Direktur Poltek Madiun: Lulusan D2 atau Teknisi Operator Sangat Sedikit

Anatasia Anjani - detikEdu
Kamis, 19 Mei 2022 20:30 WIB
Adu Terampil Mekanik Isuzu
ilustrasi teknisi.Foto: Dok. Isuzu
Jakarta -

Direktur Politeknik Negeri Madiun (PNM) Muhamad Fajar Subkhan menyebut lulusan diploma dua (D2) masih sedikit dan hanya mencapai 0,05 persen dari jumlah lulusan berbagai jenjang. Sehingga tenaga operator di Indonesia juga masih sedikit.

Ia juga mengatakan perlu adanya langkah akselerasi untuk D2 juga harus diimbangi dengan kualitas yang baik melalui kerja sama dengan Magang Dunia Usaha Dunia Industri atau DUDI.

"Lulusan D2 di Indonesia atau teknisi operator sedikit hanya 0,05 persen kurang dari satu persen," ujar Fajar yang dikutip dari Silahturahmi Merdeka Belajar Kemdikbudristek di Youtube, Kamis (19/5/2022).

Ia menambahkan,"Saat ini jumlah lulusan sarjana terapan jumlahnya juga tidak seimbang. Banyak pekerjaan yang harusnya diisi sarjana terapan diisi jenjang lain."

Di PNM sendiri ada 2 prodi yang akan ditingkatkan menjadi sarjana terapan yaitu D3 komputer akuntasi menjadi D4 akuntansi perpajakan dan D3 teknik otomotif menjadi D4 teknologi rekayasa.

Berkaitan dengan itu, Direktur Kelembagaan dan Sumber Daya Pendidikan Tinggi Vokasi, Ditjen Pendidikan Vokasi Henri Tambunan mengatakan minimnya lulusan D2 juga terjadi karena persepsi masyarakat mengenai lulusan vokasi yang sering kalah saing dengan sarjana.

"Perguruan tinggi wajib berkolaborasi dengan dunia industri dalam merancang kurikulum agar sesuai dengan link and match," ujar Henri.

Henri menjelaskan program D2 fast track memiliki periode waktu lulusnya lebih cepat yaitu hanya 3 semester. Praktek magang yang dilakukan oleh mahasiswa juga merupakan kurikulum.

"Perguruan tinggi dan mitranya diharuskan bersama untuk menyusun kurikulum. Competitive fund memberikan bantuan dana untuk peningkatan program diploma tiga dan mendukung program diploma dua fast track," ujar Henri.

Menurut Kepala SMK PGRI Mejayan Sampun Hadam mengatakan program D2 fast track akan meningkatkan kompetensi lulusan SMK. SMK bukan akhir dari tujuan pembelajaran.

"SMK bisa melanjutkan ke D2 dan D4. Level ini lebih jelas. Program D2 fast track lebih cepat jalannya. Meningkatkan dua step, dari step satu menjadi step tiga," ujar Sampun.

"D2 fast track merupakan tangga yang tidak terlalu jauh bisa dicapai oleh siswa apalagi magang satu tahun," lanjut Sampun.

Lebih lanjut, pada prakteknya di lapangan menurut Direktur Pengembangan PT Inka Agung Sedaju mengatakan ada beberapa hal yang harus diperhatikan institusi pendidikan dan industri.

"Jangan terlalu link and match dengan satu industri. Harus beragam. Concern-nya karena tidak semua siswa dapat diserap oleh industri," ujar Agung.

Selain itu, Sampun juga memberikan saran agar D2 fast track juga memiliki biaya yang terjangkau.

"Banyak anak smk ini ekonomi lemah jadi UKT harus terjangkau. D2 fast track harus memberi kepastian kerja. Kami harus memberikan mindset agar anak itu tidak harus bekerja di industri," ujar Sampun.



Simak Video "Beli Motor Sekarang Indennnya Bisa Satu Bulan, Ada Apa?"
[Gambas:Video 20detik]
(atj/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia