Nama Ramzy Izza Wardhana seketika menjadi sorotan dan diapresiasi tepuk tangan dalam momen wisuda program Sarjana dan Sarjana Terapan Universitas Gadjah Mada (UGM) di Grha Sabha Pramana, pada Jumat (21/8/2026) lalu.
Wisudawan dari program studi S1 Ilmu Komputer, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ini dinobatkan sebagai lulusan terbaik. Ia meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) nyaris sempurna, yakni 3,99.
Sementara itu, rata-rata IPK lulusan jenjang S1 saat itu yang berjumlah 3.193 orang adalah 3,57. Sedangkan Ramzy hampir menyentuh batas maksimal.
Kuliah Sambil Bekerja di Inggris
Ramzy merupakan mahasiswa International Undergraduate Program (IUP). Selain itu, ia juga mengikuti international exposure di program studi Artificial Intelligence and Computer Science, University of Birmingham, Inggris.
"Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS," jelasnya dikutip dari laman UGM.
Berbeda dengan mahasiswa jalur reguler yang biasanya lulus dalam empat tahun, Ramzy menempuh masa studi selama lima tahun. Tambahan satu tahun tersebut ia gunakan untuk program extension yang memungkinkannya mendapatkan international exposure di University of Birmingham, Inggris.
Di Inggris, Ramzy tidak hanya menimba ilmu tetapi pengalaman praktis sekaligus. Ia bahkan sudah mencicipi dunia profesional.
"Saya sebenarnya tiga tahun di Inggris, dua tahun kuliah dan satu tahun kerja. Satu tahun kerja itu namanya industrial placement, yang bisa dijalankan bersamaan dengan program MBKM di sini dan dikonversikan menjadi SKS," jelasnya.
Rahasia Sukses Ramzy: Konsistensi
Saat ditanyakan bagaimana cara dapat menjalani pendidikan di dunia negara sekaligus, Ramzy menyebut bahwa dirinya mengandalkan konsistensi dan menerapkan skala prioritas. Dengan itu, ia tetap bisa aktif berorganisasi juga di UGM.
Ia tercatat sebagai anggota Omah TI, KOMATIK, HIMAKOM, hingga Google Developer Program on Campus UGM. Baginya, organisasi adalah jembatan untuk bertemu praktisi industri.
"Karena itu, ketika sampai di Inggris, alokasi waktu saya lebih banyak untuk belajar teknikal, mengikuti perkuliahan, sekaligus mempersiapkan diri untuk magang di sana," tuturnya.
Terkait cara belajar, Ramzy menekankan pentingnya transisi dari sekadar menghafal menjadi pemahaman konsep dan latihan soal secara teknis. Saat berada
di Inggris yang menerapkan sistem self-study, ia dituntut lebih mandiri.
"Saya memberikan waktu sekitar dua sampai tiga jam setiap hari untuk belajar. Yang penting konsisten," katanya.
Adapun terkait cara belajar, Ramzy mengaku fleksibel dan mempunyai strategi yang berubah. Saat masuk dunia kuliah, ia lebih mengandalkan latihan dan pemahaman materi.
"Cara belajar saya juga berubah-ubah. Waktu SMA mungkin saya masih banyak menghafal, kemudian ketika kuliah mulai lebih banyak latihan soal dan memahami konsep. Ketika di Inggris, karena sistemnya lebih banyak self-study, saya harus lebih mandiri mengatur bagaimana saya belajar." ungkapnya.
Untuk berhasil, menurut Ramzy seseorang perlu bisa berkompromi. Selama ini, ia sudah banyak mengorbankan waktunya untuk bermain demi mengejar target akademik dan profesional.
"Pasti selalu ada kompromi di sini kalau kita pengen achieve semuanya. Kita sendiri lah itu adalah choice (pilihan). Orang memilih apa yang kita inginkan. Dan memang dalam periode-periode tertentu saya juga harus mengendalikan social life saya. Saya sendiri pribadi suka berteman. Saya di situ juga berteman. Cuman di kala-kala waktu saya harus fokus, misalnya mau ujian atau mau ada interview, di situ saya lebih sering berteman dengan diri sendiri," katanya.
Ia berharap rekan sesamanya dan mahasiswa di luar sana bisa berani memilih jalan sepertinya. Ia mengingatkan untuk tidak takut jika ingin merantau ke luar negeri untuk meraih pendidikan atau karier.
"Saya berharap pengalaman dan kesempatan yang saya dapatkan di luar negeri bisa saya gunakan untuk memperbaiki gap yang masih ada di Indonesia. Kita bisa belajar dari negara-negara yang sudah berhasil menyelesaikan berbagai persoalan, seperti sustainability, korupsi, dan tata lingkungan. Pada akhirnya, semua itu membutuhkan kontribusi kolektif dari banyak orang. Karena by the end of the day, ya, kita yang bakal meneruskan pemerintah." pungkasnya.
Simak Video "Video Mendikdasmen Sebut TKA Bisa Jadi Referensi untuk Daftar Kuliah di LN"
(cyu/pal)