Mahasiswa, apakah sudah mulai rajib belajar dan berlatih bahasa Inggris? Hasil survei TOEIC Global English Skills Report menunjukkan, skor bahasa Inggris mahasiswa yang diperoleh dari tes di kampus makin dilirik mayoritas pemberi kerja (89%) saat screening awal pelamar kerja, loh.
Survei ini mendapati, skor bahasa Inggris yang dilirik khususnya yang diperoleh dari asesmen terstandar. Jenis asesmen ini dinilai paling efektif untuk memprediksi produktivitas si calon tenaga kerja, pertumbuhan profesionalnya, serta kepercayaan diri dan perilakunya dalam tim.
Asesmen bahasa Inggris di kampus tersebut dinilai tidak hanya dapat menunjukkan sejauh apa kemahiran seorang kandidat pekerja. Skor tes tersebut bantu perusahaan memutuskan untuk merekrut si kandidat atau tidak, serta menentukan pengembangan profesional seperti apa yang tepat ke depannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Survei ini melibatkan 1.325 responden yang merupakan decision maker bidang SDM (HR) di 17 negara, yakni Indonesia, Brasil, China, Prancis, Jerman, India, Jepang, Meksiko, Moroko, Arab Saudi, Korea Selatan, Spanyol, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, dan Vietnam.
Minimal 70 responden per negara, para responden dipilih berdasarkan persetujuannya untuk berpartisipasi pada survei online The Harris Poll, yang mewakili Educational Testing Service (ETS).
Skill Bahasa Inggris Penting buat Pencari Kerja
Sembilan dari sepuluh (91%) pemberi kerja menyatakan, mereka memprioritaskan calon pekerja lulusan perguruan tinggi yang mahir berbahasa Inggris saat saat proses rekrutmen. Mayoritas (89%) juga menyatakan, mereka menghargai skor tes bahasa Inggris yang diperoleh mahasiswa saat masih kuliah juga untuk bahan screening.
Sekitar 30% HR decision maker meyakini, perusahaan dan organisasi di dunia saat ini juga melakukan asesmen atau memanfaatkan nilai bahasa Inggris dari transkrip akademik yang diterbitkan perguruan tinggi dalam proses rekrutmen. Bahkan, lebih dari 50% responden memprediksi, tes bahasa Inggris akan jadi alat screening penting dan mendasar dalam 5 tahun mendatang.
Sebanyak 79% pemberi kerja juga memprediksi, dalam 5 tahun ke depan, para mahasiswa akan disyaratkan lolos tes bahasa Inggris untuk bisa lulus kuliah. Mereka (78%) juga memprediksi, dalam 5 tahun ke depan, para lulusan perguruan tinggi nantinya adalah para tenaga kerja di negaranya yang mahir berbahasa Inggris.
President of ETS Janet Garcia mengatakan, tren ini tengah tampak di negara-negara Asia Tenggara hingga Korea Selatan. Ia menggarisbawahi, tidak semua mahasiswa saat ini memilih ikut tes TOEIC, tetapi juga TOEFL.
"TOEFL ini terutama bagi mereka yang hendak lanjut jadi mahasiswa internasional. Ada juga yang lebih suka TOEFL ITP. TOEIC sendiri bermanfaat untuk mengukur kemampuan bahasa Inggris dalam dunia kerja internasional, dalam hal komunikasi internasional yang efektif," ucap Janet pada perilisan global TOEIC Global English Skills Report di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Senin (9/3/2026).
Demi Bisa Bersaing
Mayoritas pemberi kerja (92%) mengakui, kemahiran berbahasa Inggris para pekerja kini kian penting, jika dibandingkan dengan 5 tahun lalu. Salah satunya karena perusahaan, lewat para pekerjanya butuh untuk mampu bersaing di skena ekonomi global.
Sebanyak 81% responden menilai, persaingan pasar kerja yang ketat membuat kemahiran berbahasa Inggris menjadi kunci agar menonjol saat melamar kerja.
Saat ini, sebanyak 63% organisasi global menyatakan sudah mengalokasikan lebih dari USD 50 ribu atau di atas Rp 847 juta dalam anggaran tahunannya untuk asesmen dan pendidikan bahasa Inggris pekerjanya. Dalam hal ini, tes bahasa Inggris juga digunakan untuk menengok dan memantau tingkat kemahiran para pekerjanya saat ini.
Kecenderungan untuk menganggarkan ini khususnya tampak di industri kesehatan, yang 30% di antaranya berinvestasi lebih dari USD 500 ribu (Rp 8,47 miliar) per tahun, sedangkan industri nonkesehatan hanya 14% saja.
Didorong Aturan Pemerintah
Di samping itu, sejumlah pemerintah di berbagai negara sendiri ke depannya juga berpotensi menerapkan syarat kemampuan berbahasa Inggris pada jenjang menengah (SMP dan SMA), dengan harapan bisa menggenjot progres kemahiran berbahasa Inggris masyarakat secara lebih luas.
Survei mendapati, kebijakan regional yang mensyaratkan kemahiran berbahasa Inggris untuk lulus sekolah jenjang menengah berhubungan dengan capaian bisnis yang baik. Sebanyak 83% pemberi kerja yang kebijakan pemerintahnya mensyaratkan kemahiran berbahasa Inggris menyatakan sangat puas dengan kemampuan karyawannya untuk membangun kemitraan bisnis baru, dibanding 76% yang tidak.
Mereka juga menyatakan, kemahiran berbahasa Inggris para pekerjanya membuat mereka tidak sering mengalami penurunan kepercayaan. Diketahui, penurunan kepercayaan juga bisa muncul karena tidak cakap berkomunikasi, dalam hal ini berbahasa Inggris, yang akhirnya mengesankan perusahaan ingkar janji, disinformasi, hingga bersikap tidak etis.
(twu/nwk)











































