Fatima Rani Al Husna Prameswara meraih medali perunggu pada ajang WorldSkills Shanghai 2026 bidang Restaurant Service, yang berlangsung di Shanghai, China, 22-27 September 2026.
Pada ajang ini, mahasiswa Program Studi (Prodi) Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan, Fakultas Vokasi, Institut Pariwisata (IP) Trisakti ini dibimbing Expert Robiatul Adawiyah, yang juga kepala prodinya di IP Trisakti.
Fatima menuturkan, perjalanannya ke WorldSkills 2026 berawal dari Lomba Kompetensi Siswa (LKS) pada bidang yang sama semasa SMK. Bagaimana kisahnya?
Dari Sekolah sampai Dapat Beasiswa Kuliah
Alumnus SMK Negeri 57 Jakarta angkatan 2024 ini menuturkan, ia semua menjalani seleksi internal di sekolah. Ia kemudian lanjut mewakili wilayah Jakarta Selatan II dan memperoleh juara 1.
Di tingkat Provinsi DKI Jakarta, Fatima kembali menjadi juara 1 sebagai perwakilan Jakarta Selatan. Dari situ, ia pun berkesempatan untuk mewakili DKI Jakarta di LKS tingkat nasional.
Fatima menuturkan, ia saat itu berkompetisi dengan perwakilan 30 provinsi hingga mendapat medali emas.
"Alhamdulillah mendapatkan gold medal, dan juga mendapatkan beasiswa penuh dari IP Trisakti," tuturnya pada detikEdu usai acara Kedatangan Kontingen RI WorldSkills Shanghai 2026 di kantor Kemendikdasmen, Jl Jend Sudirman, Jakarta, Selasa (29/9).
Dari ASEAN ke Tingkat Dunia
Fatima kemudian mengikuti seleksi daerah untuk melaju ke WorldSkills ASEAN 2025 dan meraih juara 1. Ia lalu menjalani seleksi tingkat nasional untuk ikut WorldSkills ASEAN dan mendapatkan juara 2.
"Di WorldSkills ASEAN saya mewakili Indonesia berdua dengan teman saya dari Aceh, dia juga salah satu alumni dari LKS," tuturnya.
Di ajang WorldSkills ASEAN 2025, Fatima mendapatkan medali perunggu. Capaian ini mengantarkannya masuk training center dan pelatihan di industri menuju WorldSkills Shanghai 2026.
Saingan Profesional
Pengalaman mengikuti kompetisi tingkat dunia ini bagi Fatima sangat berbeda dengan LKS dan WorldSkills ASEAN. Sebab, di samping standar yang tinggi, kebanyakan pesertanya adalah para profesional di industri.
"Jadi saya sebagai salah satu peserta yang saat ini masih di kuliah, masih belajar, ini merupakan tantangan yang sangat besar bagi saya untuk bisa mengikuti alur mereka," tuturnya.
Kiat Berprestasi di WorldSkills Bidang Restaurant Service
Ia menambahkan, para kompetitor (sebutan bagi peserta) tak mengetahui soal yang akan keluar selama pelatihan. Di kategorinya sendiri, Fatima mengatakan, soalnya baru keluar sekitar 2 hari sebelum kompetisi.
"Jadi pada saat soal keluar, kita harus bisa memastikan bahwa kita latihan itu sudah benar-benar matang, semua sudah kita coba, jadi ketika soal dibuka, soal dirilis, itu kita sudah siap untuk mengikuti kompetisinya," ujarnya berbagi kiat.
Soal-soal WorldSkills Test Project yang ia hadapi antara lain terkait barista, bar, fine dining, banquet dining, dan casual dining. Ia mencontohkan, pada fine dining, kompetitor tidak hanya diuji soal pelayanan pada tamu, tetapi juga fruit carving dan pembuatan Irish coffee.
"Total itu kemarin kita ada lima modul, dan dari setiap modulnya itu banyak lagi soal-soal lainnya, atau banyak lagi praktik-praktik lainnya," tuturnya.
"Semua itu yang seharusnya kita sudah persiapkan selama pelatihan. Jadi ketika soal keluar, kita sudah benar-benar matang untuk mengikuti kompetisi," imbuh Fatima.
Latihan Soal dan Pengalaman
Ia menilai latihan panjang membantunya untuk siap berkompetisi. Fatima mengatakan, ia sendiri melakukan persiapan selama 2 tahun 6 bulan terakhir.
"Jadi ketika kompetisi, itu bukan hanya saya mengingat apa saja yang sudah saya latih, tetapi saya lebih mengingat kepada banyak pengalaman yang sudah saya habiskan untuk saya bisa sampai ke tingkat dunia," ucapnya.
Berlatih soal-soal WorldSkills sebelumnya bagi Fatima juga sangat membantu dalam menyiapkan diri. Ia menuturkan, ia tak hanya berlatih soal WorldSkills Lyon 2024, tetapi juga tahun 2022 (Special Edition), 2019, dan 2015.
"Jadi dari semua soal-soal itu saya bedah, saya jadikan satu, dan saya bandingkan apa saja materi-materi yang sudah keluar dan apa prediksi yang akan dikeluarkan pada saat di Shanghai 2026," sambungnya.
Soal Khas Kebudayaan China
Pada WorldSkills Shanghai 2026, Fatima menilai banyak perubahan soal lantaran sejumlah materinya khas kebudayaan China. Contohnya, pada tahun ini muncul perihal tea service dan ada lebih banyak Chinese menu.
"Dan itu adalah salah satu tantangan yang saya hadapin dan yang harus saya bisa cepat beradaptasi ketika saya tahu soal itu keluar," ucapnya.
Ingin Berbagi Ilmu
Ke depannya, Fatima ingin bisa mengembangkan skill vokasi di bidang pariwisata dan menunjukkan bahwa talenta muda juga mampu bersaing di tingkat internasional.
"Setelah mendapatkan medali, tentunya saya tidak akan lupa, saya pasti akan memberikan ilmu-ilmu yang saya dapat di WorldSkills Shanghai dan dari kompetitor negara lain kepada teman-teman SMK, kepada teman-teman di vokasi," tuturnya.
Ia juga berencana meniti karier di bidang hospitality industry sambil mengembangkan skill sebagai bekal menjadi dosen.
"Setelah saya sudah selesai untuk mengembangkan seluruh skill saya dan mendapatkan cukup pengalaman, saya ingin menjadi dosen dan tetap di bidang restaurant service karena saya merasa restaurant service ini adalah passion saya," imbuhnya.
Simak Video "Video: Menko PMK Ungkap Arahan Prabowo soal Penguatan Pendidikan Vokasi"
(twu/nah)