Matematika menjadi salah satu mata pelajaran (mapel) yang kerap dihindari para siswa. Salah satu alasannya karena kerumitan materi, rumus, banyaknya angka, bahkan ada bagian tanpa angka sama sekali dalam mapel itu.
Oleh karena itu, guru zaman now diharuskan bisa beradaptasi dan menciptakan langkah kreatif untuk menghadapi momok matematika. Salah satu sosok yang berhasil menciptakan cara belajar matematika yang menarik adalah Erika Dewi Agustin, alumnus Universitas Negeri Surabaya (Unesa).
Tak pernah terpikirkan sebelumnya, Erika berhasil 'mengawinkan' mematikan dengan seni budaya. Ia memanfaatkan kelenturan pola lantai dan gerakan tangan Tari Kembang Kahyangan untuk mempelajari matematika materi konsep geometri. Kok bisa?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Etnomatematika = Perpaduan Seni Tari dan Matematika
Hasil kreasi Erika dikenal dengan media pembelajaran etnomatematika. Etnomatematika dirancang khusus untuk membantu siswa kelas 2 SD mudah memahami konsep geometri.
Ide awal menggabungkan kesenian tradisional asal Kabupaten Bojonegoro dengan matematika ini muncul usai ia berbincang dengan murid SD di Bojonegoro. Isi perbincangan itu menyatakan bila generasi muda Bojonegoro mulai asing dengan Tari Kembang Kahyangan.
Padahal, tarian itu merupakan warisan budaya daerah mereka sendiri. Hal ini membuatnya resah lalu dituangkan dalam karya ilmiah seperti yang dikutip dari laman resmi Unesa, Jumat (17/7/2026).
Sebelum menempuh studi di Unesa, Erika merupakan lulusan SMK dengan jurusan rekayasa perangkat lunak (RPL). Latar belakang teknologi ini membantunya menyulap dan merancang media pembelajaran SD yang adaptif di era digital.
Kreativitas yang dimiliki Erika berbuah manis. Berkat pendekatan budaya yang ada di studinya, artikel ilmiah Erika sukses menembus jurnal nasional terakreditasi Sinta 2.
Pencapaian ini juga mengantarkannya lulus tanpa jalur skripsi konvensional dan dinobatkan sebagai wisudawan terbaik Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Unesa dengan IPK 3,98!
Putri Tunggal Anak Petani, Penjaga Asa Keluarga
Keluarga menjadi salah satu mesin semangat yang dimiliki Erika. Ia diketahui lahir dari keluarga sederhana, di mana sang ayah, Ponco, berprofesi sebagai petani dan ibundanya Nyami Muharti seorang ibu rumah tangga.
Erika merupakan anak tunggal yang tumbuh dengan modal kedisiplinan tinggi. Kedisiplinan itu ia bawa sampai jenjang kuliah, di mana Erika selalu konsisten belajar dengan cara mencicil tugas jauh sebelum tenggat waktu.
Sebagai anak tunggal, ia merupakan penjaga asa keluarga. Setiap perjuangan dan keringat orang tuanya, menjadi pengingat Erika untuk memberikan hasil terbaik dan benar-benar terbukti.
Kini, ia resmi menyandang gelar sarjana. Bekal selama perkuliahan dan pengalaman mengikuti Program Pertukaran Mahasiswa serta Program Surabaya Mengajar (PSM) siap diterapkan di dunia nyata sebagai guru SD.
Unesa juga mengapresiasi prestasi Erika. Menurut Unesa, perjalanan studi Erika mengirimkan pesan kuat agar mahasiswa berani mendobrak sekat ruang belajar.
"Ketika sebuah impian dikejar dengan totalitas, rumus matematika yang rumit pun bisa diubah menjadi untaian prestasi yang melestarikan budaya bangsa," tulis Unesa.










































