Mahasiswa FMIPA UI Kembangkan Teknologi Pemantau Curah Hujan

Mahasiswa FMIPA UI Kembangkan Teknologi Pemantau Curah Hujan

Anisa Rizki - detikEdu
Rabu, 31 Agu 2022 07:00 WIB
Alat pemantau curah hujan buatan Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia
Alat pemantau curah hujan buatan Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas IndonesiaFoto: dok. UI
Jakarta -

Tim Departemen Geosains Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) memasang teknologi pemantau curah hujan di area Sungai Citengah, Kecamatan Sumedang Selatan.

Ketua tim, Dr. Eng. Supriyanto, menjelaskan, teknologi yang diberi nama Pantir itu memiliki kemampuan untuk mengukur intensitas curah hujan, tinggi muka air tanah, suhu dan kelembaban lingkungan di area pemasangan.

Dengan pemanfaatan Pantir, peningkatan potensi bencana banjir yang kerap mengancam masyarakat Indonesia saat musim penghujan dapat diketahui lebih awal, sehingga dampak kerugian materi maupun korban jiwa dapat dihindari atau diminimalisir.

"Pantir dapat diandalkan untuk memitigasi bencana banjir melalui pemantauan tinggi muka air sungai, tinggi muka air tanah dan intensitas curah hujan di wilayah tangkapan air," kata Supriyanto seperti yang dikutip dari keterangan tertulis UI.

Dalam kondisi normal, hasil pengukuran alat Pantir akan diperbarui setiap 10 menit. Namun pada kondisi siaga, hasil pengukuran diperbarui setiap 5 menit atau bahkan setiap 3 menit.

Telah Dirancang dan Dikembangkan Sejak 2019

Inovasi ini telah dirancang dan dikembangkan di Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI pada tahun 2019.

Pantir mulai diuji coba di lingkungan sepanjang tahun 2020, yaitu di kawasan kampus UI dan Kota Depok. Memasuki tahun 2021 hingga 2022, Pantir dipasang di tiga sungai Jawa Barat, yaitu sungai Ciliwung di Kota Depok, sungai Cibeet di Kabupaten Karawang, dan yang terakhir dan baru saja dilakukan adalah di sungai Citengah di Kabupaten Sumedang.

Dalam teknologi ini tersemat sebuah elektronika digital berupa mikrokontroler 32-bit yang mengendalikan sensor pemantau ketinggian muka air dan sensor intensitas curah hujan. Data hasil pantauan Pantir dapat disimpan dalam SD-Card ataupun dikirim ke database server melalui jaringan internet.

Pantir Dilengkapi dengan Sistem GPS

"Kelebihan lain dari Pantir adalah adanya fitur receiver GPS sehingga waktu pemantauan (tahun, bulan, hari, jam, menit, detik) tersinkronisasi dengan server maupun stasiun Pantir lainnya," ujar Supriyanto yang juga Kepala Laboratorium Kebencanaan Departemen Geosains FMIPA UI tersebut.

Keunggulan lainnya dari Pantir adalah sumber listrik tenaga surya yang membuatnya terbebas dari ketergantungan PLN sehingga Pantir dapat ditempatkan di remote area.

Dengan konsumsi daya maksimal 15 Watt, baterai Pantir dapat bertahan hingga 3 hari tanpa suplai dari matahari.



Simak Video "Waspada! BMKG Prediksi Curah Hujan Tahunan 2023 Berpotensi Melebihi Rata-rata"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia