Universitas Terbuka (UT) menunjukkan kepedulian terhadap mahasiswa dan masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat melalui program UT Peduli. Melalui inisiatif UT Peduli, UT menyalurkan bantuan kemanusiaan sekaligus memastikan dukungan berkelanjutan dari sisi sosial dan pendidikan.
Bencana tersebut berdampak pada sosial-ekonomi masyarakat dan studi mahasiswa UT. Menyikapi hal ini, UT menegaskan respons tak cukup berupa bantuan darurat, melainkan perlu kebijakan berkelanjutan yang berpihak pada mahasiswa, salah satunya melalui pembebasan uang kuliah tunggal (UKT) bagi yang terdampak.
Kebijakan yang ditetapkan oleh Rektor UT, Prof. Dr. Ali Muktiyanto, S.E., M.Si., ini diberlakukan pada Semester 2025/2026 Ganjil sebagai bentuk keprihatinan mendalam, tanggung jawab institusi, serta komitmen UT dalam memastikan keberlanjutan studi mahasiswa di tengah situasi darurat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Melalui kebijakan ini, UT memberikan beasiswa berupa pembebasan UKT selama satu hingga dua semester, sesuai dengan tingkat keparahan dampak bencana yang dialami mahasiswa," dikutip dalam keterangan resmi UT, Senin (29/12/2025).
Sebanyak 2.020 mahasiswa tercatat menerima manfaat dari kebijakan ini. Langkah ini diharapkan meringankan beban finansial mahasiswa pasca bencana serta mencegah putus studi akibat tekanan ekonomi.
Kebijakan pembebasan UKT ini merupakan komitmen UT mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pendidikan berkualitas (SDGs 4) dan pengurangan ketimpangan (SDGs 10), dengan menjaga akses pendidikan tetap inklusif dan adil meski dalam kondisi sulit.
Tidak hanya berhenti pada kebijakan akademik, UT juga melanjutkan perannya dalam pemulihan pasca bencana melalui program UT Peduli. Program ini menyalurkan donasi kepada mahasiswa di wilayah terdampak, seperti Tapanuli Tengah, Sibolga, Aceh Tamiang, dan Medan.
Bantuan yang diberikan tidak sekadar berupa logistik, melainkan juga menjadi bagian dari upaya pemulihan sosial yang berkesinambungan.
Selain itu, UT mengembangkan program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang difokuskan pada pemulihan kondisi sosial masyarakat terdampak bencana. Program ini dirancang sebagai bentuk kehadiran langsung UT di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam membangun ketahanan sosial pasca bencana.
Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, UT Daerah berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Sinergi lintas sektor ini menjadi kunci penyesuaian kebutuhan lapangan dan mendukung penanganan bencana, sejalan dengan SDGs 17 tentang kemitraan.
Prof. Ali Muktiyanto menegaskan seluruh kebijakan ini merupakan wujud nyata pelayanan prima dan kepedulian sosial institusi terhadap mahasiswa.
"UT berkomitmen untuk tidak meninggalkan mahasiswa dalam situasi sulit dan memastikan bahwa bencana alam tidak menjadi penghalang bagi keberlanjutan pendidikan," ujarnya menambahkan.
Melalui kebijakan dan aksi kemanusiaan, UT menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi inklusif dan adaptif yang berorientasi pada nilai kemanusiaan. Dalam kondisi darurat, UT hadir bukan hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai mitra yang mendampingi mahasiswa dan masyarakat untuk terus melangkah, pulih, dan bertahan.
(akd/ega)










































