Mahasiswa Unair Usul 3 Pilar Penguatan Sekolah Rakyat, Antarkan Jadi Juara Esai

ADVERTISEMENT

Mahasiswa Unair Usul 3 Pilar Penguatan Sekolah Rakyat, Antarkan Jadi Juara Esai

Novia Aisyah - detikEdu
Minggu, 02 Agu 2026 08:00 WIB
Mahasiswa Unair Usul 3 Pilar Penguatan Sekolah Rakyat
Mahasiswa Unair Usul 3 Pilar Penguatan Sekolah Rakyat. Foto: Universitas Airlangga
Jakarta -

Berawal dari keprihatinan terhadap implementasi awal Sekolah Rakyat, mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Daniel Trisakusumo memenangkan kejuaraan esai dengan karyanya yang bertajuk "Membebaskan Sekolah Rakyat dari Operational Gridlock: Formulasi Trilogi sebagai Manifesto Gerakan Pemuda".

Daniel meraih juara III dalam kompetisi Gema Literasi Nasional 2026 yang diselenggaakan BEM Kampus II Institut Agama Islam Syaichona Mohammad Cholil (INSYA) Bangkalan. Apa yang dibahas Daniel dan solusi yang ditawarkannya untuk implementasi Sekolah Rakyat?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Identifikasi Kesenjangan Tujuan dan Realisasi Sekolah Rakyat

Daniel mengidentifikasi adanya kesenjangan antara tujuan kebijakan Sekolah Rakyat dengan realisasinya di lapangan, yang berdampak pada ketidaksiapan sistem. Dalam esainya, ia menyebut kondisi ini sebagai operational gridlock, yakni kebuntuan operasional yang muncul disebabkan implementasi program yang lebih cepat daripada kesiapan tata kelola, sumber daya manusia, ataupun regulasinya.

Untuk mengatasi kebuntuan itu, ia merumuskan tiga pilar strategis Formulasi Trilogi. Pilar tersebut di antaranya:

ADVERTISEMENT
  1. Peer Mentorship: Pelibatan mahasiswa sebagai pendamping psikososial dan sarana penguatan kaderisasi guru lokal.
  2. Platform Civic-Tech Kawal Sekolah Rakyat: Sebagai sistem pengawasan partisipatif berbasis teknologi untuk menjamin transparansi program.
  3. Rekonstruksi Kurikulum Vokasi Kontekstual: Menyelaraskan pendidikan dengan potensi ekonomi daerah supaya lulusannya punya keterampilan relevan.

"Ketiga pilar tersebut dirancang saling melengkapi untuk memperkuat keberlanjutan Program Sekolah Rakyat secara holistik," ungkapnya, dikutip dari laman Unair.

Berharap Bisa Jadi Rujukan Kebijakan Sekolah Rakyat

Daniel semula berencana mengkaji isu gerakan mahasiswa dalam menjaga demokrasi. Akan tetapi, pengamatannya terhadap isu nasional kemudian mengalihkan perhatiannya pada tantangan program Sekolah Rakyat, contohnya pengunduran diri guru hingga adaptasi siswa dalam sistem asrama. Dari situlah Daniel menyadari peran kritis pemuda bisa terwujud dalam bentuk problem solving.

"Saya ingin menunjukkan bahwa gerakan pemuda pada era sekarang dapat terwujud melalui kontribusi nyata dan konstruktif sebagai problem solver. Gerakan mahasiswa bukan hanya tentang menyuarakan aspirasi, tetapi juga menghadirkan solusi konkret yang berdampak langsung bagi masyarakat," ungkapnya.

Tantangan utama yang ia hadapi Daniel dalam kegiatan ini adalah menyusun kritik objektif di tengah keterbatasan data sekunder. Meski begitu, hal ini justru kian menekankan pentingnya riset komprehensif berbasis data.

Daniel berharap Formulasi Trilogi bisa menjadi rujukan kebijakan Sekolah Rakyat dan menjadi pemantik mahasiswa Unair untuk berani berkarya.

"Tantangan data mengajarkan saya pentingnya riset yang kuat. Jangan takut ikut lomba walau belum berpengalaman. Mulailah dari isu yang terdekat dan tawarkan solusi orisinal karena menulis esai adalah sarana memberi kontribusi nyata bagi masyarakat," ucapnya.



(nah/twu)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads