Curhat Mahasiswa ITB : Perlu Ada Kuliah Tatap Muka dan Praktikum

Trisna Wulandari - detikEdu
Minggu, 09 Mei 2021 12:52 WIB
Kampus ITB
Mahasiswa ITB minta ada kuliah tatap muka (Foto: Istimewa)
Jakarta - Menjelang perkuliahan semester ganjil 2021/2022, mahasiswa ITB menyampaikan aspirasinya tentang pembelajaran daring dan luring ke depan dalam dialog virtual bersama Direktorat Pendidikan ITB.

Mahasiswa perwakilan Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian ITB, Atanayaka Gasal Adirajasa, menuturkan, mahasiswa butuh menjalankan praktikum, mendapat kemudahan meminjam alat pembelajaran, dan menjalani kelas luring. Selama pandemi, Ata dan mahasiswa ITB lainnya melakukan pembelajaran daring.

Ata mengatakan, praktikum jadi salah satu kebutuhan utama yang tetap perlu dilaksanakan untuk menunjang pemahaman materi para mahasiswa di fakultasnya. Ia menambahkan, Himpunan mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika menyarankan kegiatan praktikum konsisten seperti seminggu sekali dan peminjaman alat untuk melakukan modul seperti yang biasa dijalankan sebelum pandemi.

"Kalau tidak bisa praktikum, saran dipermudah pinjam alat oleh himpunan dan (praktikumnya) dilakukan di luar ITB," kata Ata dalam Dialog Akademik ITB episode Perkuliahan Semester 1 2021/2022, Sabtu (8/5/2021).

Ia bercerita, mahasiswa ITB tingkat akhir menghadapi birokrasi yang sulit untuk mengakses alat dalam processing data. Sementara tidak semua mahasiswa tingkat akhir punya alat. "Baiknya ke depannya dipermudah," katanya.

Ata mengatakan, di samping praktikum, para mahasiswa Teknik Geodesi dan Geomatika juga butuh kuliah lapangan. "Di Geodesi sendiri (kuliah lapangan) jadi lebih sulit. Butuh prokes, tetapi ke depan (agar) bisa dipermudah lagi izinnya, dengan prokes yang diperketat. Saya sendiri (jadi) tidak bisa ekskursi," tuturnya.

Ia menambahkan, kebutuhan praktikum, kuliah lapangan karangsambung, dan pemetaan mandiri oleh himpunan juga diperlukan mahasiswa Teknik Geologi ITB.

Ata menuturkan, Himpunan Mahasiswa Teknik Geologi (HMTG) ITB"GEA" mendukung kuliah luring karena hakikat geologi sebagai ilmu lapangan. HMTG "GEA" menyarankan adanya pergiliran masuk kampus dan melakukan praktikum.

"Satu angkatan ada 80 mahasiswa, bisa dibagi menjadi 8 kelompok berisi 10-11 orang. Dalam sehari, ada dua kelompok masuk kampus dan praktikum dua modul. Dua kelompok ini menyelesaikan semua modul yang ada dalam 2 hari selanjutnya. Jika modul sudah habis, maka dua kelompok berikutnya masuk kampus. Jadi bergiliran untuk masuk kampus dan melakukan praktikum," kata Ata.

Sementara itu, menurut mahasiswa Prodi Oseanografi ITB, praktikum berbasis pemrograman sudah efektif dan efisien selama kuliah daring. Ata menuturkan, adanya rekaman praktikum juga membantu mahasiswa Oseanografi untuk memahami materi. Kuliah daring juga dirasa adaptif dan efisien, kendati materi hitungan dan aplikasi kurang tersampaikan.

Di sisi lain, menurut para mahasiswa Oseanografi, praktikum lapangan benar-benar tidak bisa tergantikan. "Feel-nya berbeda, dan pemahaman teori jadi kurang," terang Ata.

Adapun praktikum selam di Oseanografi dibatasi hanya seminggu. "Ini tidak dapat memenuhi kompetensi selam yang dibutuhkan, sementara fasilitas saraga (Sasana Olahraga Ganesha ITB) hanya terbuka untuk dosen, dan tidak mahasiswa. Sarannya adalah kolam saraga bisa digunakan dalam keperluan latihan alat dan perpanjangan masa praktikum," kata Ata.

Ia menambahkan, sementara pada praktikum eksperimen, pemahaman kurang tersampaikan meskipun praktikum sudah diganti agar lebih mudah dilakukan di rumah. Karenanya, Himpunan Mahasiswa Oseanografi menyarankan, untuk semester depan, praktikum yang cukup melibatkan software dapat dilakukan secara daring, sementara praktikum yang memerlukan eksperimen maupun keterampilan dilakukan secara luring.

"Sementara praktikum lapangan usahakan ada, agar mahasiswa tidak memiliki kemampuan nol," ucap Ata.

Adapun mahasiswa ITB prodi Meteorologi juga merasakan kerja lapangan terhambat. Di sisi lain, mahasiswa Meteorologi menilai kuliah daring membantu pengarsipan materi pembelajaran dan mendengar ulang materi. Di samping itu, perkuliahan juga dirasa lebih inovatif karena harus mengikuti keadaan pandemi. "Bekerja secara full online membuat soft skill dan hard skill menyesuaikan," kata Ata.

Sementara itu, mahasiswa Meteorologi ITB juga menyarankan penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sudah bisa disesuaikan dengan keadaan kuliah online dan offline. Di samping itu, mereka menyarankan teknis perkuliahan didata berdasar kebutuhan matakuliah dan output-nya. Dengan begitu, mahasiswa bisa memiliki plan matakuliah secara online, offline, dan hybrid sesuai kondisi sebenarnya.

Ata menuturkan, mahasiswa Meteorologi ITB juga menyorot dosen untuk menyesuaikan perkuliahan sesuai situasi. "Tugas sangat banyak, dengan overload SKS. Tanggal merah seperti tidak ada," tuturnya.

Ia menambahkan, mahasiswa Meteorologi menyarankan bobot SKS diseimbangkan dengan beban akademik. Di samping itu, dosen dan tendik melakukan pemetaan dalam membuat metode belajar yang lebih baik "Semua dosen (agar) satu frame mengenai perkuliahan, misalnya bobot SKS terhadap tugas, cara mengajar, dan lain-lain," kata Ata.

Ata menuturkan, teknis kuliah daring juga menyebabkan kelelahan mental dan fisik, kesulitan fokus karena distraksi di rumah dan durasi panjang melihat laptop, masalah kompatibilitas device belajar, dan masalah kuota dan jaringan para mahasiswa di fakultasnya.

Adapun bantuan internet untuk WhatsApp dan Zoom yang mereka dapat tidak sesuai dengan platform perkuliahan di ITB yang menggunakan Microsoft Teams dan Edunext. "Jadi kurang tepat guna," tutur Ata.

Ata mengatakan, kelas luring menurut himpunan prodinya tidak harus dilakukan penuh satu minggu. Setidaknya, kelas offline mengurangi kelelahan mental dan kelelahan fisik seperti sakit punggung, sakit mata, dan kejenuhan di depan laptop tanpa interaksi langsung.

"Kuliah offline lebih stabil, dan diperlukan ke depannya," kata Ata.

Ata menuturkan, mahasiswa Meteorologi menyarankan kegiatan di kampus tidak lebih dari 100 orang dengan prokes ketat. "Aspirasi FITB semoga bisa digodok lebih baik, dan jangan mendadak, agar mahasiswa dapat mencari kos dan (keperluan) lainnya," tutup Ata.

Nah, begitu harapan dan saran mahasiswa ITB tentang kuliah semester depan tahun. Bagaimana di kampus kamu?



Simak Video "Penjelasan Peneliti ITB soal Potensi Tsunami 20 M di Selatan Pulau Jawa"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/pal)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia