Kisah Penerima Beasiswa Tanoto Foundation Asah Skill di Industri Kreatif

ADVERTISEMENT

Kisah Penerima Beasiswa Tanoto Foundation Asah Skill di Industri Kreatif

Dea Dua Aulia - detikEdu
Kamis, 03 Sep 2026 13:29 WIB
Tanoto Foundation
Foto: dok. Tanoto Foundation
Jakarta -

Jauh sebelum internet menjadi bagian kehidupan sehari-hari, media cetak adalah salah satu jendela untuk melihat dunia luar. Bagi mereka yang tumbuh jauh dari pusat kota, halaman-halaman majalah menjadi ruang untuk mengenal berbagai hal yang mungkin belum pernah dijumpai secara langsung.

Hal yang sama dialami, Director of Animal3 Creative sekaligus alumnus ITB Febrian Putra atau Ditra. Tumbuh di Rembang, Jawa Tengah, Ditra mengandalkan media cetak untuk memuaskan rasa ingin tahunya tentang apa yang terjadi di luar kota tempat tinggalnya.

Dari majalah dan tabloid, ia perlahan mengenal dunia yang terasa begitu jauh dari kesehariannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu yang menarik perhatiannya dari halaman-halaman majalah dan tabloid yang dia baca adalah dunia desain dan arsitektur. Pada awal 2000-an, sebuah majalah arsitektur yang dibacanya memunculkan rasa penasaran yang lebih besar mengenai dunia ini, seperti apa sebenarnya dunia desain? Bagaimana orang-orang di kota besar bekerja? Dan yang paling penting, apa yang harus dipersiapkan jika ingin menjadi bagian dari dunia tersebut?

Rasa penasaran itu kemudian mendorong Ditra melakukan sesuatu yang mungkin terdengar biasa: mencari alamat Ikatan Arsitek Indonesia dan menulis surat. Dalam surat itu, dia bertanya tentang apa saja yang perlu dipersiapkan jika ingin menjadi seorang arsitek.

ADVERTISEMENT

Surat itu dikirim via pos, tetapi tak pernah mendapat balasan sampai sekarang.

Meski surat tak berbalas, hal itu tidak serta-merta menjadi akhir dari pencariannya. Justru dari pengalaman itulah, Ditra mulai tertantang untuk mencari jalan sendiri mengenal dunia yang lebih luas.

"Sebegitunya saya ingin tahu dunia luar itu kayak apa," kata Ditra dalam keterangan tertulis, Kamis (3/9/2026).

Ketertarikan pada dunia visual kemudian semakin tumbuh ketika ia duduk di bangku SMA. Ia terlibat dalam pembuatan majalah dinding sekolah dan mulai menemukan kesenangan dalam mengolah visual dan gagasan.

Desain, ITB, dan Industri Kreatif

Selepas SMA, Ditra sempat mencoba masuk jurusan arsitektur di Universitas Gadjah Mada. Ia tidak berhasil pada kesempatan tersebut.

Sampai kemudian seorang teman memperkenalkannya pada Desain Komunikasi Visual (DKV) di Institut Teknologi Bandung. Pilihan itu terasa masuk akal bagi Ditra.

Ketertarikannya pada desain bertemu dengan minatnya pada kata-kata dan cerita. Ia kemudian diterima di Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB.

Di sana, Ditra mengenal beberapa bidang dalam DKV, termasuk desain grafis, multimedia, dan advertising. Dari ketiganya, advertising justru terasa paling menarik karena memberikan ruang bagi proses berpikir dan pencarian ide.

"Advertising itu modal ngide, terus model mikir kreatif. Ini menarik saya," ujarnya.

Di bangku kuliah itulah, pandangannya tentang industri kreatif mulai terbentuk. Ia belajar bahwa sebuah iklan tidak sekadar persoalan membuat sesuatu terlihat menarik. Ada proses memahami audiens, menemukan persoalan, menyusun strategi, kemudian menerjemahkan gagasan menjadi komunikasi yang tepat.

Pengalaman magang di sejumlah agensi juga memperkenalkannya pada dunia profesional. Bahkan sebelum menyelesaikan kuliah, ia mulai mendapatkan pengalaman bekerja di industri advertising.

Setelah lulus, perjalanan tersebut berlanjut ke sejumlah agensi multinasional dan lokal. Ia pernah menjadi bagian dari BBDO, McCann Worldgroup, J. Walter Thompson (JWT), hingga Dentsu.

Selama berkarier, Ditra tak hanya mengasah kemampuan dan mengembangkan ide, namun juga berkesempatan mengerjakan karya-karya yang mendapat pengakuan di industri. Sejumlah karya dari berbagai brand global yang dikerjakannya bersama tim, berhasil memenangkan beberapa penghargaan advertising, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Kesempatan yang Datang Lewat Beasiswa

Perjalanan tersebut juga tidak terlepas dari dukungan pendidikan yang pernah diterimanya.

Ketika kuliah di ITB, Ditra merupakan salah satu penerima beasiswa Tanoto Foundation.

Saat menjadi penerima beasiswa Tanoto Foundation, Ditra juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan kegiatan pengembangan yang memungkinan dia memperoleh pengalaman baru di luar ruang kelas, sekaligus membantunya melihat lebih luas kemungkinan yang bisa dikembangkan selama masa kuliah.

Baginya, pengalaman semacam itu menjadi bagian dari bekal yang kemudian ia bawa ketika mulai memasuki dunia profesional.

Bagi Ditra, beasiswa tersebut memiliki arti yang sangat penting. Ayahnya telah meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMA dan ibunya kemudian menjadi orang tua tunggal.

Dukungan beasiswa tersebut menjadikan beban keluarga Ditra menjadi lebih ringan. Terlebih lagi, dia juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pelatihan dan membangun jejaring dengan penerima beasiswa lainnya.

"Saya ini tahu Tanoto Foundation itu rapi banget secara organisasi dan programnya. Saat pelatihan, kami juga bisa menjalin komunikasi dengan semua penerima beasiswa, termasuk dengan para alumni sehingga kami bisa membangun networking," kata Ditra.

Dari sinilah, ada satu hal yang terus muncul dalam perjalanan Ditra: kesempatan. Kesempatan untuk belajar serta bertemu orang baru. Termasuk, kesempatan untuk mencoba sesuatu yang sebelumnya belum pernah dibayangkan.

Berbagi Kesempatan

Setelah sekitar 15 tahun berkarier di berbagai agensi advertising, Ditra mulai melihat persimpangan dalam perjalanan profesionalnya. Ia telah merasakan bekerja di sejumlah perusahaan, termasuk agensi multinasional, dan mencapai posisi yang membuatnya mulai membayangkan jenjang karier berikutnya.

Dia mengatakan, di tengah perjalanan tersebut, muncul pertanyaan dalam dirinya 'apakah ia ingin terus melanjutkan pola yang sama sebagai seorang karyawan, atau mencoba membangun sesuatu yang sepenuhnya dirancang sendiri?'

"Kalau saya lanjutkan sebagai karyawan di perusahaan agensi, nanti kayaknya bakal gitu-gitu saja. Terus akhirnya saya berpikir, kayaknya seru bikin sendiri," tuturnya.

Keputusan untuk mendirikan Animal3 Creative sekitar empat tahun lalu pun lebih banyak berangkat dari rasa ingin mencoba daripada sekadar mengejar posisi yang lebih tinggi. Menjadi pemilik agensi berarti Ditra harus keluar dari zona nyaman sebagai pekerja kreatif.

Ia tidak lagi hanya dituntut menghasilkan ide dan mengerjakan kampanye, tetapi juga belajar memahami sisi bisnis, mengelola tim, serta membangun sebuah organisasi dari awal.

Menjadi pendiri agensi tentu menghadirkan tantangan berbeda. Ia tidak lagi hanya memikirkan pekerjaan kreatif, tetapi juga harus memahami bisnis, mengelola orang, dan membangun organisasi.

Namun, pengalaman tersebut juga memperluas perspektifnya tentang industri kreatif.

Ditra semakin melihat bahwa industri advertising membutuhkan talenta dengan cara berpikir yang terbuka. Tidak harus berasal dari kota besar, tidak harus memiliki latar belakang tertentu, dan tidak harus sejak awal sudah mengetahui bahwa dirinya akan bekerja di industri kreatif.

Pandangan itu pula yang kemudian membawanya kembali kepada anak-anak SMA dan SMK.

Di tengah perjalanan, dia mengatakan semakin memahami terkait industri kreatif yang bertumpu pada manusia dan ide-ide yang mereka hasilkan. Karena itu, keberlangsungan industri tidak hanya membutuhkan perusahaan dan klien, tetapi juga talenta-talenta baru yang memiliki kesempatan untuk mengenal dan berkembang di dalamnya.

Membawa Advertising ke Ruang Kelas

Dari situlah perhatiannya terhadap akses dan kesempatan bagi anak-anak muda semakin kuat. Ia melihat bahwa banyak talenta potensial mungkin belum pernah bersentuhan dengan industri kreatif hanya karena belum memiliki akses untuk mengenalnya.

Tidak harus berasal dari kota besar, tidak harus memiliki latar belakang tertentu, dan tidak harus sejak awal sudah mengetahui bahwa dirinya akan bekerja di industri kreatif.

Pemikiran tersebut kemudian membawanya melakukan sesuatu yang terasa personal membawa pengetahuan tentang advertising kepada anak-anak muda, termasuk mereka yang masih duduk di bangku SMA dan SMK.

Ditra mulai membuat program pengenalan advertising bagi pelajar, termasuk anak-anak SMA di Rembang.

Materinya tidak rumit. Ia memperkenalkan bagaimana sebuah industri advertising bekerja, bagaimana merek berkomunikasi, bagaimana memahami audiens, serta bagaimana sebuah ide dapat dikembangkan menjadi kampanye.

Tujuannya bukan membuat semua peserta menjadi advertiser. Justru sebaliknya: Ditra ingin mereka mengetahui bahwa keterampilan kreatif dapat digunakan dalam banyak bidang.

"Bukan untuk selalu menjadi pekerja, tapi setidaknya saya ingin kasih informasi, lo bisa melakukan banyak hal nanti," katanya.

Bagi Ditra, pengetahuan tentang advertising juga bisa membantu anak muda memahami cara berkomunikasi, membangun usaha, membuat produk, maupun mengembangkan berbagai kegiatan kreatif.

Hal ini ia kemukakan karena kerap melihat ada anak-anak di daerah yang memiliki kemampuan kreatif, tetapi belum mengetahui bagaimana kemampuan tersebut dapat dikembangkan.

"Di situlah akses menjadi penting. Anak-anak yang sejak kecil tinggal di kota besar mungkin lebih mudah menemukan informasi mengenai sekolah desain, industri kreatif, agensi advertising, atau berbagai profesi baru. Sementara bagi anak di daerah, informasi itu bisa jadi belum pernah sampai," tutupnya.

Baginya, memperkenalkan advertising kepada siswa SMA dan SMK bukan hanya soal mencari calon talenta industri. Lebih jauh, ia ingin memperluas cara anak muda melihat masa depan.



(prf/ega)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads