Mahasiswa Filkom Raih Juara Internasional Kerja Sama dengan Tim PROBAPLAS

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Filkom Raih Juara Internasional Kerja Sama dengan Tim PROBAPLAS

Dhafin Armia - detikEdu
Jumat, 13 Mar 2026 11:17 WIB
Mahasiswa Filkom Raih Juara Internasional Kerja Sama dengan Tim PROBAPLAS
Foto: Istimewa
Jakarta -

Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Muhammad Alhafiz Arya Wardhana dari Program Studi Sistem Informasi FILKOM, meraih 3rd Winner dalam ajang International Project Innovation Competition di Istanbul, Turki, Jumat (13/2). Kompetisi inovasi internasional itu mempertemukan peserta dari berbagai negara untuk mempresentasikan proyek solusi atas persoalan global.

Arya berkolaborasi dengan Malikha Haula Karimah dari UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Khikmatillo Nematov dari Uzbekistan. Mereka membawa proyek PROBAPLAS hingga meraih penghargaan di ajang tersebut.

"PROBAPLAS (Prosthetic from Plastic Waste) merupakan sebuah inovasi yang berfokus pada pemanfaatan limbah HDPE (High-Density Polyethylene) seperti tutup botol dan jerigen bekas sebagai bahan baku pembuatan socket prostetik sebagai komponen utama prostetik," jelas Arya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mahasiswa UB Ciptakan Prostetik dari Limbah Plastik, Juara di TurkiMahasiswa UB Ciptakan Prostetik dari Limbah Plastik, Juara di Turki Foto: Universitas Brawijaya (UB)

Arya menjelaskan, PROBAPLAS pertama kali digagas oleh Unit Kegiatan Mahasiswa PUSTENA (Pusat Teknologi Tepat Guna) yang dinaungi Rumah Salman Institut Teknologi Bandung.

Mahasiswa Sistem Informasi itu mengatakan gagasan tersebut lahir dari dua persoalan yang saling berkaitan. Pertama, akses alat bantu prostetik bagi penyandang disabilitas masih terbatas karena harganya relatif mahal dan pembuatannya bergantung pada bahan baku impor.

ADVERTISEMENT

Kedua, limbah plastik HDPE sangat melimpah dan membutuhkan waktu lama untuk terurai sehingga kerap berakhir di tempat pembuangan akhir serta mencemari lingkungan.

"Berdasarkan hasil riset Malikha (salah satu anggota), HDPE daur ulang yang digunakan memenuhi standar minimum material prostetik, yakni berkekuatan tarik 26-33 Mpa. Kemudian, penggunaan material daur ulang mampu menurunkan biaya bahan baku menjadi 2 dolar/unit atau Rp. 35 ribu. Sehingga, inovasi kami berhasil menjawab dua masalah besar sekaligus," tutur Arya.

Melihat dampak positif PROBAPLAS, tim kemudian merancang website terintegrasi berbasis gamifikasi serta program sosial bernama Eco Hero. Program ini ditujukan untuk mendorong kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sekaligus meningkatkan partisipasi dalam mewujudkan ekonomi sirkular.

Arya memaparkan, selain pada aspek material dan manufaktur, PROBAPLAS juga mengintegrasikan pendekatan circular economy melalui pengembangan sistem bank sampah digital berbasis gamifikasi. Lewat sistem itu, masyarakat dapat menyetor limbah plastik HDPE ke unit sampah, memperoleh poin yang tercatat secara digital, lalu mengonversinya menjadi nilai ekonomi.

"Hal terpenting, proyek ini tidak berhenti di tahap riset atau kompetisi. Tim mulai mengimplementasikan model produksi prostetik secara langsung melalui kolaborasi bersama mitra prostetik dan komunitas pemberdayaan disabilitas. Beberapa prostetik juga sudah disalurkan kepada pihak yang membutuhkan," tambahnya.

Dosen pembimbing Arya, Dr. Maurish Sofie Rahmi Batita, menilai ide yang dikembangkan tim tersebut cukup menjanjikan. Menurutnya, inovasi itu tidak hanya berpotensi menjadi produk unggulan bagi penyandang disabilitas, tetapi juga tetap memperhatikan aspek lingkungan.

"Ide dan prototipe yang Arya dan tim kembangkan bisa menjadi produk unggulan bagi kaum disabilitas, namun juga masih tetap memperhatikan kesadaran lingkungan," ungkapnya.




(ega/ega)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads