Rektor Universitas Indonesias (UI) Prof Heri Hermansyah membanggakan program studi (prodi) sosial humaniora (soshum) yang dimiliki UI. Ada 4 prodi UI ranking 100 besar dunia, 3 di antaranya dari bidang soshum.
"Kalau kita lihat di dalam ranking yang ada, di Universitas Indonesia. Justru yang dalam ranking 100 besar dunia, itu ada empat program studi saat ini, tiga di antaranya sosial humaniora. Yang masuk 100 besar itu adalah tadi, Antropologi terus, Hukum, terus, (Manajemen) Informasi Perpustakaan, terus satu lagi Dentistry, Kedokteran Gigi," urai Heri saat berbincang di kantornya, Kampus UI, Depok, Jawa Barat, Senin (4/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Heri sedang merespons tentang wacana penataan prodi yang dilontarkan Kemdiktisaintek. Data yang Heri banggakan itu berasal dari QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026. Dikutip dari akun instagram resmi UI @univ_indonesia, memang yang tertera masuk 100 besar dunia versi QS WUR by Subject 2026 adalah prodi Hukum, Antropologi, Manajemen Informasi Perpustakaan dan Kedokteran Gigi.
Ranking dunia UI versi QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026 Foto: (Dok UI via IG @univ_indonesia) |
Data di atas menunjukkan keunggulan UI di prodi bidang humaniora. Heri mengatakan bahwa ilmu soshum sangat diperlukan, meskipun selulus kuliah, profesi bidang soshum tidak selalu linier dengan jurusan studi.
"Dan sebenarnya ilmu sosial humaniora ini sangat diperlukan walaupun pas lapangan kerjanya tidak tidak sama persis dengan nama program studinya. Kan jurusan sosiologi, nggak ada nama pekerjaannya sosiologi kan. Tetapi, mereka yang memiliki kompetensi sosiologi ini akan sangat diperlukan di berbagai bidang kerja yang memerlukan dukungan dari orang-orang yang multidisiplin kan," jelas Heri.
Heri memberikan contoh lagi, bila ada pembukaan pusat pertambangan. Bisnis intinya memang memerlukan orang teknik, tetapi yang berhubungan dengan manusia dan masyarakat biasanya memerlukan lulusan soshum.
"Bahkan di perusahaan tambang sekalipun, itu tidak 100% orang tambang kan. Di situ, di core business, lapangannya mungkin orang tambang, orang mesin, orang metalurgi, orang elektro, orang proses kimia misalnya gitu. Tapi kan selain itu kan ada yang ngurusin legalnya, ada yang ngurusin HRD-nya, ada yang ngurusin keuangannya. Kemudian ada yang ngurusin bagaimana hubungan antarlembaga, ada yang ngurusin CSR perusahaan dengan masyarakat sekitar. Nah di situlah dibutuhkan orang-orang yang tadi sosiologi, kesejahteraan sosial, psikologi, dan sebagainya," ujar Heri.
Sebelumnya, rencana penutupan prodi ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Kemdiktisantek Badri Munir Sukoco. Badri sempat menyatakan harapan agar perguruan tinggi memiliki kerelaan hati untuk menyeleksi prodi apa saja yang perlu ditutup.
Penutupan prodi disebut Badri bertujuan untuk menekan kesenjangan antara lulusan perguruan tinggi dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Hal itu disampaikannya mengingat Badri menyebut salah satu prodi yang sudah oversupply atau kelebihan pasokan keluluan yakni kependidikan.
Badri menyebut salah satu prodi yang dinilai oversupply atau kelebihan pasokan lulusan, yaitu kependidikan. Ia menyebut dalam statistik pendidikan tinggi, prodi ilmu sosial kurang lebih ada 60% dan porsi yang paling besar merupakan prodi kependidikan/keguruan.
"Keguruan kita meluluskan tiap tahun 490 ribu," kata Badri.
"Sementara, kebutuhan untuk lulusan keguruan hanya 20 ribu," imbuhnya.
Ia juga menyiggung saat ini perguruan tinggi di Indonesia menggunakan pendekatan market driven strategy dalam membuka prodi. Maksudnya, prodi yang laris, akan dibuka prodinya.
"Saya bisa ngecek juga itu misalnya tahun 2028, sebenarnya kita sudah oversupply dokter kalau misalnya ini dibiarkan. Oversupply dokter itu kalau misalnya kita pakai standar minimal World Bank. Apalagi terjadi maldistribusi, ketidakseimbangan distribusi di berbagai daerah," terang Badri.
Sementara Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengungkapkan evaluasi dan pembaruan pada program studi di perguruan tinggi untuk memastikan relevansi pendidikan tinggi di kampus-kampus dengan perkembangan dan temuan iptek terbaru.
"Untuk program studi, alih-alih ditutup program studi itu kita kembangkan dalam artian, kita lakukan evaluasi, kita lakukan update ya, sehingga substansi dari prodi-prodi itu terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, terus mengikuti perkembangan temuan-temuan terbarunya," ucapnya usai memimpin upacara Peringatan Hari Pendidikan Nasional Tahun 2026 di lapangan Kemdikbud, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2026).
Ia mencontohkan, pada prodi Teknik Elektro disesuaikan dengan keberadaan internet of things (IoT) dan kuantum komputasi saat ini.
"Maka itu kita sesuaikan, jadi itu secara terus-menerus yang kita sebut sebagai continuous improvement. Substansi isi dari prodi itu yang perlu di-update," tutur Guru Besar Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.
(nwk/nah)












































