Kemendikbudristek & Prasmul Gelar Pelatihan CEO SMK ke 60 Kepala SMK

Jihaan Khoirunnisaa - detikEdu
Sabtu, 06 Nov 2021 15:10 WIB
Universitas Prasetya Mulya.
Foto: dok. Universitas Prasetya Mulya
Jakarta -

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran di Indonesia per Februari 2021 mencapai angka 8,75 juta orang. Jumlah ini naik dibandingkan dengan Februari 2020 yang sebanyak 6,93 juta. Mirisnya, pengangguran terbuka masih didominasi oleh lulusan SMK yang berkontribusi sebesar 11,45%.

Melihat hal tersebut, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek meluncurkan Program CEO SMK bagi para kepala sekolah guna mengurangi jumlah pengangguran SMK. Dengan adanya program CEO SMK diharapkan Kepala Sekolah dapat memposisikan diri sebagai Chief Executive Officer (CEO). Layaknya CEO, kepala SMK bertugas menjadi model bagi sekolahnya. Mereka dituntut kreatif dan proaktif mengikuti dinamika industri agar dapat menyelaraskan hasil lulusannya dengan kebutuhan industri.

Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kemendikbudristek turut menggandeng 5 perguruan tinggi. Salah satunya yaitu Universitas Prasetiya Mulya yang ikut berpartisipasi memberikan pelatihan kepada 60 Kepala SMK terpilih dari seluruh Indonesia.

Adapun rangkaian program CEO CMK, yakni 'CEO Meets CEO' telah berlangsung pada Kamis (4/11/2021) di Hotel Aloft, Jakarta Selatan. Acara tersebut turut mengundang sejumlah pembicara yang membahas seputar perkembangan dan persaingan dalam dinamika industri, seperti President Director & CEO ISS Indonesia, Elisa Lumbantoruan.

Kepada peserta yang merupakan kepala sekolah, Elisa menekankan pentingnya pembangunan karakter bagi siswa-siswi SMK. Selain itu, dia juga menilai perlunya penguasaan 3 bahasa dasar agar lulusan SMK tetap relevan dengan kebutuhan industri.

"Saat ini kita sudah harus melengkapi diri dengan tiga bahasa. Bahasa pertama yaitu bahasa komunikasi (Bahasa Inggris). Bagaimana pun kita harus bergaul masyarakat global, bisa melalui internet. Sumber pengetahuan juga ada di sana. Kedua bahasa sains (matematika) dan bahasa IT (teknologi). Orang harus mengerti cara pakai handphone, tablet atau komputer," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (5/11/2021).

Menurut Elisa, dengan menguasai 3 bahasa tersebut maka akan mudah dalam beradaptasi dengan situasi terkini. Dia mengatakan adanya revolusi industri 4.0 tidak hanya menghapus beberapa pekerjaan karena digantikan dengan mesin. Sebaliknya, era ini justru banyak memberikan peluang terhadap terciptanya pekerjaan baru.

Tidak jauh berbeda, CEO, PT. Bina Sejahtera Bangun Persada, Ikang Fawzi pun menyoroti pentingnya pendidikan karakter bagi lulusan SMK. Hal ini mengingat pekerja yang banyak diincar perusahaan di masa kini adalah mereka yang tidak hanya pintar tapi berkarakter.

"Dan industri itu kita tidak butuh orang pintar. Yang utama orang berkarakter. Saya nggak butuh orang yang pintar sekali. Tapi orang yang rajin, bisa menghadapi pressure, bisa menghadapi tantangan. Ternyata pendidikan karakter lebih utama," katanya.

Di sisi lain, Ikang juga mendorong SMK untuk lebih kreatif dan mau berkolaborasi. Tidak hanya dengan pabrik, melainkan juga dengan startup maupun lembaga training.

"Yang kita perlukan saat ini adalah berpikir kreatif. Jangan hanya berpatokan dengan mindset lulusan SMK itu kerja di pabrik, di kantor," katanya.

"Kedua bisa berkolaborasi. Jangan berdiri sendiri. SMK bisa kolaborasi dengan perusahaan startup yang ada. Atau dengan lembaga training untuk ke Jepang misalnya. Agar bisa bekerja dikirim ke Jepang. Sekarang kondisinya sudah meningkat sedemikian rupa," lanjutnya.

Sementara dari sisi industri, menurutnya pandemi membawa perubahan yang cukup mendadak dan cepat. Sehingga hal tersebut ikut berdampak pada perusahaan. Dia menyebut perusahaan yang bisa bertahan bukanlah yang kuat dan besar, melainkan yang cepat merespons dan beradaptasi.

Sebagai informasi, program CEO CMK dilaksanakan dalam kurun waktu 62 hari. Kegiatan pembelajaran disampaikan secara hybrid yaitu melalui daring dan luring (blended learning). Sedangkan metode pembelajarannya cukup beragam seperti games, diskusi interaktif baik berbasis konsep maupun studi kasus, full konsep dengan modul Mini MBA, praktik penyusunan Rancangan Proyek Inovatif Pengembangan Sekolah, praktik implementasi proyek inovatif dan ujian sertifikasi.

Guru SMKN 3 Balikpapan, Kalimantan Timur yang merupakan peserta program CEO SMK mengaku banyak menerima ilmu baru dari pelatihan yang digelar oleh Prasmul.

"Di sini kami diajarkan Prasmul, bukan hanya layanan jasa, tetapi juga membuat produk riil yang layak dijual dan bersaing," tandasnya.



Simak Video "Respons Masyarakat Tentang Kebijakan Kemendikbudristek"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia