Kanker menjadi salah satu penyakit mematikan yang masih dicari solusinya. Para peneliti di seluruh dunia terus mengembangkan riset baru untuk menghadirkan solusi pengobatan kanker.
Salah satunya riset dari dosen Departemen Farmasetika dan Teknologi Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Dr Yedi Herdiana. Ia mengembangkan sistem penghantaran obat antikanker yang kini sudah diakui dunia.
Bahkan kepakarannya kini telah tercatat dalam World's Top 2% Scientists 2026. Menurutnya, pengembangan obat tidak hanya berhenti pada penemuan zat aktif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan pengobatan bisa dicapai ketika zat aktif itu diformulasikan dengan baik dan berhasil mencapai sasaran pengobatan. Dalam bidang sistem penghantaran obat, Yedi mengkaji bagaimana zat aktif bisa menuju sasaran terapi penderita kanker.
Bak 'kendaraan' yang mengantarkan zat aktif, Yedi melihat potensi hal itu ada di polimer alam seperti kitosan. Setelah zat aktif diformulasikan menjadi obat, kitosan bertugas sebagai kendaraan yang mendistribusikan zat tersebut mencapai bagian tubuh yang dituju.
"Bidang kepakaran saya adalah teknologi farmasi, terutama bagaimana memformulasikan obat dan mengembangkan sistem penghantarannya. Zat aktif tidak bekerja begitu saja setelah masuk ke dalam tubuh. Ada banyak proses yang harus dilalui sebelum zat tersebut mencapai sasaran pengobatan," katanya, dikutip dari laman resmi Unpad, Jumat (23/10/2026).
Penggunaan Kitosan Sebagai Penghantar Obat Antikanker
Pada dasarnya, tubuh sudah memiliki mekanisme yang dapat memengaruhi distribusi dan eliminasi zat yang masuk ke dalam darah. Tapi, dalam terapi kanker diperlukan sebuah sistem yang berguna untuk meningkatkan penghantaran obat sekaligus membatasi paparan terhadap sel yang masih sehat.
Yedi memilih kitosan sebagai material yang cocok dalam sistem penghantaran obat. Kitosan merupakan polimer alam yang diperoleh dari cangkang udang.
"Yang menjadi perhatian saya bukan hanya obatnya, tetapi bagaimana sistem penghantarannya. Bagaimana zat aktif dapat mencapai sasaran pengobatan merupakan persoalan penting dalam pengembangan teknologi farmasi," ungkapnya.
Bahan alam disebut Yedi berpotensi digunakan dalam pengembangan teknologi farmasi di Indonesia. Ia melihat potensi berbagai polimer alam yang berasal dari sumber daya lokal, contohnya kolagen ikan dan alginat yang bisa dikaji lebih lanjut.
"Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Tantangannya adalah bagaimana material tersebut dapat dikembangkan melalui penelitian yang terukur, sehingga berpotensi dimanfaatkan dalam teknologi farmasi," ujar Yedi.
Bisa Dimanfaatkan untuk Penyakit Lainya
Riset Yedi disebut telah sesuai dengan upaya pengembangan terapi kanker. Terapi kanker tidak hanya mempertimbangkan aktivitas obat terhadap sel kanker, tapi juga diupayakan agar tak terdampak pada sel normal.
Meski sistem sudah ada, Unpad menyebut perlu pembuktian lebih lanjut melalui pengujian dan pengembangan. Ke depan, penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat bagi penyakit degeneratif lainnya.
Kitosan dapat berinteraksi dengan permukaan mukosa. Dengan begitu, peluang penelitian mengenai formasi yang dapat bertahan pada permukaan tertentu seperti saluran pencernaan terbuka.
Contoh penyakit yang bisa memanfaatkan Kitosan menurut Yedi adalah gangguan seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan.
Bagi Yedi, pencapaian akademik pada dasarnya bukan hanya tentang menghasilkan publikasi dan memperoleh pengakuan internasional. Saat ini, ia tengah membangun tradisi menulis publikasi dan penelitian yang diharapkan bisa diteruskan oleh generasi akademisi berikutnya.
Sistem penghantaran obat dan pemanfaatan material alam, diharapkan Yedi bisa terus berkembang. Tak hanya membangun ilmu pengetahuan, namun juga membuka peluang pemanfaatan sumber daya Indonesia untuk menjawab tantangan di bidang kesehatan.
"Harapannya, budaya menulis dan melakukan penelitian dapat terus berlanjut. Riset tidak hanya menghasilkan publikasi, tetapi juga perlu dikembangkan agar memberikan manfaat bagi masyarakat," jelasnya.
