Kampanye Mahasiswa Berkain: Ada Apa?

Kampanye Mahasiswa Berkain: Ada Apa?

Trisna Wulandari - detikEdu
Kamis, 08 Sep 2022 11:00 WIB
Kampanye bebas berkain mahasiswa oleh BEM FEB Unair.
Kampanye bebas berkain mahasiswa oleh BEM FEB Unair. Foto: Dok. BEM FEB Unair
Jakarta -

Budaya berkain belakangan menjadi tren di tengah remaja dan dewasa muda kota besar seperti Jakarta, khususnya Jakarta Selatan. Warna dan jenis kain yang dikenakan pun beragam karena berasal dari penjuru nusantara.

Prilly Latuconsina, aktris yang kini juga berprofesi sebagai dosen praktisi, baru-baru ini membagikan potretnya berkain dalam busana semi formal saat mengajar. Di akun @prillylatuconsina96, ia berbagi tampilan berkain batik.

Sebelumnya, Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia (Fasilkom UI) juga menerapkan dresscode beragam wastra, yaitu kain tradisional nusantara di Gelar Karya Seni (GKS) Fasilkom UI, 13-15 Juni 2022.

Aturan main ini diterapkan dalam rangkaian acara pameran wastra Indonesia, pengenalan upaya pengembangan produk tenun atau tinung rambu penenun perempuan NTT, pameran fotografi dan lukisan karya dosen, tendik, serta mahasiswa, talkshow musik dan berkain budaya Indonesia, hingga pemutaran preview film Indah dalam Praduga.

Wara-wiri mahasiswa berkain pun menjadi salah satu pemandangan di kampus Universitas Airlangga (Unair) baru-baru ini. Kampanye bertagar #BebasBerkain ini digelar Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (BEM FEB) Unair dalam gelaran Social Action, mulai 5-9 September 2022.

Menggaet Komunitas Pemuda Berkain Surabaya, para mahasiswa menggalakkan kampanye dengan berfoto di luar ruangan menggunakan kain. Potret para mahasiswa lalu dapat di-post ke media sosial dengan keterangan foto terkait kesetaraan gender.

Neny Mei Linawati, Ketua Pelaksana Social Action 2022, menuturkan bahwa kegiatan bebas berkain ini bertujuan untuk meningkatkan awareness tentang kesetaraan gender dan menghapus stigma bahwa kain hanya digunakan perempuan atau kelas tertentu saja.

Ia mencatat, budaya berkain sudah lama tumbuh di Indonesia dan menjadi salah satu identitas bangsa. Di masa lalu, kain tradisional lebih dikenal penggunaannya oleh bangsawan dan perempuan. Menurutnya, kini masyarakat umum, baik perempuan maupun laki-laki, dapat mengenakan kain yang bersifat unisex atau genderless.

Neny berharap, Social Action akan membangun mindset masyarakat, khususnya anak muda, mengenai kebebasan berpakaian.

"Social Action memberikan wadah khususnya bagi anak muda melalui campaign 'Expressing Yourself with #BebasBerkain', dengan harapan dapat membangun mindset dan menghapus stigma maskulin dan feminin dalam cara berpakaian, khususnya anak muda," kata Neny, dikutip dari laman Unair, Kamis (8/9/2022).


Budaya Berkain, Kenapa?

Pada 2016, Unair juga mencatatkan salah satu guru besarnya sebagai sosok yang gemar berkain. Guru Besar FEB Unair Prof. Dr. Bambang Tjahjadi, SE.,MBA., Ak., mudah dikenali dengan tampilan berkain jarik batik dan tongkat, baik di kampus maupun di konferensi internasional.

Lulusan Western Carolina University ini menuturkan, ia sudah berkain sejak sekitar 2013 dengan tujuan melestarikan kebudayaan Jawa. Ia pun mengenakan motif batik beragam, mulai dari Pekalongan, Sidoarjo, hingga Madura.

"Setidaknya, ada tiga kebudayaan Jawa yang diakui dunia. Yakni, batik, wayang, dan keris. Ini luar biasa. Nah, kalau bukan kita sebagai warga negara yang bangga akan capaian tersebut, terus, siapa lagi?" tuturnya kala itu.



Simak Video "Daliatex Kusuma Hadirkan The Trilogy of Painted Harmony"
[Gambas:Video 20detik]
(twu/kri)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia