Kepemimpinan Transformatif Perguruan Tinggi

Kolom Edukasi

Kepemimpinan Transformatif Perguruan Tinggi

Penulis Kolom - Ahmad Tholabi Kharlie - detikEdu
Jumat, 20 Feb 2026 21:00 WIB
Ahmad Tholabi Kharlie
Foto: (Dokumentasi pribadi Ahmad Tholabi Kharlie)
Jakarta -

Perguruan tinggi sejak awal tidak hanya didirikan sebagai institusi pengajaran, melainkan sebagai ruang pembentukan arah peradaban. Di dalamnya berlangsung proses yang melampaui transfer pengetahuan: pembentukan horizon etis, pengembangan cara berpikir kritis, serta perumusan visi masa depan masyarakat. Karena itu, setiap perubahan dalam perguruan tinggi pada hakikatnya adalah perubahan yang menyentuh lapisan terdalam kehidupan sosial.

Hari ini, perguruan tinggi menghadapi tekanan transformasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Revolusi digital telah mengubah struktur pengetahuan dari model hierarkis menuju jaringan terbuka. Globalisasi ekonomi pengetahuan melahirkan kompetisi lintas negara yang semakin intens. Pada saat yang sama, perubahan karakter generasi muda menghadirkan tantangan baru terhadap otoritas akademik, pola belajar, dan legitimasi institusional.

Mahasiswa generasi kini hidup dalam ekosistem informasi yang cair, cepat, dan plural. Mereka tidak lagi mengandalkan otoritas tunggal dalam memperoleh pengetahuan. Mereka terbiasa mengakses sumber belajar dari pelbagai platform digital, sekaligus mengembangkan perspektif yang lebih kritis terhadap institusi formal. Dalam situasi demikian, relevansi perguruan tinggi tidak lagi ditentukan oleh kemegahan infrastruktur atau kelengkapan fasilitas, tapi oleh kemampuan kepemimpinan dalam membaca perubahan sejarah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Krisis Orientasi

Krisis utama yang dihadapi banyak perguruan tinggi hari ini berkaitan dengan orientasi kepemimpinan dalam mengarahkan dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Banyak institusi mengalami stagnasi bukan karena kekurangan dana atau tenaga akademik, tetapi karena kepemimpinan yang terjebak dalam rutinitas administratif. Kepemimpinan yang terlalu fokus pada prosedur birokratis sering kali kehilangan sensitivitas terhadap perubahan sosial yang lebih luas.

Dalam konteks inilah pernyataan Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, pada Rapat Kerja UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Jakarta (14/2/2026) memperoleh relevansi intelektual yang penting. Ia menegaskan bahwa transformasi perguruan tinggi merupakan keniscayaan sejarah yang dipicu oleh perubahan sosial dan karakter generasi baru, sehingga menuntut inovasi akademik, layanan, dan kontribusi yang lebih luas kepada masyarakat.

ADVERTISEMENT

Pernyataan tersebut sesungguhnya mengandung implikasi epistemologis yang mendalam. Transformasi perguruan tinggi tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan struktural atau administratif, tapi harus dimaknai sebagai perubahan paradigma kepemimpinan. Tanpa transformasi kepemimpinan, perubahan kelembagaan hanya akan menghasilkan reformasi prosedural yang dangkal.

Sejarah pendidikan tinggi menunjukkan bahwa kemajuan institusi selalu berkorelasi dengan kualitas kepemimpinan yang mampu membaca arah zaman. Universitas-universitas besar dunia tidak lahir semata dari kebijakan administratif, tetapi dari visi moral para pemimpinnya. Mereka mampu mengintegrasikan kecanggihan intelektual dengan orientasi nilai yang kuat.

Dalam kajian kepemimpinan modern, James MacGregor Burns, dalam Leadership (1978), menegaskan bahwa kepemimpinan transformatif bekerja melalui kemampuan pemimpin mengangkat kesadaran moral pengikutnya, sehingga organisasi bergerak bukan sekadar karena kepatuhan struktural, melainkan karena komitmen nilai yang dibagikan bersama. Perspektif ini menegaskan bahwa transformasi institusi pendidikan tinggi pada hakikatnya merupakan proses perubahan kesadaran kolektif, bukan semata restrukturisasi administratif.

Spiritualitas Kepemimpinan

Dalam tradisi intelektual Islam, kepemimpinan tidak pernah dipahami sebagai sekadar struktur kekuasaan, melainkan selalu ditempatkan dalam kerangka amanah dan tanggung jawab moral. Kepemimpinan merupakan fungsi administratif yang sekaligus hadir sebagai praksis etis, yang memadukan rasionalitas strategis dengan kesadaran transendental.

Perspektif ini menjadi sangat relevan dalam konteks kepemimpinan transformatif berbasis spiritualitas, yang menegaskan bahwa seorang pemimpin memikul tanggung jawab bukan hanya atas kinerja organisasi sekaligus dimensi kemanusiaan serta nilai-nilai yang menopang keberlangsungan institusi.

Sejatinya, spiritualitas dalam kepemimpinan merupakan kesadaran mendalam bahwa kekuasaan memiliki dimensi transendental, bukan sekadar religiusitas simbolik atau retorika moral. Seorang pemimpin mengemban tanggung jawab dalam kerangka sistem birokrasi, yang sekaligus terjalin dengan kesadaran sejarah dan nilai-nilai kemanusiaan.

Dalam konteks perguruan tinggi, spiritualitas kepemimpinan berfungsi sebagai kompas etis yang menjaga keseimbangan antara orientasi kompetisi global dan misi kemanusiaan pendidikan. Tanpa dimensi spiritual ini, transformasi kelembagaan berisiko berubah menjadi proses teknokratis yang kehilangan makna.

Kepemimpinan berbasis spiritualitas menuntut integritas sebagai sumber legitimasi utama. Legitimasi tidak lagi bertumpu pada jabatan formal, melainkan pada keteladanan moral. Pemimpin menjadi figur yang menginspirasi, bukan sekadar pengendali organisasi.

Paradigma ini juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang memberdayakan. Pemimpin mengarahkan kekuasaan sebagai sarana untuk membangun kapasitas kolektif serta menata relasi organisasi melalui penguatan kepercayaan yang menumbuhkan partisipasi. Dalam situasi demikian, institusi bergerak melalui kerja sistem yang ditopang oleh kesadaran bersama.

Dimensi spiritualitas juga memberikan kedalaman reflektif dalam pengambilan keputusan. Kepemimpinan berkembang sebagai rasionalitas yang berpijak pada dimensi instrumental sekaligus moral. Setiap kebijakan dinilai melalui pertimbangan efisiensi yang berjalan seiring dengan perhatian terhadap martabat manusia.

Kepemimpinan Transformatif

Transformasi perguruan tinggi pada akhirnya merupakan proses peradaban yang berlangsung melalui penguatan kelembagaan. Dalam kerangka tersebut, perguruan tinggi menjadi ruang reproduksi elite intelektual sekaligus moral bagi masyarakat, sehingga dinamika yang berkembang di dalamnya turut menentukan arah masa depan bangsa.

Lebih lanjut, perubahan lembaga pendidikan tinggi hanya dapat berjalan efektif apabila didorong oleh kepemimpinan yang visioner, adaptif terhadap perubahan generasi, serta mampu memberdayakan sumber daya manusia sebagai pusat kemajuan institusi.

Hal ini mengandung pesan strategis yang sangat penting bahwa kepemimpinan transformatif berkaitan dengan kemampuan manajerial yang berjalan seiring dengan kapasitas membangun visi peradaban. Pemimpin perguruan tinggi mengelola organisasi sambil mengarahkan perkembangan masa depan intelektual masyarakat.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, kepemimpinan transformatif memiliki tiga fungsi utama.

Pertama, sebagai produsen visi. Pemimpin harus mampu merumuskan arah masa depan institusi dalam konteks perubahan global. Tanpa visi yang jelas, organisasi akan terjebak dalam rutinitas administratif.

Kedua, sebagai katalis inovasi. Kepemimpinan transformatif menciptakan iklim organisasi yang mendorong kreativitas dan keberanian intelektual. Ia mengubah budaya birokratis menjadi budaya pembelajaran.

Ketiga, sebagai penjaga etika peradaban. Pemimpin berfungsi menjaga keseimbangan antara tuntutan kompetisi global dan nilai kemanusiaan pendidikan. Dalam dunia yang kian pragmatis, fungsi ini menjadi sangat krusial.

Perguruan tinggi masa depan membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengintegrasikan teknologi dan etika, rasionalitas dan spiritualitas, inovasi dan tanggung jawab sosial. Tanpa integrasi ini, pendidikan tinggi berisiko kehilangan identitasnya sebagai institusi pembentuk peradaban.

Pada titik inilah kepemimpinan transformatif berbasis spiritualitas menemukan relevansinya, yakni mengembalikan kepemimpinan kepada hakikatnya sebagai amanah moral sekaligus tanggung jawab sejarah dalam menjaga arah peradaban akademik.

*) Ahmad Tholabi Kharlie
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom

Halaman 2 dari 2
(nwk/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads