Lulusan vokasi atau perguruan tinggi terapan sering dilirik perusahaan bahkan sebelum lulus. Tapi mengapa perguruan tinggi vokasi ini tetap jadi pilihan kesekian?
"Antara vokasi dan nonvokasi. Masih banyak orang yang menganggap bahwa vokasi itu, maaf, derajatnya lebih rendah. Padahal ketika kemudian mampu membangun jembatan dengan dunia usaha, di dalam negeri maupun di luar negeri itu akan cepat, lebih cepat," ujar Anggota Komisi X DPR RI Ledia Hanifa Amalia.
Hal tersebut ia sampaikan dalam forum 'Urun Rembuk: Masa Depan Perguruan Tinggi Swasta Indonesia' yang digelar di Auditorium Gedung Nurcholish Madjid, Universitas Paramadina, Cipayung, Jakarta Timur, Senin (29/12/2025).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada beberapa perguruan tinggi (vokasi) misalnya, kalau dia cerita ke saya, dia selesai D3 maupun S1-nya, tapi kemudian karena sudah ada kerjasama (PT vokasi dan dunia usaha) jadi lebih mudah (ke dunia industri/usaha)," imbuh Ledia.
PTN Vokasi di SNPMB Jadi Pilihan Kesekian, Kemdikti Mau Re-Branding
Direktur Kelembagaan Kemdiktisaintek Prof Mukhamad Najib menuturkan bahwa pemerintah kini tengah berupaya memperkuat posisi dan citra pendidikan vokasi di masyarakat. Najib mengatakan meski Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) tahun-tahun sebelumnya sudah membuka pilihan ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Vokasi, masih saja calon mahasiswa memilihnya jadi pilihan kedua hingga kesekian.
"Kita ini sedang ada kajian. Kita sedang mengarah ke depannya bagaimana meningkatkan branding dari vokasi supaya anak-anak juga mau menjadikan vokasi itu pilihan pertama bukan pilihan kedua atau pilihan kesekian. Kemarin (SNPMB 2025) itu kan sudah dicoba seperti misalnya politeknik itu sistem penerimaan mahasiswa barunya bareng dengan yang (PTN) akademik, tapi ternyata ya tetap aja mereka menjadikan yang vokasi itu pilihan kesekian," ungkap Najib.
Ia menegaskan bahwa janji utama pendidikan vokasi adalah kemudahan lulusan untuk terserap di dunia kerja, namun realitas di lapangan masih menunjukkan banyak tantangan yang harus diatasi.
"Jadi janji lulusan vokasi itu lebih mudah terserap di dunia kerja ternyata tidak sebenarnya juga terbukti. Dan ini menjadi tantangan kita bagaimana merumuskan program yang relevan meningkatkan relevansi kita dengan dunia industri, di samping industrinya sendiri yang sekarang sedang struggling," kata Najib.
Acuan ke Polytechnic University Hongkong
Najib mencontohkan branding PTN vokasi seperti Polytechnic University di Hong Kong. Kajian Kemdiktisaintek soal re-branding PTN vokasi ini diharapkan sudah keluar hasilnya di tahun 2026.
"Kita sedang merumuskan bagaimana menguatkan branding vokasi. Jadi salah satunya ini yang sedang kita pikirkan bagaimana kita bisa memiliki polytechnic university, jadi universitas terapan tetapi punya brandingnya universitas politeknik. Misalnya di Hong Kong ada Hong Kong Polytechnic University itu kuat sekali. Dan di beberapa negara maju juga dia punya polytechnic university. Ini sedang kita kaji, menurut saya 2026 ini kita sudah punya kepastian ya untuk itu," tutur Najib.
(nwk/nwk)











































