Peneliti IPB : Populasi Ikan Hiu Martil di Indonesia Masih Terjaga

Pasti Liberti Mappapa - detikEdu
Senin, 22 Mar 2021 13:00 WIB
Di ambang kepunahan waktu hampir habis untuk selamatkan hiu dan ikan pari
Penelitian IPB mengungkapkan populasi hiu martil di perairan Indonesia masih terjaga (Foto: BBC Magazine)
Jakarta - Hasil penelitian para ilmuwan Institut Pertanian Bogor atau IPB mengungkapkan keragaman genetik hiu martil bergigi di perairan Indonesia masih lebih baik dibandingkan dengan keragaman genetik di bagian barat Samudera Hindia. Keragaman genetik ini membuat struktur populasinya masih terjaga.

"Meskipun ada ancaman terhadap ikan hiu martil namun kita menemukan keragaman genetiknya cukup tinggi," ujar Hawis Madduppa, dosen dan peneliti Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan dari IPB pada detikEdu beberapa waktu lalu.

Penelitian berkolaborasi dengan WCS (Wildlife Conservation Society) Indonesia tersebut dilakukan dengan mengambil sampel di beberapa daerah tempat para hiu martil di Indonesia.

Lokasi sampel hiu yang diambil yakni Aceh sebanyak 41 ekor, Balikpapan 30 ekor, dan Lombok 29 ekor. Sementara di kawasan Samudera Hindia, diambil 65 ekor dan Papua Barat 14 ekor.

"Sampel-sampel yang digunakan adalah hiu-hiu martil bergigi yang telah mati sesuai Peraturan Menteri KP No 5/PERMEN-KP/2018," ujar doktor bidang Biotechnology and Molecular Genetics dari University of Bremen, Jerman itu.

Sampel tersebut diambil DNA-nya kemudian diekstraksi di Laboratorium Biodiversitas dan Biosistematika IPB. Pengambilan DNA dilakukan sesuai dengan protokol gSYNC DNA extraction kit product.

Dari DNA tersebut, para peneliti mengambil fragmen genetika yang dinamakan gen mitokondria sitokrom oksidase sub-unit 1 atau disingkat CO1.

"Ada lebih dari 179 sekuen DNA dari mitokondria CO1 yang rata-rata panjangnya 594 bp diambil dari sampel-sampel tersebut. Kemudian seluruhnya disunting menggunakan algoritma ClustalW. Dari situ terungkap pula adanya jaringan haplotype," ujar Hawis.

Dalam meneliti hubungan genetika antara hiu-hiu martil bergigi di Indonesia dengan di kawasan perairan di belahan dunia lainnya, para peneliti juga mengacu pada jaringan haplotype yang ada.

Dengan diketahuinya distribusi haplotype di tiap-tiap lokasi, maka akan mudah pula terungkap peredaran hiu-hiu ini serta hubungan genetika mereka di antara populasi dunia.

Di perairan Aceh, jenis haplotype (H) hiu martil bergigi yang paling banyak didapat adalah H1. Jenis ini serupa dengan yang didapat di India, Madagaskar, dan Uni Emirat Arab (UAE).

Sedangkan H3 dan H4 banyak terdapat di Papua Barat dan Balikpapan-Lombok. Sebenarnya di Aceh pun juga banyak ditemui H3 dan H4. Namun karena paling banyak ditemui H1, maka Aceh disimpulkan sebagai kawasan perairan yang khas, karena haplotype jenis H1 di sana paling banyak ditemui dibanding kawasan lainnya di dunia.

Kemudian setelah mendapat data keragaman genetik dari haplotype, dilanjutkan kemudian dengan pengolahan data struktur populasi. Ini dilakukan dengan metode perbandingan antara populasi S. lewini di Indonesia, dengan yang di bagian barat Samudera Hindia.

Berdasarkan analisis, hiu martil bergigi di Balikpapan dan Lombok menunjukkan adanya homogenitas atau kesamaan. Hal tersebut sejalan dengan studi yang pernah dilakukan sebelumnya di perairan Indo-Australia, bahwa homogenitas di Balikpapan dan Lombok, sama dengan di utara perairan Australia.

Selain Lombok dan Balikpapan, juga di Papua Barat. Namun meski homogen, Balikpapan masih menunjukkan angka keragaman haplotype 0,646 atau di atas rata-rata keragaman di bagian barat Samudera Hindia yang hanya maksimal 0,467.

Sedangkan Papua Barat dan Lombok disimpulkan sangat rendah yakni masing-masing 0,143 dan 0,362. Dengan demikian, pola populasi tunggal ini menunjukkan bahwa kawasan perairan tersebut merupakan zona migrasi hiu martil bergigi. Tidak hanya itu, kawasan pesisir di sekitarnya juga ditengarai menjadi tempat berkembang biak.

Informasi tentang struktur populasi tersebut sangat dibutuhkan untuk sosialisasi mengenai penanganan mereka serta bagaimana status konservasinya. "Melihat hasil penelitian keragaman genetiknya tinggi dan adanya indikasi struktur genetik, maka implikasinya pengelolaannya harus secara terpisah per wilayah," kata Hawis.

Pada 1999 spesies hiu martil ditengarai dalam kondisi terancam akibat aktivitas penangkapan yang berlebihan. Lantas kemudian, pada 2009, lembaga konservasi dunia IUCN (International Union for Conservation of Nature) memasukkan spesies ini ke dalam Daftar Merah Terancam (EN).

"Hiu jenis ini merupakan salah satu dari hiu-hiu yang terancam punah lantaran perburuan siripnya. Sekitar tiga juta ekor hiu di seluruh dunia, setiap tahunnya dibunuh demi perdagangan sirip hiu," kata pengajar IPB, Hawis.

Lima tahun kemudian, Convention on International Trade in Endangered Species (CITES) mendaftarkan hiu martil ini dalam status Appendix II. Dan akhirnya pada 2019 lalu, statusnya meningkat menjadi Sangat Terancam (CR).

"Eksploitasi yang tinggi terhadap hiu martil bergigi berakibat pada struktur populasinya. Kesuburan mereka terganggu sehingga keragaman genetik mereka juga ikut berkurang," ujar Hawis. (pal/erd)

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia