Inilah Rudi, Alumnus FEB Unpad yang pada 1992 Sudah Bahas AI dalam Skripsinya

ADVERTISEMENT

Inilah Rudi, Alumnus FEB Unpad yang pada 1992 Sudah Bahas AI dalam Skripsinya

Devita Savitri - detikEdu
Rabu, 19 Agu 2026 12:00 WIB
Rudi Fajar, alumnus FEB Unpad yang bahas AI di skripsinya pada 1992.
Rudi Fajar, alumnus FEB Unpad yang bahas AI di skripsinya pada 1992. Foto: FEB Universitas Padjadjaran
Jakarta -

Melampaui zaman, skripsi alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran (FEB Unpad) tentang artificial intelligence (AI) viral di media sosial. Bagaimana tidak, skripsi itu dibuat 34 tahun sebelum AI jadi tren global.

Skripsi itu disusun pada Juli 1992 dengan judul "Artificial Intelligence sebagai Alat Bantu Akuntan Publik dalam Pemilihan Prosedur Pemeriksaan Piutang" oleh alumnus bernama Rudi Fajar. Angkat topik yang bisa dibilang tidak lazim pada zamannya, Rudi telah membayangkan bagaimana AI dapat membantu pekerjaan akuntan masa depan.

Rasa ingin tahu Rudi terhadap perkembangan teknologi sangatlah besar. Rudi tertantang dan tertarik soal AI saat mengikuti perkuliahan System Management.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Waktu itu kan masih muda, penuh dengan rasa ingin tahu, penuh dengan idealisme keilmuan, dan utamanya tertantang," tuturnya dikutip dari laman resmi FEB Unpad, Rabu (19/8/2026).

Kala belajar di kelas System Management, Rudi menemukan pembahasan singkat soal AI dan expert system. Pembahasan itu menyatakan AI adalah tingkatan yang paling canggih dari program komputer di masa depan, dari sanalah inspirasinya untuk menulis studi muncul.

ADVERTISEMENT

"Ada satu paragraf yang membahas selintas mengenai artificial intelligence, yang mengatakan bahwa pada masa depan tingkatan yang paling canggih dari program komputer adalah penggunaan artificial intelligence dan expert system," jelasnya.

Referensi Sedikit-Kerja Sama dengan Anak ITB

Tak seperti sekarang, referensi soal AI di awal 1990-an untuk bahan skripsi Rudi sangat terbatas. Untuk itu, tantangan terbesar dalam menyusun studi ini adalah sulitnya memperoleh literatur.

"Saya tidak menemukan referensinya di Bandung maupun Jakarta, karena sudah kepalang basah, saya mencari literatur ke Singapura dan mendapatkan dua sampai tiga buku yang saya perlukan," kenang Rudi.

Dalam skripsi itu, Rudi mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk membantu proses pengambilan keputusan dalam pemeriksaan piutang. Ia meyakini ketika data yang tersedia lengkap, kualitas informasi AI yang dihasilkan akan baik.

"Saya meyakini jika data besar dan lengkap, maka proses pengolahan informasi akan lebih lengkap, lebih akurat, dan mengurangi human error. Semakin banyak data maka akan semakin pintar dan akurat," jelasnya.

Tak sendiri, dalam pembuatan program tersebut, Rudi dibantu oleh teman kosnya yang merupakan mahasiswa Teknik Industri ITB. Bersama-sama mereka mengembangkan program komputer sederhana menggunakan perangkat lunak Clipper Summer '87.

Program tersebut fokus pada proses pemilihan sampel pemeriksaan piutang. Rudi menyakini, program buatannya saat itu masih bisa diperdebatkan dengan definisi AI saat ini, tetapi ia mengistilahkannya sebagai 'embrio AI'.

"Dikaitkan dengan AI dengan definisi saat ini tentu akan debatable. Program tersebut lebih tepatnya embrio atau cikal-bakal AI," ujarnya.

Kendati demikian, gagasan dasarnya mirip dengan AI modern. Gagasan yang dimaksud adalah pemanfaatan data dan sistem komputer untuk membantu proses pengambilan keputusan manusia.

Viral 34 Tahun Kemudian

Kini viral, Rudi menyebut tujuan utama skripsinya bukan menciptakan teknologi. Kala itu, ia ingin menyampaikan gagasan besar lewat contoh yang sederhana, dan berharap bisa dipahami pembacanya.

Lebih dari tiga dekade kemudian, tepatnya 34 tahun di waktu AI telah berkembang pesat, karya Rudi viral. FEB Unpad mengapresiasi Rudi dan menyatakan bila semangat untuk berpikir visioner dan melampau zaman bisa tumbuh di lingkungan kampus.

"Apa yang pada 1992 masih berupa gagasan dan embrio pemikiran, kini telah berkembang menjadi teknologi yang mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan," ungkap FEB Unpad.

Apresiasi serupa datang dari Ikatan Alumni FEB Unpad. Mereka menyatakan di tengah keterbatasan teknologi saat itu, Rudi telah membuktikan bila daya kritis dan ide besar sanggup menembus batas zaman.

"Apresiasi setinggi-tingginya untuk Kang Rudi Fajar, karya ini menjadi kebanggaan sekaligus pengingat bagi kita semua untuk selalu berani berinovasi dan berpikir jauh ke depan," tulis IKA FEB Unpad dikutup dari postingan Instagram resminya.



(det/nah)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads