan mereduksi fungsinya menjadi sekadar "pabrik" tenaga kerja. Mahasiswa dibentuk sedemikian rupa agar sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar, sehingga mengabaikan fungsi utamanya dalam membangun karakter.

"Jika orientasi pendidikan tinggi dipersempit hanya sebatas untuk mengisi tenaga kerja di sektor usaha dan industri, maka lulusannya dapat dianalogikan seperti 'sekrup-sekrup' dari mesin-mesin kapitalisme," ujar Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) tersebut dalam keterangannya yang dikutip detikEdu, Selasa (5/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia melanjutkan, "Orientasi kerdil pendidikan tinggi semacam itu menjadikan generasi muda tidak memiliki kepekaan terhadap ketimpangan dan ketidakadilan sosial."

ADVERTISEMENT

Lebih lanjut, ia menyayangkan bahwa banyak perguruan tinggi yang didorong untuk berorientasi kapitalistik melalui hak otonominya demi mencari keuntungan. Tuti menjelaskan model seperti ini membuat kampus berlomba menerima mahasiswa sebanyak-banyaknya dan hanya berfokus membuka jurusan-jurusan yang layak jual yang selaras dengan pasar tenaga kerja.

Padahal menurut Tuti, pendidikan tinggi memiliki makna dan tujuan yang sangat penting bagi pengembangan peradaban suatu bangsa. Terutama dalam menghasilkan masyarakat yang tidak hanya mampu bernalar kritis, tetapi juga bertindak menggunakan hati nurani untuk kebaikan umat manusia. Ia menyayangkan jika orientasi perguruan tinggi perlahan menjauhi filosofi pendidikan yang memerdekakan.

Ilmu Dasar, Humaniora, dan Sosial Terpinggirkan

Kondisi komersialisasi tersebut semakin parah dampaknya terhadap nasib program studi ilmu dasar, sosial, dan humaniora. Jika kampus hanya menggunakan logika pelayanan terhadap DUDI sebagai agen kapitalistik, program studi yang mengajarkan pemikiran kritis ini akan perlahan tersingkirkan.

"Program studi yang mengajarkan ilmu-ilmu dasar, sosial dan humaniora akan mengalami peminggiran, dan mungkin dapat tergilas oleh kepentingan pasar yang berkarakter seperti juggernaut, sebuah objek sangat besar yang berjalan seperti tank raksasa yang dapat menghancurkan apapun yang menghalanginya," papar Tuti.

Ancaman ini nyatanya bisa mengikis fondasi peradaban dan moral bangsa. Padahal, ilmu dasar, sosial, dan humaniora sangat krusial untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak menjadi perusak kelestarian alam dan ekosistem. Sebagai solusi, Tuti merekomendasikan adanya keseimbangan yang nyata dalam pengelolaan program studi di perguruan tinggi.




(pal/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads