AI dalam Pendidikan, Bantu Belajar atau Jalan Instan untuk Nilai Tinggi?

ADVERTISEMENT

AI dalam Pendidikan, Bantu Belajar atau Jalan Instan untuk Nilai Tinggi?

Siti Nur Salsabilah - detikEdu
Rabu, 25 Mar 2026 21:00 WIB
Ilustrasi kecerdasan buatan
Ilustrasi kecerdasan buatan Foto: Getty Images/CHOLTICHA KRANJUMNONG
Jakarta -

Peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam dunia pendidikan kini semakin menjadi perbincangan. Teknologi ini dipandang sebagai alat bantu belajar yang potensial, tapi di sisi lain juga kerap dianggap sebagai jalan pintas. Seperti misalnya saat mahasiswa mulai mengandalkannya untuk menyelesaikan tugas seperti esai.

Kepala Bidang Pendidikan untuk India dan Asia-Pasifik di OpenAI, Raghav Gupta, menilai pemanfaatan AI seharusnya diarahkan sebagai pendamping belajar, bukan sekadar alat untuk mengejar nilai tinggi secara instan. Menurutnya, proses belajar yang ideal justru membutuhkan tantangan.

"Belajar itu perlu proses, perlu usaha. Artinya, kita harus benar-benar meluangkan waktu untuk memahami materi," ujar Gupta, seperti dikutip dari The Straits Times.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menambahkan, perkembangan teknologi AI saat ini semakin canggih dan proaktif, termasuk melalui perangkat lunak yang dirancang untuk mendorong keterlibatan siswa dalam proses belajar. Sistem ini dibuat agar tetap menghadirkan tantangan, sehingga pengalaman belajar tidak kehilangan esensinya.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, perusahaan teknologi tersebut juga terus mendorong pemanfaatan AI secara lebih terarah di sektor pendidikan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menjalin kemitraan dengan berbagai institusi pendidikan.

AI pada Jenjang SD-SMA: Bantu Guru dan Staf

Pemanfaatan kecerdasan buatan di jenjang pendidikan dasar hingga menengah dinilai dapat membantu meringankan beban kerja guru dan tenaga kependidikan. Salah satu contohnya terlihat di lingkungan EtonHouse International Education Group di Singapura, di mana staf memanfaatkan ChatGPT Enterprise untuk menyederhanakan berbagai urusan administratif.

Meski demikian, penggunaan AI pada siswa perlu disikapi secara hati-hati. Raghav Gupta mengibaratkan pengenalan AI sejak dini seperti memberikan kalkulator kepada siswa sekolah dasar yang baru belajar perkalian. Alih-alih memahami prosesnya, siswa berpotensi memilih jalan instan tanpa benar-benar menguasai konsep dasar.

Kekhawatiran ini semakin relevan ketika ChatGPT dan berbagai alat AI lainnya digunakan sebagai jalan pintas dalam menyelesaikan tugas. Dalam kondisi tersebut, fungsi AI sebagai alat bantu belajar justru tidak tercapai. Karena itu, penggunaan ChatGPT tidak diperuntukkan bagi anak di bawah usia 13 tahun, sementara remaja usia 13 hingga 18 tahun tetap memerlukan persetujuan orang tua.

Dengan semakin luasnya akses terhadap teknologi ini, diperlukan panduan yang jelas bagi anak-anak dalam menggunakan AI. Tujuannya bukan hanya untuk menjaga kualitas pembelajaran, tetapi juga memastikan teknologi tersebut benar-benar mendukung proses berpikir dan pemahaman, bukan sekadar hasil akhir.

Di sisi lain, kebutuhan dunia kerja saat ini termasuk di sektor pendidikan menuntut kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta penilaian yang matang. Hal ini turut mendorong perubahan dalam sistem evaluasi siswa. Dalam konteks tersebut, AI dinilai mampu menawarkan setidaknya tiga pendekatan baru dalam penilaian yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.


AI Jadi Tutor Pribadi buat Mahasiswa

Di tingkat pendidikan tinggi, pemanfaatan kecerdasan buatan juga mulai diintegrasikan secara lebih sistematis. OpenAI, misalnya, telah menggelar pelatihan yang bekerja sama dengan National University of Singapore (NUS) School of Computing. Dalam program ini, mahasiswa diperkenalkan dengan berbagai perangkat AI seperti ChatGPT Edu untuk mendukung proses belajar mereka.

Tak hanya itu, mahasiswa juga didorong memanfaatkan Codex, yakni alat pengembangan perangkat lunak berbasis AI. Dengan dukungan model terbaru seperti GPT-5.4, teknologi ini mampu membantu menghasilkan kode sekaligus mengidentifikasi kesalahan (bug) dalam proses pemrograman.

Sejumlah perguruan tinggi dunia bahkan mulai mengadopsi AI dalam sistem pembelajaran mereka. Di Stanford University dan University of Tartu, misalnya, AI telah dimanfaatkan untuk memperkenalkan konsep Learning Outcomes Measurement Suite, yakni paket pengukuran capaian pembelajaran berbasis teknologi.

Tak heran jika pengguna AI saat ini didominasi kalangan mahasiswa, dengan jumlah yang disebut telah melampaui 900 juta pengguna. Mereka merasakan langsung manfaat fitur-fitur yang semakin adaptif, seperti Study Mode, yang tidak sekadar memberikan jawaban, tetapi juga membimbing proses berpikir layaknya metode Sokratik.

Pengalaman belajar juga menjadi lebih interaktif dengan hadirnya fitur seperti QuizGPT, yang memanfaatkan kartu flash untuk membantu pemahaman materi. Bahkan, pengembangan terbaru memungkinkan pembelajaran sekitar 70 konsep inti dalam matematika dan sains di ChatGPT, lengkap dengan visualisasi yang memudahkan pengguna memahami konsep-konsep yang kompleks.

Memori dan konteks pada ChatGPT juga membantu mahasiswa memahami mata kuliah dan gaya belajar yang bersifat personal. Kemampuan ini memungkinkan mahasiswa untuk memberdayakan hal-hal yang sebelumnya di luar jangkauan. Misalnya, mahasiswa humaniora yang menggunakan AI sebagai asisten pemrograman sebuah aplikasi seluler.

Sedangkan bagi dosen, AI juga dapat berfungsi sebagai asisten persiapan dan administratif dalam bimbingan dengan mahasiswa. Selain itu, AI juga bisa ditugaskan sebagai asisten penelitian dalam menyusun proposal hibah, dan menyusun makalah penelitian.

Yang tidak kalah penting dalam penggunaan AI di kalangan mahasiswa adalah untuk menyiapkan mereka dalam bekerja. Sebab di masa depan akan banyak pekerjaan yang bersinggungan dengan kecerdasan buatan ini.

Halaman 2 dari 2
(sls/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads