Kisah Rani, Bisa Lolos UGM Meski Belajar untuk Ujian di Rumah Sakit

ADVERTISEMENT

Kisah Rani, Bisa Lolos UGM Meski Belajar untuk Ujian di Rumah Sakit

Cicin Yulianti - detikEdu
Sabtu, 25 Jul 2026 09:00 WIB
Perjuangan Rani tembus UGM harus menjalani belajar jelang ujian di rumah sakit
Perjuangan Rani tembus UGM harus menjalani belajar jelang ujian di rumah sakit. Foto: UGM
Jakarta -

Ruang rumah sakit bukanlah tempat yang ideal untuk belajar. Namun, pengalaman belajar keras di rumah sakit harus dilakonin oleh Francisca Rani Indira.

Kala itu, sang ayah terbaring sakit sehingga ia harus menemaninya. Padahal, Rani harus fokus belajar persiapan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK).

"Waktu itu bapak dirawat di rumah sakit, jadi buat belajar juga susah fokus. Setelah nggak keterima SNBT, aku langsung belajar lagi buat UM UGM," ujarnya dikutip dari laman UGM, Jumat (24/7/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ditinggal Ayah dan Harus Tetap Bangkit

Setelah beberapa hari menemani sang ayah terbaring di rumah sakit, Rani harus mendapati kenyataan pahit. Sang ayah wafat pada waktu menjelang 11 hari ujian.

ADVERTISEMENT

Di tengah suasana duka, Rani memaksakan diri untuk tetap belajar. Bahkan, ia mengulik soal-soal di perpustakaan daerah sampai larut malam.

"Aku seringnya belajar di Perpusda. Selama sekitar 11 hari aku mengerjakan 100 sampai 200 soal setiap hari," kenangnya.

Mimpi Rani akhirnyaa terwujud, ia lolos di Program Studi Manajemen dan Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM lewat jalur UM UGM CBT.

Kini Berjuang untuk Sang Ibu

Fakta pahit lainnya adalah, kini sang ibu menjadi single parent dan tulang punggul keluarga Rani. Sosok ibunya yakni Yuani berjualan keripik tempe sehari-hari.

Kondisi tersebut menjadi motivasi baru bagi Rani untuk terus berjalan. Besar harapan, Rani bisa mewujudkan mimpinya dan lulus sebagai penyelamat ekonomi keluarga.

"Aku pengen banget ngebahagiain ibu karena sekarang tinggal punya ibu. Terus bapak juga dulu pengen banget anaknya bisa masuk UGM. Bapak yang dari dulu mengantar aku sekolah, menemani ambil rapor, sampai menyemangati aku dalam belajar," ungkapnya.

Di tengah rasa was-was tentang pembiayaan kuliah, beruntung Rani mendapat beasiswa Uang Kuliah Tunggal (UKT) hingga 100% atau kuliah gratis di UGM.

Dari zaman sekolah, Yuani dan suami tak pernah memadamkan semangat Rani dalam mengejar pendidikan tinggi. Walau belum ada biaya, mereka terus mendorong Rani untuk foks belajar dahulu.

Rani juga merupakan sosok yang gigih dan aktif ikut banyak kegiatan. Ia aktif dalam ekskul PMR dan kelompok riset di sekolahnya.

"Semoga diberikan kelancaran kuliahnya, dipermudah urusannya. Rajin belajar ya, nak, biar orang tua juga semangat," pungkas Yuani.



(cyu/nwk)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Ranking PTN

Berikut daftar 5 Perguruan Tinggi terbaik Indonesia
Hide Ads