×
Ad

Satwa Liar Jadi Korban Karhutla, Pakar IPB Ingatkan Potensi Konflik Hewan-Manusia

Devita Savitri - detikEdu
Kamis, 03 Sep 2026 19:30 WIB
Satwa liar jadi korban karhutla, Pakar IPB ingatkan hal ini. Foto: (Foto: Istimewa)
Jakarta -

Pakar sekaligus Dosen Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Dr Abdul Haris Mustari ingatkan ancaman meningkatnya potensi konflik hewan dan manusia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Mengapa hal ini bisa terjadi?

Ia menjelaskan karhutla terjadi di areal perkebunan, hutan sekunder, bahkan hutan primer yang menjadi habitat penting bagi satwa liar. Ancaman paling serius dari karhutla bagi mereka adalah kematian satwa akibat terbakar.

Ketika hutan terbakar, satwa endemik dan langka yang bergantung pada ekosistem tersebut kehilangan habitatnya. Mereka yang berhasil menyelamatkan diri akan merasakan berbagai kehilangan.

"Orang utan, bekantan, macan dahan, rangkong, kuau raja, kucing emas, gajah, harimau, dan tapir merupakan kelompok satwa yang terdampak. Kerusakan habitat tersebut menjadi ancaman serius bagi keanekaragaman hayati karena fungsi ekologi ekosistem dapat hilang dalam waktu singkat," tutur Mustari dikutip dari laman IPB University, Kamis (3/9/2026).

Ancaman Konflik Hewan dan Manusia

Hilangnya habitat, membuat satwa liar juga kehilangan sumber makanan dan air. Ketika hutan terbakar, pada dasarnya hewan punya insting untuk menyelamatkan diri.

Mereka akan pergi ke mana pun tempat yang aman dan memiliki sumber makanan serta air. Lokasi ini disebut dengan habitat sementara.

Habitat sementara yang dimaksud Mustari adalah hutan sekunder dan kawasan yang berbatasan dengan perkebunan dan permukiman. Ketika hal ini terjadi konflik antara satwa dan manusia bisa timbul, ujungnya hewan akan kembali jadi korban.

"Pada akhirnya satwalah yang selalu menjadi korban dan disalahkan. Padahal, keluarnya satwa dari habitatnya terjadi karena habitatnya dirusak dan dibakar oleh manusia," bebernya.

Aktivitas Manusia Salah Satu Penyebab Karhutla

Mustari mengungkap karhutla di Kalimantan dan Sumatera tak lepas dari aktivitas manusia, baik oleh korporasi maupun perorangan. Ia berpendapat karhutla terjadi bukan karena terbakar, melainkan dibakar.

"Pola kebakaran tersebut berulang setiap tahun, sementara upaya pencegahan cenderung belum dilakukan secara optimal. Respons pemerintah dan masyarakat sering kali baru menguat ketika kebakaran telah meluas sehingga penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya semakin besar," jelasnya.

Kini, usai karhutla terjadi Mustari menekankan agar penegakan hukum bisa dilakukan tanpa pandang bulu. Pemulihan ekosistem setelah karhutla membutuhkan waktu yang sangat panjang, bahkan mencapai ratusan tahun.

Pun walaupun mulai pulih, ia menyebut kondisinya tidak selalu kembali seperti semula. Selain penegakan hukum, pemerintah juga perlu memberikan penguatan, pencegahan, perlindungan, dan perluasan habitat penting satwa.

Langkah-langkah itu bisa dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi, baik itu taman nasional, cagar alam, atau suka margasatwa. Publik juga perlu disosialisasikan tentang dampak karhutla, karena tak hanya satwa, manusia juga terganggu lantaran kualitas udara, pangan, dan air yang buruk.

"Lebih baik mencegah daripada bereaksi dan panik saat terjadi kebakaran hutan dan lahan," tegasnya.



Simak Video "Video: Blak-blakan Komisi IV DPR Soal Luasan Lahan Terbakar di 2026"

(det/nwk)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork