Ada 16 indikator terkait intensitas perubahan iklim dan tujuh di antaranya kini berada di tingkat ekstrem. Beberapa indikator juga menunjukkan perubahan yang mendadak sehingga menimbulkan kekhawatiran mengenai ketidakstabilan iklim.
Penjelasan mengenai kekhawatiran terhadap perubahan iklim ini terangkum dalam studi yang berupa laporan tahunan dari inisiatif peneliti internasional. Salah satu penulis utamanya adalah William Ripple, seorang profesor emeritus di Oregon State University.
Laporan ini melacak 16 ukuran kesehatan iklim, mulai dari gas penangkap panas hingga es, dan tujuh di antaranya berada pada tingkat ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan menggunakan data dari studi terdahulu yang telah ada dari berbagai sumber.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Adapun data dari sumber yang relatif baru masih bersifat sementara dan berpotensi diperbarui saat studi ini dipublikasikan.
Tanda Perubahan Iklim Apa yang Paling Parah?
Tujuh indikator ini dibagi menjadi tiga bagian besar yang mencakup gas rumah kaca, air laut, dan gletser. Gas rumah kaca menjadi penyebab indikator lautan dan gletser.
Tiga kombinasi gas penangkap panas, yaitu karbon dioksida, metana, dan nitrogen oksida, mencapai rekor tertinggi pada 2026, bahkan tertinggi dalam kurun waktu dua juta tahun terakhir. Per Mei 2026, jumlah karbon dioksida di atmosfer mencapai 428 ppm, yang mana jumlah ini 50 persen lebih tinggi dibandingkan dengan sebelum Revolusi Industri.
Dua kombinasi lanjutannya adalah lautan yang panas dan volume permukaan air laut yang naik. Lautan menyerap panas yang terperangkap dalam gas-gas tersebut sehingga suhu laut meningkat.
Semakin panas suhu air laut, semakin meningkat pula volumenya. Peningkatan volume tersebut menyumbang sekitar 56 persen dari kenaikan permukaan laut dalam beberapa dekade terakhir.
Dua kombinasi sisanya berasal dari kutub yang dingin, di mana gletser dan massa es di Greenland mencapai ketebalan terendah. Gletser kini terus mencair secara ekstrem dalam beberapa dekade terakhir. Selama musim panas, volume air lelehan gletser meningkat hingga enam kali lipat.
"Saya sangat terkejut melihat betapa banyak bagian berbeda dari sistem iklim yang bergerak ke arah yang salah pada saat yang bersamaan. Kandungan panas laut dan permukaan air laut berada pada rekor tertinggi, sementara ketebalan gletser dan massa es di Greenland berada pada rekor terendah," kata William Ripple, salah satu penulis utama studi, dikutip dari Earth.com, Minggu (18/10/2026).
Dampak yang Terlihat Langsung
Salah satu dari rangkaian sebab-akibat pemanasan global dan perubahan iklim adalah kebakaran yang menghanguskan 10,8 juta hektare hutan di seluruh dunia, berdasarkan data 2025. Jumlah hutan yang terbakar tersebut merupakan yang ketiga terbesar yang pernah tercatat.
Selain disebabkan oleh perubahan iklim, kebakaran hutan yang begitu masif juga menyumbang gas rumah kaca yang dapat mendorong pemanasan global lebih lanjut.
Hutan Amazon yang kerap disebut sebagai paru-paru dunia pun saat ini berpotensi mengalami krisis akibat deforestasi. Apabila hanya menghadapi pemanasan global, kemungkinan hutan ini akan mempertahankan suhu rata-ratanya.
Namun, saat dibarengi dengan deforestasi, kenaikan suhu tersebut hampir tidak bisa dipulihkan. Kabar baiknya, jumlah deforestasi di Amazon kini mengalami tren penurunan selama empat tahun berturut-turut.
Di sisi lain, pada 2025 lalu, energi terbarukan menghasilkan listrik dunia lebih banyak daripada batu bara. Sayangnya, kebutuhan energi yang terus naik membuat penggunaan bahan bakar fosil dan emisi tetap tinggi hingga mencetak rekor.
Para peneliti berpendapat bahwa untuk menangani masalah perubahan iklim dan pemanasan global ini, diperlukan tindakan kolektif dari kebijakan pemerintah. Per 2024, dana adaptasi iklim global milik Amerika Serikat (AS) baru mencapai USD 64 miliar, padahal kebutuhannya diprediksi mencapai ratusan miliar dolar AS per 2035.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.
