Media sosial kembali digegerkan oleh viralnya foto-foto satwa kurus yang diduga tinggal di Kebun Binatang Surabaya (KBS). Foto ini muncul di tengah kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan KBS oleh mantan Direktur Utama (Dirut) Choirul Anwar.
Kasus dugaan korupsi itu berkaitan dengan pengelolaan keuangan KBS periode 2016-2024, di mana dana pakan satwa diselewengkan. Kasus itu disebut merugikan negara hingga Rp 10,2 miliar.
Melihat hal tersebut, pakar sekaligus dosen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata IPB University Abdul Haris beri pendapat. Ia menyebut penyalahgunaan anggaran pakan dapat menimbulkan dampak berantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dampak yang dimaksud berkaitan dengan kesehatan satwa, kesejahteraan hewan, hingga keberhasilan program konservasi. Sama seperti manusia, hewan juga bisa merasakan lapar haus dan stres, sehingga lembaga konservasi wajib memiliki pendanaan yang cukup.
"Penyalahgunaan anggaran pakan satwa bukan sekedar persoalan administrasi, melainkan persoalan moral. Satwa juga merasakan lapar, haus, dan stres. Karena itu, lembaga konservasi harus memiliki pendanaan yang cukup dan berkelanjutan agar kesejahteraan satwa tetap terjamin," tuturnya dikutip dari laman IPB University, Rabu (29/7/2026).
Pengelolaan Pakan Harus Sesuai Kebutuhan Biologis Spesies
Lembaga konservasi seperti KBS memiliki peran penting sebagai sarana penelitian, pendidikan, dan peningkatan kesadaran masyarakat, terutama untuk menyebarkan kepedulian tentang pentingnya pelestarian satwa.
Ketika tinggal di kebun binatang, satwa menghadapi kondisi berbeda dibanding habitat alaminya. Haris menyebut mereka mengalami dua tekanan ketika tinggal di dalam kandang, yaitu:
1. Keterbatasan Makanan dan Minuman
Tekanan pertama berkaitan dengan keterbatasan makanan dan minuman. Jika anggaran pakan bermasalah, kualitas dan kuantitas makanan yang diterima satwa akan menurun.
Di habitat alaminya, satwa bisa memperoleh variasi makanan yang jauh lebih beragam, dengan begitu kebutuhan nutrisinya bisa terpenuhi secara seimbang. Namun, ketika di kandang satwa bergantung pada pakan yang disediakan pengelola, sehingga kecukupan nutrisi sangat bergantung pada kualitas manajemen serta ketersediaan anggaran.
Haris menekankan pengelolaan pakan harus mengacu pada kebutuhan biologis setiap sepesies. Satwa herbivora membutuhkan pakan hijau sekitar 8-12 persen dari bobot tubuhnya setiap hari.
Sedangkan, harimau sumatra sebagai satwa hiperkarnivora memerlukan sekitar 6-7 kilogram daging per hari. Jumlah ini disebut sekitar 5-6 persen dari bobot tubuhnya.
2. Keterbatasan Gerak
Tekanan kedua yang dihadapi satwa adalah kondisi kandang menurut Haris kerap belum memenuhi prinsip kesejahteraan hewan. Mereka harus beradaptasi dengan ruang gerak yang terbatas, sehingga rentan mengalami stres.
Berdampak Pada Reproduksi
Haris juga mengingatkan ancaman timbulnya dampak yang berkaitan dengan kemampuan reproduksi satwa karena kekurangan nutrisi. Baik hewan jantan, betina, maupun indukan bisa terancam hal ini.
"Induk yang mengalami malnutrisi berisiko menghasilkan keturunan dengan kondisi kesehatan yang kurang optimal. Kondisi tersebut dapat membentuk siklus penurunan kualitas populasi satwa yang lahir dan dibesarkan di dalam penangkaran," tegasnya.
Lepas Liar Bukan Solusi
Meskipun menghadapi banyak tantangan, Haris menjelaskan lepas liar satwa hasil penangkaran bukanlah solusi. Mereka umumnya akan menghadapi tantangan besar apabila dilepasliarkan ke habitat aslinya.
Ketika tinggal di penangkaran, hewan telah bergantung dengan manusia untuk memperoleh makanan. Proses ini membuat kemampuan beradaptasi dan bersaing mereka dengan satwa liar menjadi rendah.
"Selain memerlukan biaya rehabilitasi yang tinggi, pelepasliaran yang tidak tepat juga berpotensi memengaruhi kualitas genetik populasi di alam yang telah beradaptasi dengan habitat aslinya," tandas Haris.
Kondisi Hewan di KBS Saat Ini
Direktur Operasional dan Umum Perumda KBS Nurika Widyasanti memberikan penjelasan terkait viralnya foto satwa KBS di media sosial. Ia menyebut, sebagian foto tersebut merupakan dokumentasi lama sebelum KBS dikelola oleh Perusahaan Umum Daerah (Perumda).
Foto yang beredar adalah Melani, harimau Sumatera pada 2013, Bety orang utan yang mati akibat penyakit paru-paru pada 2013, Beno beruang grizzly yang mengalami tumor kulit pada 2010, dan Dumbo gajah yang mati pada 2021 karena elephant herpesvirus.
"Jadi kalau untuk satwa-satwa yang saya lihat di gambar sebelumnya, seperti Melani, Bety, Beno atau siapa lagi ya ada beberapa satwa yang gambar itu merupakan gambar lama. Dan merupakan satwa kurang lebih di saat itu belum dalam pengelolaan Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya," kata Nurika dikutip dari detikJatim.
Berdasarkan pantauan detikJatim terbaru, sejumlah satwa seperti harimau, singa, gajah, orang utan, jerapah, hingga monyet di KBS dalam kondisi sehat dan tidak terlihat kurus.
Nurika juga menegaskan pihaknya memastikan seluruh indikator kesejahteraan satwa, baik itu pemberian pakan, pemeriksaan kesehatan, pemeliharaan rutin, hingga pengayaan lingkungan. Pemberian pakan juga dilakukan secara rutin sesuai karakteristik setiap spesies.










































