China sedang bersiap menghadapi rekor jumlah lulusan perguruan tinggi pada musim panas mendatang. Hal ini belum pernah terjadi sebelumnya di China.
Rekor lulusan perguruan tinggi tersebut diperkirakan mencapai 12,7 juta mahasiswa. Namun, ada isu lain di samping itu. Jutaan fresh graduate tersebut dinilai akan meningkatkan tekanan pada pasar kerja yang sudah tegang dan ekonomi yang melambat.
Angka lulusan angkatan 2026 diperhitungkan sekitar 4 persen lebih besar daripada lulusan pada 2025 yang sebesar 12,22 juta. Ada tambahan 480.000 anak muda yang bersaing untuk mendapatkan pekerjaan, menurut Kementerian Pendidikan China.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kementerian Pendidikan China mengumumkan angka tersebut pada hari Kamis (20/11/2025), seraya meluncurkan kampanye baru untuk memastikan cukupnya kesempatan.
Dikutip dari South China Morning Post, jumlah lulusan perguruan tinggi di China telah meningkat selama dekade terakhir dan diperkirakan akan terus meningkat selama 10 tahun ke depan. Ini turut memicu tingginya angka pengangguran di kalangan pemuda dan menimbulkan kekhawatiran tentang stabilitas sosial.
"Kita harus belajar dari pengalaman masa lalu ... dan memberikan penekanan yang lebih besar pada penerapan langkah-langkah kebijakan yang luar biasa dan tidak konvensional untuk mengatasi risiko yang tidak terduga," demikian pernyataan resmi dari konferensi nasional di China tentang isu tersebut, yang juga diadakan pada Kamis (20/11/2025).
Meskipun angkatan kerja 2025 menghadapi tekanan dan kesulitan, tingkat ketenagakerjaan secara keseluruhan tetap stabil, menurut para penulis laporan tersebut.
Berdasarkan data resmi, tingkat pengangguran di China bagi mereka yang berusia 16 hingga 24 tahun, tidak termasuk mahasiswa, sedikit menurun menjadi lebih dari 17 persen pada September dan Oktober 2025. Ini terjadi setelah mencapai titik tertinggi dalam 20 bulan terakhir di angka 18,9 persen pada Agustus 2025, seiring dengan banyaknya lulusan yang membanjiri pasar kerja selama musim panas.
Pada konferensi hari Kamis, para pejabat senior dari beberapa kementerian pemerintah menginstruksikan pejabat daerah dan universitas untuk meluncurkan inisiatif baru guna memperluas dan meningkatkan kualitas lapangan kerja lulusan bagi angkatan yang akan lulus.
Ada 'Gelar Mini' untuk Latih Kemampuan Kerja
Sejak awal semester musim gugur, serangkaian kampanye rekrutmen telah menciptakan lebih dari 12 juta lowongan pekerjaan, menurut Kementerian Pendidikan.
Universitas telah diarahkan oleh Kementerian untuk meluncurkan gelombang baru 'gelar mini' berdurasi 3 hingga 12 bulan, yang berfokus pada kemampuan kerja beserta kursus pelatihan vokasi yang selaras dengan kebutuhan industri.
Pasar tenaga kerja China mengalami kekurangan talenta struktural, yakni banyak anak muda kesulitan menemukan pekerjaan yang memenuhi harapan mereka. Sementara pabrik-pabrik seringkali kesulitan merekrut teknisi yang berkualifikasi.
Ekonom terkemuka dan presiden Universitas Keuangan dan Ekonomi Shanghai, Liu Yuanchun mengatakan jumlah lulusan universitas akan terus meningkat selama dekade mendatang. Diproyeksikan angka tahunannya akan melampaui 16 juta pada 2038.
"Di satu sisi, pasokan lulusan universitas meningkat. Di sisi lain, kemajuan teknologi mengurangi kapasitas penyerapan lapangan kerja di industri-industri kelas atas terkait," ujarnya dalam wawancara dengan Guancha.cn pada Rabu (19/11/2025).
"Oleh karena itu, tekanan ketenagakerjaan terhadap lulusan universitas dalam 10 tahun ke depan akan menjadi yang belum pernah terjadi sebelumnya," jelasnya.
Ia memperingatkan pengangguran kaum muda dapat meningkat menjadi krisis sosial dan politik. Ia juga menyerukan transformasi industri padat karya dan perluasan sektor jasa.
Kekhawatiran Gen-Z China: AI Ancam Karier
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (AI) juga diperkirakan akan membawa tantangan baru bagi pasar tenaga kerja. Sebuah survei nasional oleh perusahaan rekrutmen terkemuka, 51job, menemukan sekitar 53 persen profesional Generasi Z memandang penggantian pekerjaan oleh AI sebagai ancaman jangka panjang utama bagi karier mereka.
Berdasarkan laporan tentang tren AI di tempat kerja yang diterbitkan pada Maret, lebih dari separuh responden tanpa memandang usia, meyakini posisi berketerampilan rendah seperti peran administratif tingkat pemula misalnya, akan digantikan oleh teknologi canggih dalam tiga tahun ke depan.
