Pakar: Pemulihan Hutan Imbas Karhutla Harus Pertimbangkan Kebutuhan Satwa

ADVERTISEMENT

Pakar: Pemulihan Hutan Imbas Karhutla Harus Pertimbangkan Kebutuhan Satwa

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 15 Okt 2026 20:00 WIB
Ilustrasi Kebakaran Hutan
Ilustrasi kebakaran hutan. Foto: Getty Images/iStockphoto/Toa55
Jakarta -

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi masalah yang harus ditangani secara serius oleh pemerintah. Tak hanya berdampak buruk bagi manusia dan tumbuhan, hewan yang tinggal di hutan karhutla ikut menjadi korban.

Guru Besar Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM), Prof Dr drh Raden Wisnu Nurcahyo menekankan, tak bisa dibantah bila karhula membuat satwa kehilangan habitatnya. Tak hanya itu, mereka juga kehilangan sumber pakan dan tempat berlindung.

Karhutla menghilangkan tumbuhan yang dibutuhkan satwa untuk memenuhi kehidupannya, termasuk dalam perilaku pengobatan mandiri atau self-medicated animal behavior. Lantaran permukaan tanah yang menyimpan bara, satwa ditemukan banyak terluka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mirisnya, sebagian satwa juga diduga mati tanpa terdeteksi. Hal ini bisa terjadi karena mereka berada di bagian dalam hutan yang sulit dijangkau petugas.

ADVERTISEMENT

Pemulihan Hutan Setelah Karhutla

Kerusakan habitat ini dikhawatirkan bisa menimbulkan masalah baru. Satwa mengikuti insting bertahan hidup dan berpindah ke kawasan yang lebih aman, terutama dekat permukiman manusia.

Karena itu, satwa dapat memasuki lahan pertanian atau kawasan permukiman untuk mencari makanan. Kondisi ini dapat meningkatkan konflik antara satwa liar dan masyarakat.

Wisnu mengingatkan, pemulihan hutan pascakebakaran hutan dan lahan tidak semata-mata menanam kembali pepohonan. Menurutnya, restorasi habitat perlu mempertimbangkan ekosistem dan kebutuhan ekologis satwa yang hidup di dalamnya.

Dengan begitu, menyediakan tumbuhan yang termasuk dalam jenis pakan satwa bisa jadi pertimbangan. Selain itu, pemerintah perlu melibatkan masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan serta pelaku usaha yang memanfaatkan lahan untuk mencegah karhutla.

"Edukasi dan pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan, pertambangan, dan perkebunan menjadi bagian penting untuk menekan risiko kebakaran sekaligus melindungi keanekaragaman hayati," tuturnya dikutip dari laman UGM, Kamis (15/10/2026).

Masalah Berulang yang Belum Terpecahkan

Masih mengutip sumber yang sama, Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan UGM, Prof Dr Ir Ris Hadi Purwanto menyatakan karhutla adalah masalah berulang. Ada tiga unsur utama yang dapat menyebabkan karhutla.

Ketiganya adalah sumber api, bahan bakar vegetasi atau material organik, dan kondisi iklim. Kendati demikian Ris menerangkan kebakaran juga bisa dipicu karena kelalaian manusia, seperti aktivitas pembukaan lahan yang tidak terkendali.

"Kalau di kita, di negara Indonesia, yang sering terjadi itu begitu," katanya.

Pembakaran lahan kerap jadi jalan pintas untuk menekan biaya pembukaan lahan. Namun, jika dilakukan tanpa pengendalian dan pengawasan, api malah dapat merambat dan menyebabkan kebakaran dalam skala luas.

Kembali ke masalah yang terus berulang, karhutla terus terjadi sepanjang periode 2015-2026. Luas kumulatif karhutla pada periode 2015-2026 mencapai sekitar 8,35 juta hektare.

Kebakaran terbesar terjadi pada 2015 dengan luas 2,61 juta hektare, disusul pada 2019 seluas 1,65 juta hektare dan 2023 seluas 1,16 juta hektare. Data ini menunjukkan bahwa karhutla merupakan persoalan berulang yang memerlukan kesiapsiagaan secara berkelanjutan.

Upaya penanganan karhutla menurut Ris tidak hanya menguat ketika kebakaran sudah terjadi. Kesiapsiagaan seharusnya dibangun secara konsisten dengan mempertimbangkan perubahan kondisi iklim dan potensi kebakaran di berbagai wilayah.

"Jangan sampai, misalnya, mendirikan badan atau balai untuk menangani karhutla itu reaktif. Misalnya, kalau ada kebakaran baru dibuat, kalau tidak, tidak usah," tekannya.



(det/twu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads