Perang tak hanya merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat. Banyak warga kehilangan harta benda hingga modal usaha yang selama ini menjadi tumpuan hidup.
Berangkat dari persoalan tersebut, Yusra Ali Idris, wisudawan asal Sudan di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), mengembangkan penelitian yang diharapkan dapat membantu korban perang membangun kembali kemandirian ekonomi mereka.
Yusra baru saja meraih gelar Magister dari Program Studi S2 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Unesa. Ia adalah penerima Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB) dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padukan AI, Personal Branding, dan Kewirausahaan
Dalam penelitian tersebut, Yusra merancang model strategi bertahan hidup yang memadukan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), personal branding, dan kewirausahaan.
"Fokus penelitian manajemen yang saya kembangkan merujuk pada model strategi bertahan hidup bagi warga Sudan yang kehilangan seluruh modal dan harta benda akibat konflik, dengan mengintegrasikan pemanfaatan kecerdasan buatan, personal branding, serta strategi kewirausahaan praktis," ungkap Yusra dikutip dari laman Unesa, Kamis (29/10/2026).
Ketiganya diintegrasikan sebagai pendekatan untuk membantu masyarakat Sudan yang kehilangan aset produktif akibat konflik. Yusra berharap mereka dapat kembali membangun usaha, bahkan ketika harus memulai dari nol.
"Model riset ini dirancang khusus sebagai panduan aplikatif agar para korban perang di Sudan dapat membangun kembali kemandirian ekonomi dari titik nol tanpa harus bergantung pada bantuan luar," lanjutnya.
Bagi Yusra, ilmu manajemen tidak hanya berkaitan dengan pengelolaan perusahaan atau pencapaian keuntungan. Ilmu tersebut juga dapat digunakan untuk menjawab persoalan sosial, termasuk membantu masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan akibat konflik.
Melalui penelitiannya, ia menggabungkan tiga pendekatan utama. Pemanfaatan AI menjadi salah satu unsur yang dikembangkan untuk mendukung upaya menemukan peluang ekonomi.
Sementara itu, personal branding diharapkan dapat membantu seseorang membangun identitas dan mengenalkan usaha yang dirintisnya.
Adapun strategi kewirausahaan menjadi landasan untuk memulai dan mengembangkan usaha secara bertahap. Perpaduan ketiga pendekatan tersebut dirancang sebagai panduan bagi masyarakat yang ingin kembali mandiri secara ekonomi setelah kehilangan harta dan modal usaha.
Meski demikian, penerapan model tersebut tetap perlu mempertimbangkan kondisi sosialserta kebutuhan masyarakat yang terdampak konflik. Tantangan selanjutnya adalah menerjemahkan hasil penelitian menjadi pendekatan dan diterapkan untuk membantu warga.
Perjalanan Kuliah di Indonesia
Perjalanan Yusra hingga meraih gelar magister di Indonesia bukan tanpa tantangan. Ia harus beradaptasi dengan bahasa dan lingkungan akademik yang berbeda dari tempat asalnya.
Dalam proses tersebut, Yusra mengaku mendapat dukungan dari dosen, pimpinan fakultas, serta Unesa Global Engagement (UGE). Pendampingan itu membantunya beradaptasi dengan kehidupan akademik di Indonesia hingga berhasil menyelesaikan studi.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, ada kisah personal yang membuat kelulusannya terasa begitu berarti. Yusra mempersembahkan pencapaian akademiknya untuk sang ayah yang telah meninggal dunia di tengah konflik bersenjata di Sudan.
"Kelulusan ini memiliki arti personal bagi saya karena saya persembahkan untuk mendiang ayah yang wafat sepanjang konflik angkatan bersenjata di wilayah kami," tuturnya.
Bagi Yusra, gelar magister yang diraihnya bukan hanya pencapaian pendidikan, melainkan juga bagian dari perjalanan hidup yang diwarnai kehilangan dan perjuangan. Ia berharap ilmu yang diperoleh bisa bermanfaat bagi masyarakat di negara asalnya yang terdampak perang.
Dapat Beasiswa Penuh S3 dari Rektor Unesa
Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Yusra memiliki keinginan untuk kembali menempuh pendidikan di Unesa pada jenjang doktoral. Keinginan tersebut mendapat respons langsung dari Rektor Unesa, Cak Hasan.
Yusra diberi beasiswa untuk melanjutkan S3 di Unesa. Kesempatan itu membuka jalan bagi Yusra untuk melanjutkan pengembangan keilmuannya sekaligus memperluas penelitian yang berorientasi pada pemulihan ekonomi masyarakat terdampak perang.
Bagi Yusra, perjuangan setelah meraih gelar magister masih berlanjut. Tantangan berikutnya adalah memastikan gagasan yang dirancang melalui penelitian dapat diterjemahkan menjadi pendekatan yang relevan dan memungkinkan untuk diterapkan.
