Pernah dapat referensi dari AI yang ternyata judul jurnalnya nggak ada di dunia nyata? Itulah yang disebut halusinasi AI, salah satu risiko terbesar yang sering diabaikan mahasiswa saat memakai ChatGPT atau AI sejenis untuk menulis karya ilmiah.
Masalah ini jadi alasan utama kenapa pelatihan AI untuk penulisan akademik ini dirancang, bukan sekadar mengajarkan cara pakai AI, tapi juga cara mengenali batasannya. Pelatihan digelar online pada hari Rabu sampai Kamis, tanggal 9 hingga 10, bulan September, tahun 2026.
Selama pelatihan, peserta akan belajar mengevaluasi hasil AI secara kritis, mulai dari mengecek validitas sumber, memverifikasi data yang dihasilkan, hingga teknik revisi artikel berdasarkan feedback reviewer. Materi ini penting supaya karya ilmiah tetap kredibel meski dikerjakan dengan bantuan AI.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain soal risiko, peserta juga diajak memahami sisi etisnya: bagaimana menyusun research gap dan novelty penelitian tanpa terjebak plagiarisme ide, serta menyusun prompt akademik yang benar-benar relevan dengan bidang riset masing-masing, bukan sekadar copy-paste hasil generate.
Pelatihan ini terbuka untuk dosen, peneliti, editor, proofreader, dan mahasiswa S1 hingga S3 yang sedang mengerjakan proposal, skripsi, tesis, disertasi, atau artikel ilmiah. Modal yang dibutuhkan cuma laptop, koneksi internet, dan akun ChatGPT atau AI sejenis.
Buat kamu yang sudah beberapa kali revisi karena hasil tulisan terasa kaku atau argumennya kurang kuat, sesi ini juga membahas cara mengembangkan argumen ilmiah dengan bantuan AI tanpa kehilangan sudut pandang orisinal kamu sebagai peneliti. Dengan begitu, AI berfungsi sebagai partner berpikir, bukan pengganti proses berpikir itu sendiri.
Pendaftaran akan ditutup pada 8 September 2026 pukul 23.59 WIB. Jangan sampai karya ilmiahmu berantakan gara-gara salah paham cara pakai AI, daftar pelatihannya sekarang di detikevent.
