Awalnya Iseng Mendaftar, Dosen Kampus Ini Lolos S3 di Amerika dan Jadi Asdos

ADVERTISEMENT

Awalnya Iseng Mendaftar, Dosen Kampus Ini Lolos S3 di Amerika dan Jadi Asdos

Fahri Zulfikar - detikEdu
Rabu, 29 Jul 2026 15:45 WIB
Dosen Universitas Syiah Kuala (USK), Nani Safuni, tak menyangka dirinya diterima dalam program PhD di University of Rhode Island (URI), Amerika Serikat.
Foto: Universitas Syiah Kuala/Dosen Universitas Syiah Kuala (USK), Nani Safuni, tak menyangka dirinya diterima dalam program PhD di University of Rhode Island (URI), Amerika Serikat.
Jakarta -

Kesempatan bisa datang dari mana saja, termasuk dari sebuah keisengan. Hal ini dialami oleh dosen Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala (USK), Nani Safuni, yang diterima di University of Rhode Island (URI), Amerika Serikat.

Nani, sapaannya, tak menyangka bahwa ia akan diterima kuliah S3 di AS. Meski ia adalah seorang dosen lulusan Master of Nursing di Flinders University, Australia, ia masih merasa kurang percaya diri.

Sampai akhirnya ia nekat mencoba mendaftar ke sebuah program pendampingan dosen dan berujung diterima di University of Rhode Island. Simak kisah selengkapnya di bawah ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berawal dari Kerja Sama Antarkampus

USK pernah bekerja sama dalam sebuah program sosialisasi dengan University of Rhode Island. Program tersebut mencakup pengujian kompetensi bahasa Inggris di lingkungan akademik.

Kegiatan berlanjut dengan tim URI yang mengundang para dosen untuk mengikuti sesi pendampingan pengisian aplikasi demi mendapatkan Letter of Acceptance (LoA). Nani pun tak siap untuk sesi lanjutan ini karena dokumen bahasa Inggrisnya masih belum siap.

ADVERTISEMENT

Ia pun merampungkannya di rumah. Selang beberapa minggu, ia justru tak menyangka ada email masuk yang menyatakan bahwa ia diterima di program PhD di College of Nursing.

Alih-alih langsung merespons, Nani justru sempat membiarkan email tersebut. Sebab ia paham betul bahwa untuk lanjut S3 di AS perlu ketersediaan dana yang tak sedikit. Apalagi, dia diterima tanpa beasiswa dari institusi atau negara.

Butuh Waktu hingga 3 Bulan

Sampai tiga bulan lamanya, Nani tak merespons email tersebut. Namun, ada momen nuraninya bergejolak karena ia merasa kesempatan adalah bagian dari rezeki. Ia juga merasa banyak orang ingin mendapat kesempatan yang dimilikinya.

Pada akhirnya, Nani memberanikan diri membalas email dari University of Rhode Island. Ia mengakui tidak punya biaya sepersen pun dan berterima kasih karena pihak URI sudah menerbitkan student ID.

Tak disangka, respons kampus URI justru membuat Nani terkejut. Pihak URI membuka skema Assistance Scholarship dengan syarat Nani harus bersedia mengambil posisi sebagai Teaching Assistant (TA) atau asisten dosen di College of Nursing URI.

Ia masih ingat, awalnya hanya iseng mendaftar sesi program dengan URI dan kini justru diterima menjadi asisten dosen. Terlebih, dia juga merasa masih mengalami 'jetlag' dari studi S2 yang sudah lama.

"Tentu saja saya terkejut dengan penawaran tersebut. Sejujurnya, saya hanya iseng saja mengirim aplikasi beasiswa ke URI karena mengalami 'jetlag' studi yang lama," ujar Nani.

Dengan skema ini, Nani diwajibkan bekerja antara 10 hingga 30 jam per minggu. Sebagai imbalannya, perguruan tinggi memberikan honor layak untuk menutupi seluruh biaya operasional seperti akomodasi, transportasi, buku, hingga kebutuhan hidup sehari-hari di Rhode Island.

"Saya membayangkan jika hari itu saya tidak melengkapi pengisian aplikasi, mungkin sampai saat ini saya tidak akan pernah menginjakkan kaki di negeri Paman Sam," tuturnya.



(faz/pal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads