7 Fakta Unik UGM, Pernah Ngampus di Keraton hingga Punya Rumusan Jati Diri

Fahri Zulfikar - detikEdu
Kamis, 02 Sep 2021 07:58 WIB
Kampus UGM Yogyakarta
Fakta-fakta UGM Yogyakarta Foto: Kampus UGM Yogyakarta (dok. UGM)
Jakarta - Universitas Gadjah Mada atau UGM Yogyakarta merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia saat ini. Menurut rilis terbaru lembaga pemeringkatan pendidikan tinggi QS WUR, UGM menempati 250 besar dunia dan nomor satu di Indonesia.

Dikutip dari laman resminya, ternyata kampus UGM lahir dari kancah perjuangan revolusi kemerdekaan bangsa Indonesia. Pada periode awal kemerdekaan, UGM didaulat sebagai Balai Nasional Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan bagi penyelenggaraan pendidikan tinggi nasional.

Tak hanya itu, dalam sejarah yang tertulis di arsip.ugm.ac.id, UGM juga memiliki berbagai fakta-fakta unik dan menarik yang jarang diketahui orang. Apa saja fakta unik tersebut?

Berikut ini 7 fakta unik UGM:


1. Universitas negeri pertama di Indonesia pascamerdeka

Saat pergolakan revolusi fisik pascamerdeka tak juga reda, wilayah Jakarta dan Bandung menjadi tidak kondusif lagi. Banyak pelajar dan mahasiswa akhirnya meninggalkan kota-kota besar dan mencari daerah yang aman.

Akhirnya ibu kota Republik Indonesia dan beberapa kantor pemerintahan juga dipindahkan ke daerah lain yakni Yogyakarta dan Klaten. Sejak saat itu banyak didirikan berbagai perguruan tinggi di Klaten dan Yogyakarta.

Perguruan tinggi inilah yang kemudian pada tahun 1949 digabung menjadi Universitit Negeri Gadjah Mada yang kini kita kenal dengan Universitas Gadjah Mada (UGM).

UGM didirikan melalui PP No. 23 Tahun 1949 tertanggal 16 Desember 1949. Namun, setiap tahun UGM memilih memperingati dies natalis pada tanggal 19 Desember.


2. Gabungan beberapa sekolah tinggi

Berdiri dengan nama "Universitas Negeri Gadjah Mada", perguruan tinggi ini merupakan gabungan dari beberapa sekolah tinggi yang telah lebih dulu didirikan.

Sekolah tinggi tersebut antara lain Balai Perguruan Tinggi Gadjah Mada, Sekolah Tinggi Teknik, dan Akademi Ilmu Politik yang terletak di Yogyakarta, Balai Pendidikan Ahli Hukum di Solo, serta Perguruan Tinggi Kedokteran Bagian Praklinis di Klaten. Pada tahun 1949 sekolah tinggi tersebut kemudian digabung menjadi Universitit Negeri Gadjah Mada


3. Pernah berada di dalam Keraton Yogyakarta

Keberadaan UGM tidak terlepas dari peran penting Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Keraton Yogyakarta.

Pada awal berdirinya, UGM melaksanakan kegiatan belajar-mengajar di Sitihinggil Keraton Yogyakarta. Selain itu, kuliah juga dilaksanakan di tempat lain seperti Komplek Ngasem, dan Jetis.

Para mahasiswa di Kampus Universitit Negeri Gadjah Mada Komplek Pagelaran Kraton YogyakartaPara mahasiswa di Kampus Universitit Negeri Gadjah Mada Komplek Pagelaran Kraton Yogyakarta Foto: dok. UGM

Untuk menjaga agar civitas akademika tidak melupakan pentingnya peran Keraton sekaligus tetap menyatukan diri dengan masyarakat, kemudian diselenggarakan kegiatan Nitilaku. Kegiatan tersebut dilaksanakan setiap acara Dies Natalis UGM.

Nitilaku mengandung makna perjalanan kilas-balik sekaligus ungkapan syukur atas pencapaian UGM dalam ikut serta dalam mencerdaskan kehidupan bangsa sampai saat ini maupun masa mendatang.


4. Mengabdi kepada masyarakat sejak dulu

UGM turut andil dalam Pembangunan Pendidikan di Luar Jawa melalui Program Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) sejak tahun 1950-an. Pada awal kemerdekaan, kondisi pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan, terutama di luar Jawa. Sekolah tingkat menengah sangat terbatas jumlahnya.

Kampus UGM Komplek Ngasem Tahun 1950-anKampus UGM Komplek Ngasem Tahun 1950-an Foto: dok. UGM

Hal ini disebabkan tidak ada tenaga pengajar atau guru. Oleh karena itu, melalui program Pengerahan Tenaga Mahasiswa, beberapa mahasiswa UGM ikut merintis pendidikan menengah di luar Jawa.

Selanjutnya Pembangunan Kampus Bulaksumur >>>



Simak Video "BEM UGM Bagikan Sembako, Sindir Pemerintah Tangani Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia