Media sosial kembali dihebohkan dengan kematian orang utan jantan bernama Sampurna. Sampurna merupakan korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan.
Awalnya, Sampurna ditemukan dalam kondisi lemas dan mengalami gangguan pernapasan berat di kawasan perkebunan kelapa sawit, Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (30/8/2026). Meski sudah sempat dievakuasi dan mendapat pertolongan, nyawa Sampurna tidak tertolong dan mati pada hari yang sama pukul 15.20 WIB.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (FKH UGM) Prof Dr drh Raden Wisnu Nurcahyo beri tanggapan terkait hal ini. Ia menekankan karhutla adalah ancaman serius bagi keberlangsungan hidup orang utan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karhutla menghancurkan vegetasi yang menjadi sumber pakan sekaligus tempat berlindung orang utan. Mengingat pohon-pohon di hutan merupakan tempat bersarang mereka.
"Karena kebakaran itu kan mengacaukan pohon, tanaman, sementara tanaman itu sumber pakan, dan pohon-pohon itu tempat bersarangnya mereka (orang utan)," tutur sosok yang akrab dipanggil Wisnu itu dikutip dari laman resmi UGM, Jumat (4/9/2026).
Kesehatan Orang Utan Terancam
Ketika kebakaran terjadi, asap yang timbul bisa mengganggu ruang jelajah orang utan. Mereka pada umumnya tinggal di dahan-dahan pohon.
Untuk bisa bergerak, mereka harus menyeberang ke satu dahan ke dahan lain yang saling menyambung. Lantaran kebakaran, pohon-pohon bisa tumbang dan membuat mereka terdorong turun ke tanah.
Turunnya orang utan ke tanah membuat mereka mengalami luka bakar akibat paparan api. Paparan asap juga memberikan dampak langsung yang dapat mengganggu sistem pernapasan mereka.
Paparan asap karhutla bisa menyebabkan iritasi dan infeksi saluran pernapasan bronkitis. Mereka juga bisa mengalami hipoksia atau kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen.
"Kalau kita menghirup udara yang kualitasnya buruk, ya ini bisa berdampak pada gangguan pernapasan. Gangguan pernapasan inilah yang kemudian dapat membuat kita lemas, muntah, kesadaran terganggu, hingga akhirnya pingsan. Pingsan kalau dibiarin terus, ya bisa mati," tegas Wisnu.
Wisnu menilai jumlah satwa liar terdampak karhutla mungkin lebih banyak daripada yang selama ini tercatat. Satwa yang berhasil ditemukan umumnya kebetulan berada di sekitar jalan, perkebunan, atau permukiman, sehingga bisa terdeteksi dan dievakuasi.
Sedangkan, satwa yang terdampak di bagian dalam hutan sulit diketahui kondisinya. Untuk itu, bisa jadi orang utan yang menjadi korban jumlahnya mungkin lebih banyak.
Habitat Orang Utan Bisa Punah
Dengan insting bertahan hidup, orang utan akan mencoba menyelamatkan diri hingga mendekati kawasan permukiman maupun perkebunan. Langkah ini dilakukan mereka untuk mencari makanan dan sumber air.
"Karhutla ini memaksa orang utan turun ke tanah karena tempat mereka bergelantungan habis terbakar. Kadang-kadang karena sumber pakan tidak ada, ya dia mencari makanan di dekat pemukiman atau kebun warga," sampainya.
Jika karhutla tak kunjung ditangani, habitat orang utan bisa terancam punah. Wisnu mengingatkan agar penanganan karhutla tidak berfokus pada penyelamatan satwa ketika kebakaran meluas.
Upaya utama yang perlu dilakukan justru adalah melindungi habitat dan mencegah kebakaran sejak dini. Ada berbagai upaya yang disarankan Wisnu, dari mencegah pembukaan lahan dengan api, menghentikan konservasi hutan alam, membangun zona penyangga bebas api, menyediakan koridor penghubung antarkawasan habitat, hingga memulihkan tata air pada ekosistem gambut.
Ketika karhutla berhasil dikendalikan, perlu dilakukan rehabilitas vegetasi agar kawasan yang rusak dapat kembali menyediakan sumber pakan bagi satwa. Wisnu menegaskan bila perlindungan terhadap satwa liar tak bisa dipisahkan dari perlindungan terhadap habitatnya.
Kasus Sampurna jadi pengingat bila saat hutan terbakar, satwa tidak hanya kehilangan tempat tinggal, tapi ancaman kematian.
"Kebakaran hutan itu harus dipandang sebagai krisis kesehatan satwa orang utan sekaligus yang kehilangan habitat. Jadi prioritas terbaik bukan hanya menyelamatkan orang utan ketika apinya sudah meluas, tapi menjaga hutannya tetap lestari, tidak terbakar, kemudian membangun sistem yang lebih baik," sambung Wisnu.
