"Gundul-gundul pacul-cul, gembelengan..."
Bagi sebagian orang, penggalan lirik itu mungkin langsung membawa ingatan kepada masa kanak-kanak. Bagi sebagian lainnya, kalimat tersebut mungkin terdengar asing. Tidak semua anak Indonesia tumbuh dengan lagu berbahasa Jawa. Bahkan bagi generasi muda yang berasal dari keluarga Jawa, Gundul-Gundul Pacul mungkin lebih dikenal sebagai lagu daerah yang pernah muncul di buku pelajaran daripada sebagai lagu yang sungguh-sungguh dipahami maknanya.
Padahal, lagu yang terdengar sederhana ini menyimpan pertanyaan pendidikan yang penting: apa yang terjadi ketika seseorang diberi tanggung jawab, tetapi menjalankannya dengan kesombongan dan kecerobohan? Pertanyaan tersebut membuat Gundul-Gundul Pacul menarik untuk dikenalkan kembali, terutama ketika kita berbicara tentang pendidikan karakter dan kepemimpinan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gundul-Gundul Pacul merupakan salah satu tembang dolanan Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Lagu ini menggunakan bahasa Jawa dan dikenal sebagai bagian dari lagu anak-anak dalam tradisi Jawa. Buku Tembang Dolanan karya Purwadi dan Endang Waryanti (2016) menempatkan lagu seperti Gundul-Gundul Pacul dalam tradisi tembang dolanan yang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga membawa pesan moral bagi anak-anak.
Lirik yang dikenal luas berbunyi:
Gundhul-gundhul pacul-cul, gembelengan
Nyunggi-nyunggi wakul-kul, gembelengan
Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar.
Secara sederhana, gundhul berarti kepala tanpa rambut, pacul berarti cangkul, nyunggi berarti membawa sesuatu di atas kepala, dan wakul berarti bakul atau wadah. Sementara itu, gembelengan dalam berbagai kajian dimaknai sebagai sikap besar kepala, sombong, atau tidak berhati-hati.
Cerita yang muncul dari liriknya sederhana. Seseorang membawa bakul di atas kepala. Ia bersikap gembelengan. Bakul itu akhirnya terguling dan nasinya tumpah. Bagi anak-anak, cerita itu mudah dibayangkan. Tetapi kesederhanaan tersebut justru membuatnya menjadi bahan pendidikan yang menarik. Bayangkan seseorang membawa bakul berisi makanan di atas kepalanya. Ia harus menjaga keseimbangan. Ia perlu memperhatikan langkah. Sedikit kecerobohan dapat membuat bakul terguling dan seluruh isinya jatuh. Jika ada sesuatu yang dipercayakan kepadanya, maka ia harus menjaganya.
Belajar Tanggung Jawab dari Sebuah Bakul
Adi Suprayogi, dalam artikel Imaji: Jurnal Seni dan Pendidikan Seni (2018), membaca Gundul-Gundul Pacul dalam kerangka pendidikan karakter. Ia menyoroti pesan agar seseorang yang mengemban jabatan tidak menjadi gembelengan, melainkan berhati-hati dalam bertingkah laku dan mengambil keputusan. Menurutnya, lagu dolanan dapat membantu anak memahami nilai kehidupan, rasa hormat, dan tanggung jawab. Pembacaan tersebut membuat cangkul dalam judul lagu menjadi menarik. Cangkul adalah alat kerja. Ia digunakan untuk mengolah tanah. Nilainya bukan terutama pada bentuknya, tetapi pada pekerjaan yang dilakukan dengannya.
Jabatan pun dapat dipandang dengan cara yang serupa. Kewenangan memberi seseorang kemampuan untuk mengambil keputusan. Posisi memberikan ruang untuk bertindak. Kekuasaan memungkinkan seseorang memengaruhi kehidupan orang lain. Semua itu seharusnya digunakan untuk mengerjakan tugas yang dipercayakan, bukan sekadar untuk menikmati kedudukan. Seorang pemimpin dengan demikian, tidak hanya perlu ditanya tentang seberapa tinggi jabatannya, justru yang lebih penting adalah apa yang ia kerjakan dengan kewenangan yang dimilikinya?
Kajian Muhammad Indra Saputra dalam Al-Tadzkiyyah: Jurnal Pendidikan Islam (2016) secara khusus membaca Gundul-Gundul Pacul dalam perspektif kepemimpinan. Ia menghubungkan pesan lagu tersebut dengan integritas, kepercayaan, dan kehormatan seorang pemimpin. Menariknya, pesan semacam itu tidak hanya relevan bagi pejabat negara. Ketua kelas memegang kepercayaan teman-temannya. Ketua organisasi mahasiswa dipercaya membawa kepentingan anggota. Guru memiliki otoritas dalam proses pendidikan. Dosen memiliki kewenangan akademik. Kepala sekolah bertanggung jawab terhadap komunitas pendidikan. Orang tua memiliki otoritas dalam keluarga. Bahkan seorang mahasiswa yang ditunjuk menjadi ketua kelompok sedang belajar menggunakan kewenangan.
Pendidikan kepemimpinan tidak perlu menunggu seseorang memperoleh jabatan besar. Ia dapat dimulai ketika seorang anak pertama kali dipercaya menjaga sesuatu yang bukan miliknya. Anak belajar bahwa dipercaya berarti bertanggung jawab. Remaja belajar bahwa memiliki pengaruh tidak berarti boleh memperlakukan orang lain sesuka hati. Mahasiswa belajar bahwa kepemimpinan bukan sekadar mendapatkan posisi, melainkan menggunakan kemampuan untuk kepentingan bersama. Dengan demikian, kepemimpinan bukan pertama-tama persoalan jabatan, tetapi latihan menggunakan kepercayaan dengan bertanggung jawab.
Pendidikan Karakter Tidak Cukup dengan Hafalan
Di sinilah lagu tradisional dapat memiliki tempat yang menarik dalam pendidikan. Seorang anak mungkin sulit mengingat definisi tentang tanggung jawab. Namun ia dapat mengingat seseorang yang membawa bakul, bersikap gembelengan, lalu membuat nasinya tumpah. Guru dapat mengajukan pertanyaan sederhana: "Kalau kamu dipercaya membawa sesuatu yang penting, bagaimana kamu akan menjaganya?" Pertanyaan tersebut dapat membuka percakapan tentang tanggung jawab tanpa harus memulai dari teori yang abstrak.
Dari sana, guru dapat mengembangkan pertanyaan lain: Apa yang terjadi jika ketua kelas tidak bertanggung jawab? Mengapa pemimpin harus mau mendengarkan? Apa akibatnya jika seseorang menggunakan kepercayaan untuk kepentingan dirinya sendiri? Mengapa orang yang memiliki kewenangan justru perlu belajar rendah hati? Dengan cara demikian, lagu tidak berhenti sebagai materi hafalan tentang budaya daerah. Ia menjadi pemantik percakapan pendidikan.
Samidi Khalim dalam IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya (2011) juga membaca Gundul-Gundul Pacul sebagai tembang yang membawa pesan moral tentang kerendahan hati dan sikap hidup. Pesan tersebut dapat dikembangkan dalam pendidikan karakter karena anak belajar bahwa memiliki kemampuan atau kedudukan tidak berarti dirinya lebih tinggi daripada orang lain.
Kerendahan hati juga bukan berarti seorang pemimpin tidak boleh tegas atau takut mengambil keputusan. Kerendahan hati berarti menyadari bahwa kewenangan tidak membuat seseorang selalu benar. Karena manusia terbatas, seorang pemimpin perlu mendengar. Ia perlu menerima nasihat, mempertimbangkan pandangan yang berbeda, dan bersedia dikoreksi. Ia juga perlu memahami bahwa keputusan yang dibuatnya dapat membawa akibat bagi kehidupan orang lain.
Ketika Kesalahan Satu Orang Berdampak pada Banyak Orang
Gambaran tentang bakul yang terguling membantu kita memahami konsekuensi tersebut: Wakul ngglimpang, segane dadi sak latar. Bakul jatuh. Nasi tumpah.
Pemimpin tidak pernah membawa dirinya sendiri. Ada orang lain yang ikut menanggung akibat dari keputusan yang dibuatnya. Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk mengambil keputusan dengan hati-hati. Dalam konteks pendidikan, hal ini penting karena sekolah dan perguruan tinggi bukan hanya tempat mentransfer pengetahuan. Pendidikan juga merupakan tempat seseorang belajar menggunakan kebebasan, kepercayaan, dan kewenangan.
Karena itu, pendidikan kepemimpinan seharusnya tidak hanya mengajarkan bagaimana menjadi pemimpin, tetapi juga bagaimana menggunakan pengaruh secara bertanggung jawab. Aturan tetap penting. Pengawasan, transparansi, dan akuntabilitas juga penting. Namun semua itu tetap dijalankan oleh manusia. Karena itu, pembentukan karakter tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh aturan. Di sinilah kebudayaan lokal memiliki kemungkinan besar dalam pendidikan.
Lagu, cerita rakyat, peribahasa, permainan, dan berbagai tradisi dapat menjadi sumber pendidikan karakter ketika dibaca secara kritis dan kontekstual. Penelitian Kholid Irsani, Aman, dan Saefur Rochmat dalam Diakronika (2022) tentang Gundul-Gundul Pacul sebagai bentuk etnopedagogi kepemimpinan juga menunjukkan bahwa tembang tersebut dapat dipahami sebagai pendidikan kepemimpinan berbasis tradisi. Artinya, Gundul-Gundul Pacul tidak harus diperlakukan hanya sebagai peninggalan budaya yang harus dihafalkan. Ia dapat menjadi bahan percakapan antara guru dan siswa tentang tanggung jawab, kerendahan hati, kepercayaan, dan kepemimpinan.
Dari Lagu Daerah Menjadi Ruang Belajar
Pendidikan berbasis budaya tidak berarti setiap unsur budaya harus diterima begitu saja. Kebudayaan perlu dibaca secara kritis dan dihubungkan dengan kebutuhan pendidikan masa kini. Dalam kasus Gundul-Gundul Pacul, guru dapat mengajak siswa menemukan sendiri pesan yang terkandung dalam cerita sederhana tentang cangkul, bakul, dan nasi yang tumpah.
Anak muda dapat bertanya apa arti menjadi pemimpin. Guru dapat mengajak siswa mendiskusikan hubungan antara kepercayaan dan tanggung jawab. Orang tua dapat menggunakannya untuk berbicara tentang kerendahan hati. Mahasiswa dapat menghubungkannya dengan pengalaman memimpin organisasi atau kelompok belajar. Dengan demikian, pendidikan karakter tidak selalu harus datang dari buku-buku yang tebal. Kadang-kadang, sebuah lagu yang dinyanyikan anak-anak selama beberapa generasi dapat membuka percakapan yang jauh lebih dalam.
Kita juga tidak perlu menjadikan setiap tafsir terhadap lagu ini sebagai fakta sejarah yang tidak dapat diperdebatkan. Asal-usul lagu dan berbagai atribusi mengenai penciptanya memang memiliki versi yang berbeda-beda. Untuk kepentingan pendidikan, yang lebih penting adalah bagaimana pesan moral yang terkandung di dalamnya dapat dibaca secara kritis dan relevan dengan kehidupan sekarang.
Jabatan Bukan Mahkota
Pada akhirnya, Gundul-Gundul Pacul memberikan gambaran sederhana tentang sesuatu yang penting dalam pendidikan: orang perlu belajar menjaga apa yang dipercayakan kepadanya. Mungkin kepercayaan itu berupa tugas sekolah. Mungkin berupa tanggung jawab sebagai ketua kelas. Mungkin berupa organisasi mahasiswa. Mungkin berupa tanggung jawab sebagai guru atau dosen. Suatu hari mungkin pula berupa jabatan yang lebih besar. Namun prinsipnya sama. Ketika kepercayaan datang, pertanyaannya bukan hanya apakah kita mampu memegangnya, tetapi juga bagaimana kita menggunakannya.
Gundul-Gundul Pacul tidak menawarkan teori kepemimpinan yang rumit. Ia hanya memberikan sebuah gambaran yang mudah diingat: seseorang membawa sesuatu yang penting, kehilangan kehati-hatian, lalu seluruh isi bakulnya tumpah. Mungkin itulah alasan lagu lama ini masih layak dinyanyikan dan dibicarakan.
Sebab pendidikan bukan hanya mempersiapkan anak agar menjadi orang yang pintar. Pendidikan juga mempersiapkan mereka agar ketika suatu hari dipercaya memegang sesuatu yang penting, mereka tahu cara menjaganya. Jabatan bukan mahkota. Kekuasaan bukan milik pribadi. Kepercayaan adalah tanggung jawab. Dan pelajaran itu mungkin dapat dimulai dari sebuah lagu anak-anak.
*) Sugianto, MDiv, MTh
Dosen STT Reformed Indonesia, Jakarta
*) Tulisan ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi detikcom
Simak Video "Video: Gus Yahya Tetap Pertahanankan Posisi Ketum PBNU, Siap Tempuh Jalur Hukum"
[Gambas:Video 20detik] (nwk/nwk)
