Sebanyak 122 tim periset dari 64 perguruan tinggi lolos pendanaan Bestari Saintek. Penerima pendanaan diseleksi dari total 2.499 pengusul yang mengerucut menjadi 545 proposal teknis.
Bestari Saintek (Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi) merupakan inisiatif yang menjembatani hasil riset perguruan tinggi agar langsung berdampak bagi masyarakat. Program berkonsep living lab (laboratorium hidup) ini mengolaborasikan kampus, industri, dan masyarakat agar meningkatkan ekonomi berbasis sains dan teknologi.
Bestari Saintek merupakan inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Dalam pendanaan Bestari Saintek, LPDP mengalokasikan Rp 57,5 miliar rupiah untuk peningkatan ekosistem riset, sains dan teknologi, dan inovasi RI.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi (Dirjen Saintek) Kemdiktisaintek, Ahmad Najib Burhani mengatakan inovasi ke-122 tim periset difokuskan pada pemecahan masalah nyata masyarakat yang terdistribusi dalam delapan sektor strategis.
Kedelapannya yakni sektor pangan dan pertanian dengan 45 tim; periset, sosial humaniora, seni budaya, dan pendidikan 32 tim; kemaritiman 12 tim, teknologi informasi dan komunikasi 9 tim.
Kemudian sektor kebencanaan 8 tim; kesehatan dan obat 8 tim; energi dan energi baru terbarukan 6 tim, dan sektor material maju 4 tim.
Dana Rp 57 M
Najib merinci, dari total pagu dana dari LPDP sebesar Rp 57,5 miliar, penyerapan mencapai Rp 57,176 miliar untuk mendukung 122 tim periset, 341 mitra, serta keterlibatan 854 dosen dan tenaga kependidikan.
Ia menambahkan, penerima pendanaan Bestari Saintek tersebar di 24 provinsi di Indonesia, meliputi wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua.
Sementara itu, berdasarkan perguruan tinggi, sebanyak 57,8% lembaga merupakan PTN dan 42,2% PTS. Adapun 67,8% peneliti berasal dari PTN dan 32,2% dari PTS.
"Angka ini menegaskan peran krusial PTN dan juga PTS sebagai penggerak riset nasional, sekaligus memperlihatkan geliat serta kontribusi banyak PTS yang semakin aktif di dalam kegiatan riset nasional kita," ucapnya pada Kick Off Program Bestari Saintek dan Peluncuran Program Semesta Skema Pendanaan APBN Tahun 2026 di Graha Kemdiktisaintek Gedung D, Senayan, Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Direktur Fasilitasi Riset LPDP, Ayom Widipaminto mengatakan pihaknya berharap akses pendanaan Bestari Saintek memungkinkan dana riset dosen dan mitra industri bidang dimanfaatkan secara berkelanjutan.
"Setelah aksesnya cukup luas, tentu kami berharap ada prioritas-prioritas atau bidang-bidang yang sangat spesifik yang kita identifikasi memang benar-benar unggul di situ. Dan tadi Pak Dirjen melaporkan sudah cukup in line dengan apa yang sudah kami lakukan. Tetap ada bidang pangan yang paling terbesar, kesehatan, energi. Dan kami berharap pemfokusan ini juga akan lebih mendekatkan kita pada keluaran yang akan didesain berdampak," ucapnya.
Solusi Pangan hingga Polutan
Bestari Saintek melibatkan kolaborator dari 8 instansi pemerintah termasuk LPDP dan kementerian teknis lain; 56 mitra industri utama dan jaringan sebagai motor pemanfaatan sains dan teknologi di lapangan; organisasi internasional Uni Eropa, Nuffic Neso, KONEKSI, dan JICA; 64 perguruan tinggi; 21 pimpinan media masa; dan 10 anggota tim pakar.
Environmental, Social, and Governance (ESG) Department Head of FKS Group, Chondro Rini dari pihak industri mengatakan, unit-unit bisnisnya di bidang industri food dan pertanian bermitra dengan universitas serta politeknik untuk mengembangkan inovasi ragi tempe adaptif serta inovasi mesin opak di Wonosobo untuk mengembangkan snack lokal.
Dalam Bestari Saintek, pihaknya akan terlibat dalam pelatihan dan pendampingan masyarakat untuk memanfaatkan teknologi dari para periset. Dari kolaborasi ini, diharapkan, warga setempat dapat meningkatkan produksi.
"Salah satu upaya juga untuk melestarikan kearifan lokal yang ada di Wonosobo, mereka terkenal salah satunya dengan dengan produk opak," terangnya.
Sedangkan di industri jasa, pariwisata, dan barang konsumsi, Dosen Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Urip Mudjiono dan tim mengusung kolaborasi untuk mengatasi sampah wisata di Pulau Gili Ketapang. Bersama BUMDes dan warga, ia berencana mengembangkan pemanfaatan sistem pengelolaan sampah terpadu untuk pulau kecil dan fasilitas budidaya maggot BSF.
Dari usulan Urip dan rekan-rekan, pihaknya memproyeksi pembentukan unit pengelola sampah dan ekowisata, penetapan regulasi lokal yang kuat, pengelolaan sampah secara feketif, diversifikasi bisnis dan jaringan untuk memperkuat ekonomi lokal, serta meningkatkan kesejahteraan dan kesadaran warga setempat pada lingkungan. Upaya ini diharapkan mendorong daya saing dan keberlanjutan ekonomi, sosial, dan lingkungan setempat.
Adapun usulan Dosen Universitas Padjadjaran, Santi Rukminita Anggraeni dan tim merespons masalah plastik polutan yang bersumber dari industri fashion dan aksesoris. Sebagai ganti material plastik, timnya mengembangkan biopolimer rumput laut.
Upaya tersebut diharapkan meningkatkan pendapatan warga petani pesisir, dekarbonisasi industri fashion, dan mengurangi impor bahan baku plastik dan tekstil sintetis di sektor fashion kreatif RI, sehingga ekosistem Blue Economy inklusif yang menghubungkan desa pesisir dengan teknologi tinggi bisa terbentuk.
Dalam usulan biopolimer rumput laut, timnya menggandeng MYCL, Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), PT Borneo Ocean Nauly, dan SMK Bontang.
Simak Video "Video: LPDP Gelontorkan Rp 57 Miliar Danai 122 Tim Riset 'Bestari Saintek'"
(twu/twu)