Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja

Foto Edu

Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja

Dok. FKM UI - detikEdu
Sabtu, 12 Nov 2022 19:03 WIB

Jakarta - Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.

Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Ini dia penampakan buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!' karya dr. NoRiYu yang digelar di FKM UI, Depok, Jawa Barat, Jumat (11/11/2022).
Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.
Penelitian dr. NoRiYu yang dibiayai oleh WHO tersebut menghasilkan sebuah instrumen berupa kuesioner untuk deteksi dini faktor risiko ide bunuh diri pada remaja sebagai sebuah upaya pencegahan primer. Skrining atau penapisan sangatlah krusial untuk pencegahan bunuh diri remaja. Jadi sebelum remaja muncul ide bunuh diri, penting untuk memperhatikan dan memelihara wellbeing mental remaja. Hal ini bukan hanya berdasarkan penelitian tetapi juga fakta temuan di tempat praktek dr. NoRiYu sebagai dokter spesialis ilmu kedokteran jiwa (psikiater), bahwa remaja-remaja yang berkonsultasi dengan dr. NoRiYu hampir semuanya disertai dengan ide bunuh diri dan self-harm. 
Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.
Proses penulisan buku ini sebenarnya merupakan sebuah rangkuman perjalanan panjang kepedulian dr. NoRiYu terhadap remaja. Titik awalnya adalah saat dr. NoRiYu masih menjadi Wakil Ketua Komisi 9 DPR RI pada tahun 2012 dan ia meluncurkan model project bernama Mobile Mental Health Sevice (MMHS) berupa 2 unit ambulan kesehatan jiwa yang keliling ke sekolah-sekolah di DKI Jakarta. Program MMHS berupa edukasi dan skrining kesehatan jiwa yang diberikan kepada pelajar-pelajar SLTA/sederajat di DKI Jakarta. Edukasi diberikan dengan layar televisi yang ada di ambulans. Sementara di dalam ambulans juga terdapat ruang konsultasi dengan meja, kursi, serta AC. Di sini, para pelajar -yang terdeteksi mempunyai masalah kesehatan jiwa pada saat skrining, dipersilakan untuk melakukan konsultasi dengan psikiater/psikolog yang standby di dalam unit ambulans. Inisiatif ini pun diprofilkan oleh TV Al Jazeera English. 
Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.
dr. NoRiYu pun meminta remaja berprestasi peraih 100 medali Olimpiade Matematika & Sains Internasional, Kader Bela Negara Republik Indonesia, & Pemegang Rekor MURI, Mischka Aoki dan Devon Kei Enzo, untuk ikut membaca buku CBDRYD. Mischka dan Devon ikut memberikan blurb untuk buku CBDRYD dan hadir pada acara peluncuran buku dr. NoRiYu untuk memberikan Catatan Tepi. Mischka dan Devon tidak hanya berprestasi tetapi juga mempunyai aktivisme sosial yang tinggi dan mulai tampak adanya kepedulian terhadap kesehatan jiwa. Melihat ini, dr. NoRiYu segera mengajak Mischka dan Devon untuk ikut mengkampanyekan pencegahan bunuh diri remaja dengan sasaran Gen Alpha, Gen Z, dan milenial.
Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.
Menurut dr. NoRiYu, ia ingin memastikan bahwa remaja diberikan kesempatan untuk bersuara dan berperan dalam diskusi-diskusi tentang mereka terutama dalam upaya pencegahan bunuh diri. dr. NoRiYu tidak mau remaja semata-mata menjadi obyek penelitian dan penerapan kebijakan yang tidak sesuai dengan diri mereka. Melalui penelitian dan penyebarluasan hasil penelitian melalui buku seperti yang dilakukan oleh dr. NoRiYu maka jangkauan diseminasi informasi tentang pencegahan bunuh diri remaja kepada masyarakat menjadi lebih luas.
Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.
Buku ini juga mendapatkan endorsement dari Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin. Budi Gunadi menuliskan pesan melalui buku CBDRYD bahwa dengan semakin banyaknya skrining atau penapisan kesehatan jiwa di sekolah-sekolah maka semakin dini bantuan yang dapat diberikan pada generasi muda kita, sehingga bunuh diri di kalangan remaja dapat dicegah.  dr. NoRiYu berharap bahwa dengan dukungan Menteri Kesehatan, akan ada keberpihakan program kesehatan jiwa bagi remaja terutama melalui alokasi anggaran untuk penapisan dan juga intervensi.
Kepedulian terhedap kesehatan jiwa remaja menjadi fokus dalam bedah buku bertajuk 'Cegah Bunuh Diri Remaja: Yuk, Deteksi!'.
Buku dr. NoRiYu relevan dengan kondisi terkini karena juga mengulas tantangan kesehatan jiwa remaja akibat pandemi. Penelitian dr. NoRiYu pra-pandemi menunjukkan bahwa ada 4 dimensi yang signfikan untuk deteksi dini faktor risiko bunuh diri, yaitu peraasaan kesepian, perasaan hilang harapan, perasaan ingin menjadi sesuatu yang bermakna, dan perasaan menjadi beban. Setelah terjadi pandemi, dimensi-dimensi tersebut malah semakin terdampak dan teramplifikasi pada remaja. 
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja
Kampanye Pencegahan Bunuh Diri pada Remaja

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT