Wakil Rektor UGM: Kegiatan Aktivisme Mahasiswa Bakal Dikonversi Jadi SKS

Rahma Harbani - detikEdu
Jumat, 23 Sep 2022 08:00 WIB
Kampus UGM Yogyakarta
Kampus UGM Yogyakarta (dok. UGM)
Jakarta -

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat, dan Alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) Arie Sujito mengatakan, pihaknya berencana mengakui kegiatan aktivisme mahasiswa. Hal tersebut dilakukan dengan mengkonversi kegiatan aktivisme sebagai Satuan Kredit Semester (SKS).

"Berbagai kegiatan aktivisme yang dilakukan oleh para mahasiswa akan diakui dan dapat dihitung sebagai SKS," kata Arie melalui keterangan tertulisnya dalam forum diskusi Pemikiran Bulaksumur #17, Sabtu (17/9/2022).

Arie berargumen, dunia akademik dan dunia nonakademik mahasiswa kerap terus dipisahkan. Dampaknya, kata Arie, banyak mahasiswa yang aktif di bidang akademik namun keahlian sosialnya lemah. Begitupun sebaliknya.

"Kita bisa tahu persis bahwa seringkali kalau mahasiswa aktif kegiatan kemahasiswaan - akademiknya ditinggalkan. Atau sebaliknya. Ini akhirnya mereka mengalami eksklusivitas yang aktivis merasa sok aktivis, yang akademik merasa sok akademis," ungkapnya.

Arie juga menegaskan, dunia akademik dan nonakademik mahasiswa perlu dipadukan. Hal ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendidik mahasiswa sebagai calon pemimpin muda yang cerdas dan berkemampuan matang secara mental maupun moral.

Dunia akademik dimaksud Arie adalah berbagai kegiatan akademik, substansi dalam kurikulum perkuliahan, ragam aktivitas pendidikan, dan pengajaran terutama di kelas. Sementara dunia nonakademik adalah pengembangan diri melalui berbagai kegiatan produktif (ekstra dan intrakurikuler) yang di dalamnya menjadi arena persemaian leadership, skill manajerial, dan kreativitas yang cerdas.

Meski demikian, kegiatan aktivisme yang dimaksud Arie tidak hanya merujuk sebatas pada kegiatan demonstrasi. Menurutnya, sudah ada perluasan makna dalam kegiatan aktivisme mahasiswa seperti, pengabdian masyarakat hingga kerelawanan.

"Ia (kegiatan aktivisme) mengalami perluasan makna dan praktik. Hal ini seperti pemberdayaan sosial, advokasi kebijakan, kerelawanan, kemanusiaan, entrepreneurship, aktivitas dalam gerakan teknologi alternatif dan seterusnya," jelas Arie.

Sebab itu, Arie mengatakan, rencana konversi aktivisme mahasiswa menjadi SKS juga merupakan wujud apresiasi UGM pada mahasiswa yang sudah mengabdi untuk masyarakat.

"Konversi aktivisme menjadi Satuan Kredit Semester (SKS) adalah bentuk apresiasi kampus kepada mahasiswa yang mengabdi pada masyarakat," kata Arie.

"Ternyata ada banyak aktivitas mahasiswa UGM kita itu yang luar biasa (untuk perlu diakui), tidak hanya sekedar (kegiatan) destruktif yang digambarkan di media terakhir ini, (yakni) soal aksi pembakaran jaket almamater," sambungnya.



Simak Video " Mobil Balap Listrik Karya Anak UGM Melantai di PEVS 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(rah/nwy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia