Publikasi Internasional RI Meroket di Tengah Rendahnya Dana Riset

Kristina - detikEdu
Selasa, 19 Apr 2022 13:45 WIB
ilustrasi komputer
Ilustrasi publikasi ilmiah internasional. Foto: unsplash
Jakarta -

Pendanaan riset di pendidikan tinggi Indonesia masih terbilang rendah dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara. Meski demikian, publikasi ilmiah internasional justru terus meroket dalam lima sampai enam tahun terakhir.

Berdasarkan data United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan World Bank 2019, anggaran dana riset Indonesia masih di angka 0,08 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini masih jauh di bawah Kamboja (0,12 persen) dan Filipina (0,14 persen).

Data terakhir menunjukkan adanya kenaikan anggaran, menjadi 0,1 persen. Meski terjadi peningkatan, dana penelitian ini didominasi oleh belanja pemerintah. Hanya 26 persen yang ditopang oleh sektor swasta.

Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam, pada pekan lalu mengatakan, alokasi anggaran di Indonesia ini berkebalikan dengan Thailand dari proporsi peran swasta dalam mendanai riset dan pengembangan.

"Kebalikan dengan Thailand yang anggaran risetnya sudah tinggi (sebesar) 0,62 persen dan itupun 37 persen adalah belanja swasta, yang pemerintah itu hanya 27 persen," kata Nizam yang kala itu mengisi acara Fellowship Jurnalisme Pendidikan Batch IV daring yang diselenggarakan oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan berkolaborasi dengan PT Paragon Technology and Innovation.

Menurut pernyataan Nizam, 20 persen dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk bidang pendidikan, hanya sepertiga dari anggaran tersebut yang masuk ke pusat. Dua pertiga sisanya masuk Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk anggaran pendidikan di daerah.

Sepertiga anggaran di pusat itupun masih dibagi-bagi untuk berbagai kementerian. Kemendikbudristek sendiri hanya mendapat jatah sekitar 40 persen dari anggaran untuk pusat tadi, kata Guru Besar Teknik Sipil Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

"Pendidikan tinggi itu kalau kita lihat dari proporsi APBN itu kecil sekali, di bawah tiga persen dari APBN untuk menyelenggarakan pendidikan tinggi. Itu kalau dibagi dengan jumlah mahasiswa di PTN saja itu anggaran pemerintah untuk membiayai pendidikan tinggi hanya sekitar USD 2.000 (Rp 28 juta) per lulusan," terangnya.

Di tengah minimnya dana riset di pendidikan tinggi ini, kawan-kawan perguruan tinggi justru banyak menghasilkan publikasi ilmiah di jurnal internasional. Kata Nizam, "Dalam enam tahun terakhir ini publikasi internasional perguruan tinggi kita itu meroket luar biasa sekali, melejit sangat-sangat signifikan."

Merujuk pada data yang diolah dari Scientific Journal Rankings (SJR), Indonesia menempati posisi ke-54 dalam hal publikasi internasional di Asia Tenggara pada 2013. Lalu, pada 2020 posisinya melejit pada urutan ke-21.

Negara-negara yang sebelumnya mentereng dalam publikasinya justru peringkatnya menurun saat Indonesia bertahan bahkan naik. Malaysia turun dari posisi 23 ke 24. Demikian pula dengan Singapura, dari posisi 31 turun peringkat menjadi 37 dan Thailand turun ke posisi 41 dari sebelumnya ranking 40.



Simak Video "4 Teknologi yang Mencoba "Melawan" Kuasa Tuhan "
[Gambas:Video 20detik]
(kri/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia