Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan pemetaan cepat wilayah bencana Sumatera yang bermanfaat untuk rencana pemulihan. Pun mendesain hunian sementara hingga penjernih air.
Tim UGM yang berfokus pada pemetaan cepat dan analisis spasial kebencanaan telah bekerja sejak satu pekan pascabencana dan menyelesaikan seluruh target rapid mapping secara penuh, demikian rilis UGM yang diterima dan ditulis, Minggu (4/1/2026).
Produk yang dihasilkan dari pemetaan cepat ini meliputi:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- peta area terdampak banjir
- peta perubahan sebelum dan sesudah bencana
- peta aksesibilitas jaringan jalan
- peta status fasilitas kesehatan dan shelter
- peta permukiman terdampak
- peta kebutuhan masyarakat
Keseluruhan peta tersebut menjadi rujukan utama dalam perencanaan respons dan pemulihan. Basis data spasial hasil kerja UGM dikonsolidasikan melalui geoportal dan dikelola dengan pengendalian hak cipta serta akses data oleh Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM.
"Dalam banyak kejadian bencana, bantuan sering tidak merata karena tidak didukung data spasial yang akurat. Kami ingin mengubah pola tersebut dari berbasis asumsi menjadi berbasis data," ujar Dekan Fakultas Geografi UGM, Prof Muhammad Kamal, SSi, MGIS, Ph D, dilansir laman UGM.
Dengan platform dari tim UGM, masyarakat bisa melaporkan langsung kebutuhan mereka, lengkap dengan lokasi dan kontak person. Dalam hal ini, laporan diverifikasi oleh dosen dan mahasiswa di kampus. Bersama BRIN, tim UGM juga mendapatkan citra satelit resolusi tinggi dari Disasters Charter PBB.
"Kami melakukan interpretasi citra satelit dari portal Disasters Charter untuk mengidentifikasi permukiman terdampak banjir dan memetakan tingkat kerusakan secara cepat pada fase emergency," ungkap anggota tim peneliti lainnya dari Fakultas Geografi UGM, Dr Nur Mohammad Farda, S Si, M Cs.
Data pemetaan cepat ini disampaikan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk proses publikasi dan pemanfaatan lanjutan. Sejumlah peta kebutuhan juga telah terhubung langsung dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna mendukung penyaluran bantuan berbasis data. Dengan demikian, hasil kerja spasial UGM berperan sebagai rujukan kebijakan dalam respons bencana di tingkat nasional.
Desain dan Bangun Hunian Sementara (Huntara)
Pemanfaatan peta zona aman menjadi aspek krusial dalam penentuan lokasi hunian sementara dan hunian tetap bagi penyintas. Berbasis analisis spasial tersebut, UGM menyiapkan desain hunian yang adaptif terhadap risiko kebencanaan dan kondisi tapak.
Pendekatan ini memastikan pembangunan hunian tidak dilakukan di wilayah rawan berulang. Data spasial berfungsi sebagai penghubung antara sains, perencanaan, dan kebijakan pemulihan.
UGM juga menyiapkan desain hunian sementara (Huntara) dan hunian tetap Rumah Geunira yang adaptif terhadap kondisi pascabencana berbasis kajian risiko dan kebutuhan warga.
Implementasi di lapangan dilakukan melalui pembangunan 100 unit hunian sementara berukuran 6 x 6 meter di Desa Geudumbak, Aceh Utara, oleh Tim UGM bersama Rumah Zakat.
Ketua Tim UGM, Ashar Saputra, PhD ,menjelaskan bahwa desain hunian dikembangkan agar mudah dipahami dan dapat dibangun secara mandiri oleh warga dengan material yang tersedia di lapangan.
"Rumah papan berukuran 6 x 6 meter tersebut memungkinkan proses pengerjaan berjalan cepat, efisien, dan aman bagi penyintas. Melalui pelatihan keterampilan konstruksi bagi warga, proses dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan warga sebagai pelaku utama," ucapnya melalui keterangan yang diterima detikEdu, Sabtu (3/1/2025), ditulis Minggu (4/1/2025).
"Pendekatan ini menumbuhkan rasa kepemilikan warga dan memperkuat kesiapan masyarakat untuk melanjutkan proses pembangunan hunian secara mandiri," imbuhnya
Proses tersebut diawali dengan pendirian unit huntara pertama di lokasi sebagai penanda dimulainya kegiatan di lapangan pada Sabtu (3/1). Program ini dirancang berkelanjutan dan akan dilanjutkan secara bertahap hingga seluruh target hunian terpenuhi, bahkan berpotensi dikembangkan sesuai kebutuhan.
Penjernih Air Tenaga Surya
Penjernih air tenaga surya bantuan UGM di wilayah bencana Sumatera Foto: (Dokumentasi UGM) |
UGM bekerja sama dengan Universitas Teuku Umar dan Politeknik Negeri Lhokseumawe memasang sistem penjernih air bertenaga surya di wilayah terdampak banjir untuk memperkuat layanan air bersih masyarakat dan fasilitas kesehatan. Sistem ini memiliki kapasitas 500 sampai 1.000 galon per hari atau setara 1.900 hingga 3.800 liter per hari.
Kapasitas ini mampu memenuhi kebutuhan air minum dan air bersih bagi ratusan warga, terutama di posko pengungsian dan fasilitas kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit. Lokasi pemasangan awal dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Bener Meriah dan berdasarkan hasil asesmen awal akan diprioritaskan di Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, serta Polindes di wilayah Simpur.
(faz/nwk)












































