Apa saja perbedaan paling mencolok antara kuliah di Indonesia dan di India? Ini pengalaman lulusan Gujarat University asal Indonesia.
Lulusan Gujarat University asal Indonesia, Mega Mei Wahidawati, membagikan pengalamannya berkuliah di India. Ia merasakan ada pengalaman berbeda saat dirinya kuliah di Indonesia dan India. Apa saja?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mei, sapaannya, menempuh gelar S1 di Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik. Setelahnya, ia melanjutkan studi S2 di jurusan Mass Communication and Media Studies di Gujarat University, Ahmedabad, negara bagian Gujarat.
Ia kuliah dengan beasiswa ICCR (Indian Council for Cultural Relations). Beasiswa ini merupakan program dari Pemerintah India untuk mahasiswa internasional yang menempuh jenjang diploma, sarjana, pascasarjana, hingga doktoral.
Menurut Mei, selama kuliah S2, ia menemukan bahwa budaya belajar siswa dan mahasiswa di India sangat mencolok. Banyak mahasiswa benar-benar belajar dari pagi sampai sore di kampus.
"Bedanya kuliah di India sama di Indonesia. Pertama, kayak kita sekolah atau kuliah, benar-benar dari pagi sampai sore itu kita di kampus. Jadi, kayak SMA (juga) gitu," ucapnya yang kini menjadi delegasi acara BRICS 2026, saat ditemui di New Delhi, Rabu (9/9/2026).
"Yang paling ketara banget ya budaya belajar mereka sih. Jujur, mereka tuh kalau belajar tuh bener-bener dari melek sampai merem sampai melek lagi tuh belajar. Apalagi kalau ujian. Mereka tuh bisa belajar di halte, di trotoar, di taman. Buka buku bareng-bareng, kayak gitu," imbuhnya.
KRS Diurus Kampus-Perpustakaan 24 Jam
Mei, mahasiswa RI di India. Foto: Dok Mega Mei Wahidawati |
Mei menceritakan bahwa proses administrasi dalam perkuliahan di India juga berbeda dengan di Indonesia. Salah satunya, mengenai Kartu Rencana Studi (KRS).
Meski statusnya mahasiswa pascasarjana, pihak kampus tetap yang mengurus rencana studi. Sementara di Indonesia, rencana studi diurus masing-masing mahasiswa.
"Dan semuanya itu (di India) masih diatur sama kampus. Padahal kita udah S2, kan? Kalau di kampusku dulu pas S1 tuh, pengalaman S1 tuh, ya kita semua ngurus sendiri. Mulai dari milih KRS, milih jadwal sendiri, milih dosen sendiri. Tapi di sini semua ditentukan," ujarnya.
"Dan (rencana studi) itu (diurus kampus) dari semester 1 sampai semester 4," lanjutnya.
Selain itu, lulusan UNAS tahun 2020 tersebut juga menyoroti fasilitas kampus di India. Menurutnya, yang paling mencolok adalah perpustakaan kampus yang buka 24 jam.
"Di sini tuh kampus tuh biasanya kalau punya perpustakaan 24 jam. Aksesnya 24 jam," tuturnya.
Mei juga menyoroti budaya menulis mahasiswa di kampus-kampus India. Terlebih, banyak yang menulis dalam bahasa lokal mereka di media massa.
Baginya, hal ini menjadi unik karena koran-koran atau media menampilkan tulisan dengan berbagai bahasa lokal.
"Karena aku anak jurnalistik, yang aku notice banget itu adalah kalau nulis artikel, kalau itu temen-temenku yang lokal ya, artikel atau tulisan apa pun, mereka bisa menggunakan bahasa daerah mereka. Jadi di India ini sistemnya...koran itu tuh masih naik banget, karena ya koran itu akan ditulis dalam bahasa masing-masing daerah di provinsi, gitu. Itu sih," ungkapnya.
"Karena aku di Gujarat, ya (bahasanya) Gujarati. Jadi koran di sana tuh Gujarati, pakai aksara Gujarati, gitu-gitu. Itu sih yang paling berasa bedanya," tambahnya.
Jadi Delegasi BRICS 2026
Meski sudah lulus dari Gujarat University pada 2024, keterampilan dan pengalamannya menjadikan Mei ikut dalam delegasi media/jurnalis/content creator acara BRICS ke-18 pada 12-13 September 2026 di Bharat Mandapam, Pragati Maidan, New Delhi, India.
BRICS merupakan konferensi tingkat tinggi yang kini mencakup 11 negara, yaitu Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, dan Indonesia.
"Kalau sekarang nih aku sebagai delegasi BRICS di Delhi, sama nanti di Mumbai sebagai freelance journalist," katanya.
Sebelumnya, selama kuliah di India, Mei aktif mengikuti berbagai kegiatan, termasuk menjadi pengurus PPI Dunia dan India, serta menjadi delegasi G20 dari Indonesia pada 2023.
Selain itu, ia juga pernah beberapa kali menjadi delegasi sebagai perwakilan pelajar Indonesia, salah satunya di The World Organisation of Students and Youth (WOSY).
"Aku beberapa kali pernah ke Kashmir, pernah ke Madhya Pradesh, pernah ke Gandhinagar. Itu pokoknya sebagai delegasi dari Indonesia. Pernah juga, jadi mahasiswa yang ikut WOSY, World Organization of Students. Pokoknya organisasi mahasiswa internasional di kampus. Ya aku mewakili, pernah nari di situ sama temenku, nari Jaipong, seru-seruan, gitu. Dan ya, kita cukup mendapatkan applause," tutur Mei.

